Profile photo of david47e

PENGGUNAAN SISTEM INFORMASI PADA TESCO : HOMEPLUS

PENGGUNAAN SISTEM INFORMASI PADA
TESCO : HOMEPLUS

 

oleh:

                            1.David Nathanael S.                P056131624.47E

                            2. Dian Nurhadiatin                  P056131662.47E

                            3. Eri Septyawardani                P056131702.47E

                            4. Faldy Baskoro                       P056131712.47E

                            5. Purwantoro                           P056131852.47E

                            6. Tyastuti Rahayu                    P056131902.47E

                            7. Viga Fakoano                        P056131912.47E

 

Dosen Pengajar : Dr. Ir. Arif Imam Suroso, MSc

 

Program Studi Pascasarjana

Magister Manajemen Bisnis

Institut Pertanian Bogor

Januari, 2014


BAB I

 PENDAHULUAN

 

 

1.1 Latar Belakang

Pada saat ini, segala aspek kehidupan telah mampu berkembang dengan pesatnya, perkembangan tersebut beriringan pula dengan perkembangan masyarakat dari masyarakat yang tradisional ke masyarakat yang modern. Secara otomatis perkembangan tersebut menuntut masyarakat ke arah globalisasi. Kebutuhan manusia semakin meningkat, akan tetapi manusia dituntut untuk dapat memenuhi segala macam kebutuhannya dalam waktu yang cepat sehingga dapat mengefisienkan waktu yang dimilikinya. Salah satu alat yang dapat mempermudah kehidupan manusia adalah teknologi informasi dan komunikasi.

Teknologi informasi dan komunikasi saat ini telah berkembang pesat. Internet merupakan salah satu teknologi informasi dan komunikasi. Banyak hal baru yang timbul dari berkembangnya internet, salah satunya adalah pembelian atau penjualan barang atau jasa secara online. Berbelanja barang atau jasa secara online telah menjadi alternatif untuk memenuhi kebutuhan manusia yang ingin serba praktis dan cepat. Sedangkan bagi penjual media online memberikan keuntungan berupa kesempatan pemasaran menjadi lebih luas dan efisien.Penjualan secara online berkembang baik dari segi pelayanan, efektifitas, keamanan, dan juga popularitas. Pertimbangan dunia bisnis saat ini perusahaan menggunakan internet sebagai cara untuk menjangkau pelanggan secara global.

Menurut data yang diriliseMarketer pada Juni 2013, pertumbuhan nilai transaksi e-commerce di dunia 2 Milyar dollar Amerika. Pada tahun 2012 nilai transaksi sebesar $ 1,042.98 dan meningkat sebesar $ 1,221.29 pada tahun 2013. Bisnise-commerce merupakan model bisnis yang tidak memerlukan investasi besar baik di awal maupun operasionalnya.

E-commerce semakin berkembang dikarenakan berkembangnya teknologi informasi. Saat ini dengan konektivitas internet dan menjamurnya perangkat elektronik yang memiliki kemampuan untuk melakukan transaksi elektronik, maka melakukan online shop bukanlah sesuatu yang asing.

 

 

1.2 Tujuan

Tujuan penulisan makalah ini adalah:

1. Mengetahui sistem teknologi informasi yang digunakan dalam Perusahaan TESCO.

2.  Mengetahui competetive forces pada Homeplus& strategi penyelesaiannya.

 

1.3 Perumusan Masalah

1. Bagaimanakah sistem informasi yang digunakan pada Homeplus?

2. Bagaimana analisis SWOT, value change, dan strategi Homeplus?

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1 QR Code

QR Code (Quick Response Code), merupakan sebuah barcode 2 dimensi yang digunakan untuk menyimpan informasi di setiap item barang. Informasi yang terdapat didalam QR Code dapat menyimpan data seperti; huruf, angka, dan binari. Sistem ini telah banyak dipakai oleh perusahaan karena kemampuannya yang dapat menyimpan informasi 10 kali lebih banyak dari pada barcode standar, dan mudah digunakannya dalam kehidupan sehari–hari. Saat ini telah banyak berkembang dengan cepat mengenai penggunaan QR Code dalam periklanan di media, terutama telepon genggam. Seiring berkembangnya industri telekomunikasi dan telepon genggam, menjadi katalis bagi penggunaan QR Code. Para pengguna hanya mengunduh decoder QR code dan bisa mendapatkan informasi dengan cara memindai. Hal ini mempermudah tim marketing dalam hal mengimplementasikan sistem pengkodean data di periklanan, dan mendorong para konsumen untuk memindai iklan tersebut.

Berikutnya, ada beberapa karakteristik yang mendorong QR Code dapat dijadikan media iklan suatu barang.  QR Code dapat dengan mudah untuk dipindai dalam 360 derajat, sehingga memudahkan pihak produsen dan konsumen. Pihak konsumen diuntungkan dengan kenyamanan dalam penggunaan dan seiring dengan itu pihak produsen dapat keuntungan dari proporsi konversi (menaikan jumlah peluang ketika konsumen memindai suatu iklan, menjadi transaksi penjualan).

 

2.1.1    PenggunaanQR Code

QR Code dapat digunakan oleh semua sistem operasi perangkat telpon seperti; iOS, android, blackberry, dan windows phone. Berikutnya, perkembangan yang pesat dalam penggunaan QR Code dapat  dilihat dalam toko virtual dan kode pembayaran. Pada toko virtual, berdasarkan studi kasus, terdapat lebih dari 14 juta pengguna telpon genggam yang menggunakan pemindai QR Code. Hal ini menjadi alasan bagi retailer untuk mengadopsi sistem tersebut. Pada kode pembayaran, QR Code dapat digunakan untuk menyimpan informasi akun perbankan dan dapat digunakan untuk transaksi pembayaran (Singh and Bamoriya 2013).

 

2.2 E-commerce

Electronic Commerce atau biasa disebut dengan e-commerce, telah berkembang pesat dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir ini. E-commerce memudahkan produsen untuk memasarkan barang kepada pasar, karena menggunakan tehnologi internet (Tahat 2005). Hal ini memungkinkan bagi para produsen dan konsumen untuk melakukan transaksi tanpa harus bertemu secara fisik.  Menurut Laudon & Laudon (1998), e-commerce adalah suatu proses membeli dan menjual produk–produk secara elektronik oleh konsumen dan dari perusahaan ke perusahaan dengan komputer sebagai perantara transaksi bisnis.

Menurut David Baum (1999, pp. 36-34) yang diterjemahkan oleh Onno W. Purbo (2001), e-commerce merupakan satu set dinamis teknologi, aplikasi, dan proses bisnis yang menghubungkan perusahaan, konsumen, dan komunitas tertentu melalui transaksi elektronik dan perdagangan barang, pelayanan, dan informasi yang dilakukan secara elektronik. Sedangkan menurut Robert (2005), e-commerce merupakan suatu tindakan melakukan transaksi bisnis secara elektronik dengan menggunakan internet sebagai media komunikasi yang paling utama.

Pada website ECARM (The Society For Electronic Commerce And Rights Management) dijelaskan bahwa e-commerce secara umum menunjukkan seluruh bentuk transaksi yang berhubungan dengan aktifitas-aktifitas perdagangan, termasuk organisasi dan perorangan yang berdasarkan pada pemrosesan dan transmisi data dijital termasuk teks, suara, dan gambar-gambar visual.Perangkat yang diperlukan untuk mendukung e-commerce adalah komputer, telepon genggam, atau device yang dapat terhubung dengan World Wide Web.

Berdasarkan artikel Eurostat (2013), perkembangan e-commerce telah mendukung proses penjualan bagi produsen secara signifikan di negara berkembang dan negara maju. E-commerce mampu menaikan tingkat penjualan dari 20-30%. Hal ini membuktikan, bahwa e-commerce menjadi alat yang efektif dan efisien untuk menunjang proses transaksi bagi berbagai perusahaan. Terdapat 4 kelompok e-commerce, yaitu: Business to Business, Business to Consumer, Business to Government, dan Consumer to Consumer.

 

2.2.1    Business to Business

Business to Business adalah proses e-commerce antara perusahaan dengan perusahaan. Hal ini memungkinkan perusahaan untuk mendesain supply chain yang lebih efektif dan efisien, seringkali proses ini berkaitan dengan barang mentah yang akan diproduksi oleh suatu perusahaan. Sebagai contoh dari B2B adalah transaksi antara distributor dengan retailer.

 

2.2.2    Business to Consumer

Business to Consumer adalah proses e-commerce yang memfasilitasi konsumen untuk mengetahui produk produk yang dijual oleh pihak produsen berikut dengan informasi mengenai produk tersebut. Saat ini e-commerce B2C telah banyak digunakan oleh para pihak retailer untuk mendapatkan potensi market yang lebih besar.

 

2.2.3    Business to Government

Business to Government memiliki persamaan dengan B2B. Perbedaan dari B2B adalah pada business to government, para produsen memberikan informasi mengenai perusahaan tersebut berikut dengan informasi produk kepada pemerintah dari level pemerintah daerah sampai dengan pemerintah pusat.

 

2.2.4    Consumer to Consumer

Consumer to Consumer merupakan salah satu dari e-commerce yang memfasilitasi pihak konsumen dengan konsumen untuk terjadinya proses jual beli barang di internet. Domain pada salah satu internet hanya menjadi media tempat bertemunya para konsumen yang ingin menjual barang, sehingga konsumen dapat memilih suatu barang dari beberapa konsumen yang menjual. Cara ini telah banyak dilakukan oleh beberapa pihak, sebagai contoh yang paling tenar adalah Ebay.

 

2.2.5    Transaksi Pembayaran e-Commerce

Menurut Julizvar (1998), konsultan dari Hewlett Packard (HP) Indonesia untuk terciptanya sistem pembayaran via internet memang dibutuhkan kesepakatan berbagai pihak, terutama dari pihak lembaga keuangan, merchant dan konsumen. Pihak-pihak lainnya yang biasanya terlibat untuk mendukung sistem pembayaran internet adalah penyedia sertifikat digital, baik untuk Visa (misalnya VeriSign) maupun MasterCard (misalnya GTE) dan perusahaan pemroses transaksi kartu kredit.

Metode Three Party Payment System atau disebut juga verifikasi pihak ketiga, yaitu terdapat pihak ketiga yang berfungsi sebagai tempat atau gerbang pembayaran (payment gateway).Cara kerjanya yaitu cardholder memberikan informasi credit cardkepada pihak ketiga dan payment gateway akan melakukan otorisasi lalu mengirimkan hasil otorisasi berupa suatu kode kepada merchant, kemudian merchant akan mengirimkan barang kepada pembeli (cardholder). Salah satu contoh adalah menggunakan SET (Secure Electronic Transaction).

 


BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

3.1 Profil Perusahaan

Homeplus adalah perusahaan ritel yang berasal dari Korea. Homeplus adalah anak perusahaan dari Tesco, sebuah perusahaan ritel yang berasal dari Inggris. Homeplus adalah perusahaan ritel terbesar kedua setelah Grup Shingsegae.

 

3.2 Bisnis Perusahaan

       Homeplus beroperasi dengan mengambil konsep hypermart dan sistem belanja online. Dengan kata lain, Homeplus menyediakan berbagai kebutuhan masyarakat dengan sistem pengantaran kerumah. Jadi, konsumen tidak perlu membawa barang belanjaan secara fisik, tapi cukup memilih barang dan menunggu barang tersebut diantar ke tempat tujuan.

Homeplus menyediakan berbagai kebutuhan rumah tangga, seperti pakaian, elektronik dan barang-barang pendukung lainnya. Mereka juga menjual barang-barang seperti makanan cepat saji, tiket-tiket perjalanan wisata, obat-obatan atau bahkan buku-buku bacaan. Homeplus memang ingin membuat sebuah hypermart yang menyediakan berbagai kebutuhan dengan sistem online.

Pada tahun 2011, Homeplus membuka supermarket virtual yang pertama di dunia di Stasiun Seolleung dan jaringan kereta bawah tanah kota Seoul. Disebut virtual karena konsumen cukup memfoto QR code barang yang ingin dibeli yang tertera di dinding atau platforms ditempat yang disediakan. Konsumen cukup menunggu barang yang dibeli tadi dirumah dan akan diantar di hari yang sama.

 

3.3 Sistem Informasi Perusahaan

 

3.3.1    Stakeholder

Sebagai sebuah entitas, perusahaan ini melibatkan stakeholder yang turut mendukung jalannya bisnis ini. Keterlibatan stakeholder ini mulai dari produsen, pemasok sampai ke pelanggan. Secara singkat akan dijelaskan stakeholder yang terlibat seperti di bawah ini:

–    Produsen; sebagai pemasok langsung untuk produk-produk yang bisa secara langsung dapat di beli tanpa melalui distributor produk tersebut.

–    Suplier/distributor; sebagai pemasok untuk produk yang proses pembeliannya tidak bisa langsung ke produsen dan haarus melalui jaringan distribusi yang ditunjuk untuk menjual produknya dari produsen. Seperti diketahui,supplier dari bisnis ritel atau convenience store adalah berbagai perusahaan yang memproduksi atau mendistribusikan komoditas pertanian, seperti buah-buahan dan sayur-sayuran.

–    Perusahaan distribusi dan logistik; yang menjalankan supply chain. Stakeholder ini akan menjadi partner utama dalam menjalankan pengangkutan pasokan barang dan management suply chain sekaligus untuk malakukan pengiriman pesanan ke pelanggan.

–    Penyelenggara system komunikasi; stakeholder ini menyelenggarakan jasa telekomunikasi dan pertukaran informasi untuk melakukan transaksi bisnis virtual ini. Ada beberapa provider yang akan terlibat misalnya penyelenggara sistem komunikasi handheld (handphone) sebagai interface yang menghubungkan pelengan dengan perusahaan virtual shop online.

– Penyelenggara komunikasi digital(internet provider); berpartisipasi dalam penyelenggaraan bisnis ini mulai dari penerimaan order dari pelanggan, pembayaran online, pengelolaan pengadaan barang dan dan distribusi barang.

–    Bank; proses pembayaran online ini akan melibatkan bank sebagai pelaksana trasaksi keuangan sebagai komitmen setelah transaksi pembelian dilakukan. Bank juga akan perfungsi sebagai penjamin pemnbayaran ke suplier dan produsen.

–    Pelanggan; adalah target pasar yang akan membeli produk yang dipasarkan oleh perusahaan.Pelanggan dari sistem ini adalah individu. Kami khususkan lagi kustomer yang menjadi sasarannya adalah individu-individu yang sibuk, yang kurang memiliki waktu untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari.

 

3.3.2    Network

          Dalam menjalankan bisnisnya Homeplus yang mengemukanan sistem informasi sebagai infrastruktur utama mengunakan berbagai jenis layanan seperti dijelaskan dalam gambar berikut:

 

–       Intranet

Jaringan intranet digunakan untuk komunikasi antara main server dan gudang penyimpanan terdekat dengan pemesan atau kustomer. Ketika kustomer memesan barang, maka secara otomatis device kustomer akan mengirimkan specific customer number yang akan terbaca di main server sebagai data pesanan atau invoice. Main server akan menginfokan dan mengirimkan data pesanan kepada server di gudang yang terdekat dengan alamat pengiriman barang.

–       Extranet

Extranet dalam proses bisnis ini berguna untuk menghubungkan supplier dengan kustomer dan bank.Hubungan antara supplier dan toko ini dihubungkan oleh extranet yang berguna untuk melihat jumlah barang yang tersedia dalam setiap gudang. Dengan dukungan jaringan ini, maka kami sebagai pelaku bisnis tidak perlu memesan barang dengan menggunakan telpon lagi, tapi cukup order by web yang terintegrasi dengan supplier.Untuk kelancaran pembayaran, maka extranet ini berguna sebagai penghubung antar bank dan sistem informasi akuntansi kami. Dikarenakan sistem pembayarannya menggunakan sistem cashless, maka kustomer wajib memiliki minimal kartu debet dari bank yang bekerja sama dengan kami. Secara otomatis sistem akan mendebet tabungan kustomer dan akan mengkreditkan rekening perusahaan.

–       Internet

Internet dalam bisnis kami adalah jaringan utama yang menghubungkan antara perusahaan dengan kustomer. Tanpa internet, maka secara langsung perusahaan kami tidak akan memiliki kontak langsung dengan kustomer, yang artinya tidak akan ada penjualan.

 

 

Jaringan internet yang digunakan adalah jaringan seluler yang terhubung dengan mainserver kami. Kostumer menggunakan jaringan ini untuk memesan barang yang diinginkan dan internet akan secara langsung mengirimkan pesanan tersebut ke jaringan kami.

 

3.3.3    Teknologi

  1. Web

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, untuk jaringan pemesanan dalam bisnis Homeplus adalah dengan menggunakan jaringan selular. Konsumen cukup memfoto QC Code yang tertera dalam product catalog yang tersebar di tempat yang disediakan oleh Homeplus.

 

Kosumen akan memilih pesanan mereka dan akan memasukan daftar belanja mereka kedalam keranjang belanja secara virtual. Setelah melakukan verifikasi dan melakukan pembayaran secara debet tabungan atau menggunakan kartu kredit, maka secara otomatis pesanan tersebut akan terekam ke main server dan kemudian diteruskan kepada storage server yang kemudian akan diproses untuk dikirimkan kepada pemesan.

 

3.3.4        Benefit

  1. Core Company

Bagi Homeplus, tentunya sistem belanja QC code virtual shop ini sangat menguntungkan. Selain cara baru dalam berbelanja yang belum pernah ada sebelumnya di dunia, cara ini akan menghemat dari sisi pengeluaran tetap perusahaan. Maksudnya adalah dengan QC code virtual shop, Homeplus tidak perlu membangun toko disetiap pemukiman penduduk. Cukup dengan sistem pengantaran kerumah, kami sudah bisa melayani pelanggan. Tidak perlu lagi kami survei tempat untuk membangun toko, membayar tagihan-tagihan tetap bulanan, atau bahkan membangun toko itu sendiri.

Selain keuntungan dari segi fisik bangunan, sistem QC code virtual shop akan meningkatkan angka penjualan bagi perusahaan. Secara signifikan angka penjualan akan meningkat karena pelanggan bisa mengakses kegiatan jual beli dimana saja selama tersedia catalog dan perangkat handphone.

Bisnis e-commerce yang dikembangkan ini sesuai dengan target market yang di buat dan pengguna yang akan menjadi calon pembeli produk yang kita tawarkan. Dari analisa rantai nilai (value chain analysis) dapat di definisikan benefit yang akan diterima oleh perusahaan dengan menjalankan bisnis ini.

1. Revenue, dalam skala bisnis keuntungan dapat di ambil dari berbagai rantai yang terjadi selama bisnis ini berjalan. Tentu saja utamanya dalah pendapatan dari selisih harga jual dan harga beli yang terjadi pada semua transaksi yang ada.

2. Iklan, perusahaan ini menggunakan sistem virtual store dimana katalog produk yang di tawarkan dapat di display melalui beberapa metode.

Brochure: perusahaan menggunakan brosur yang sudah dilengkapi dengan barcode untuk trasaksi pembelian oleh user dengan menggunakan handphone.

– Pamflet dan poster yang di pasang di lokasi strategis dimana target customer berada. Dari pemasangan pamflet dan brosur ini perusahaan bisa menarik fee untuk promosi produk kepada produsen dari produk yang kita pasarkan.

3. Cost saving, dengan menggunakan teknologi informasi semua transaksi dengan pelanggan dapat dilakukan secara vitual dengan tidak mengunakan tenaga kerja sehingga bisa menghemat cost operasional perusahaan yang pada akhirnya akan meningkatkan keunggulan perusahaan dari sisi cost dan harga jual.

4. Ketepatan delivery, dengan menggunakan ERP yang dipadukan dengan suply chain untuk kepentingan logistik dan distribusi produk yang diperjualbelikan, paling tidak perusahaan bisa mendapatkan dua benefit;

– Jaminan akan adanya sistem delivery yang handal sehingga tingkat kepastian pengiriman barang ke pelanggan lebih dapat andalkan.

– Jaminan akan kepastian untuk mendapatkan barang dari suplier atau produser yang lebih terpercaya karena sudah ada sistem yang mengatur secara online atas semua produk yang di butukan.

5. Sistem pembayaran online memungkinkan perushaan nntuk menerima pembayaran saat transaksi dilakukan. Dengan bekerjasama dengan online banking juga memudahkan pelanggan untuk melakukan pembayaran dengan relatif mudah.

 

  1. 2.    Stakeholders

 

Seperti ditabulasikan pada Tabel 1, bahwa perkembangan kepemilikan mobile phonepada tahun 2015 akan mencapai 4,85 billion user. Itu artinya lebih dari setengah umat manusia di planet ini (67% dengan jumlah populasi sebersar 7,25 billion ditahun 2015) akan menggunakan handphone. Wilson Kerr, seorang pakar dalam urusan pembangunan situs dan e-commerce­ menyatakan bahwa m-commerce akan meledak dikemudian hari sehingga ada baiknya seluruh perusahaan yang bergerak dibidang e-commerce­ perlu menjadi perusahaan yang bergerak dibidang m-commerce (diy-marketing.blogspot.com). Hal ini akan sangat berkaitan dengan jumlah transaksi perbankan yang bekerja sama dengan persusahaan kami.

Bayangkan bila akan banyak orang, terutama wanita karir yang membawa handphone atau tab dan mereka bisa berbelanja distasiun kereta atau terminal tanpa harus menenteng keranjang atau kantong plastik. Mereka cukup memfoto QR code dari komoditi yang akan mereka beli dan menunggu dirumah. Jumlah transaksi perbankan mereka, terutama kartu kredit akan meningkat signifikan. Contoh nyata penerapan QR code dapat meningkatkan penjualan adalah pada perusahaan Verizon. Penjualan Verizon mengingkat 200% dalam jangka waktu satu minggu promosi. Bila diuangkan maka pendapatan Verizon bertambah US$ 35.000 untuk biaya promosi sekitar US$ 1000. Verizon menggunakan sarana social media seperti Facebook untuk promosi barangnya (www.instant.ly).

Benefit yang lain juga akan didapatkan oleh stakeholder tapi lebih banyak mereka menerima benefit atau manfaat dari penggunaan jasa yang merekan tawarkan ke perusahaan. Sebagai contoh Bank akan menerima lebih banyak aliran transaksi keuangan dalam proses pembayaran, perusahaan logistic dan suply chain akan menjalin bisnis dengan perusahaan dengan menjadi bagian dari sistem expedisi barang yang di perdagangkan. Perusahaan internet dan telekomunikasi akan menerima lebih banyak income dari penggunaan pelayanan mereka yang makin meningkat.

 

3.3.5    Strategi

  1. Analisiscompetitive force

 a. Potential entrants

Bisnis dengan menggunakan QR code adalah bisnis dengan dengan menggunakan teknologi dan sistem informasi. Dikarenakan Homeplus bergerak dibidang ritel dan sudah memiliki ukuran tersendiri dalam produknya, maka untuk potensi ancaman dari pendatang baru akan berkurang. Karena tidak banyak toko ritel atau convenience store yang rela menginvestasikan uang mereka untuk teknologi QR code ini.

b. Suppliers

Tidak bisa dipungkiri bahwa ketergantungan Homeplus akan supplier cukup besar. Untuk menjaga komoditas Homeplus tetap dalam keadaan standar minimum perusahaan, maka Homeplus akan banyak membutuhkan supplier. Homeplus pun kurang memiliki kekuatan untuk tawar menawar dengan supplier karena ketergantungannya cukup besar.

c. Subtitutes

Secara jelas terlihat bahwa Homeplus belum memiliki perusahaan pengganti atau pesaing yang sejenis. Karena umumnya perusahaan ritel masih mengandalkan toko fisik.

 

d. Bargaining power of costumer

Konsep virtual shop tidak memungkinkan untuk konsumen tawar menawar harga dengan pembeli karena tidak ada interaksi langsung. Tapi itu tidak menjadi alasan bahwa konsumen tidak memiliki bargaining power yang kuat. Bargaining power konsumen pada Homeplus terletak saat konsumen ingin membeli produknya dengan harga yang tidak kompetitif, maka konsumen akan beralih ke cara konvensional.

e. Intensity of competitive rivalry

Secara jelas terlihat bahwa Homeplus belum memiliki perusahaan pengganti atau pesaing yang sejenis. Karena umumnya perusahaan ritel masih mengandalkan toko fisik.

 

3.4 Analisa SWOT

a.    Kekuatan dan Peluang:

Bisnis perusahaan ini mampunyai keuntungan yang lebih baik dibandingkan dengan toko fisik yang perlu investasi dan pegawai yang harus di biayai dan akan membebani biaya penjualan produk secara keseluruhan. Sementara itu peluang muncul dengan sangat baik karena bertambahnya jumlah populasi penduduk dengan kategori tingkat ekonomi menengah yang sibuk dan melek teknologi. Dengan anaisa ini perusahaan akan mengembangan bisnisnya dengan membuka lebih banyak servise point/gudang untuk menjangkau lebih banyak pelanggan dan mempercepat pengiriman barang sampai pelanggan menjadi dalam hitungan jam saja.

 

b.    Kelemahan dan Peluang:

Belum dikenalnya sistem belanja ini oleh masyarakat luas sementara jumlah pelanggan potensial begitu banyak dan belum tersentuh, maka perusahaan harus melakukan pengenalan sistem belanja yang baru dan memperkenalkan mobile shoping dan virtual shop dari Homeplus ini sebagai satu paradigma berbelanja yang baru dan lebih efisien. Untuk itu perusahaan akan menganggarkan biaya untuk melakukan promosi baik melalui media jejaring sosial, web site, sms, pamflet/banner dan media masa.

 

c.    Kekuatan dan Ancaman:

Sebagai bisnis yang berbasis sistem informasi maka biaya penjualan (sales cost) akan lebih competitive dibandingkan dengan pasar swalayan. Akan tetapi jika pasar swalayan atau supermarket ini juga akan terjun menggunakan sistem yang sama dengan Homeplus untuk juga menjajakan produknya di dunia maya dengan sejenis virtual store mereka maka hal ini akan sangat mengancam keberlangsungan Homeplus. Oleh karena itu perusahaan akan melakukan pendekatan dengan perusahaan atau supermarket ini untuk menjalin kerjasama dengan melakukan internetwroking.

 

d.    Kelemahan dan Ancaman:

Ancaman akan masuknya pebisnis ritel besar ke model bisnis ini dengan kondisi sementara ini paradigma pelanggan belum berubah dari cara transaksi jual beli tradisional dan cara transaksi jual beli vitual untuk produk-produk kebutuhan pokok masih akan memberikan waktu bagi perusahaan untuk mengendalikan tingkat resiko dari kemungkinan tersebut. Akan tetapi, Homeplus harus tetap menjalankan strategi untuk mengajak bekerja sama para pemain retail yang ada sehingga saat paradigma model bisnis ini sudah diterima masyarakat Homeplus sudah siap dengan melakukan kerjasama dan mencegak ritel besar masuk ke model bisnis yang sama dengan Homeplus.

 

3.5    Analisa Strategik Perusahaan

Analisa perusahaan ini secara strategis dapat dijelaskan dalam bagan business model dibawah ini dimana Homeplus sudah menetapkan sebagai perusahaan yang bergerak di bidang e-commerce dengan menggandeng beberapa partner penting dalam bisnisnya.
Menurut Edward Dinu, betapa sangat dinamisnya e-commerce dewasa ini dibandingkan dengan tradisional commerce jelas terlihat dari competitive advantage yang dimiliki e-commerce: entry barrier yang sangat permisif, mudah di akses dengan investasi rendah untuk memulai bisnis ini, termasuk bisnis yang memiliki cash cycle relatif cepat dengan tingkat pengembalian modal yang baik meskipun dengan margin yang rendah.

Seperti terlihat dalam bisnis model Homeplus bahwa perusahaan ini menggunakan partner dalam menjalankan bisnisnya sehingga sacara keseluruhan cost yang  terjadi menjadi kecil, akan tetapi perusahaan ini juga tidak bisa menjual barangnya dengan harga yang sama dengan supermarket dan perusahaan ritel besar lainnya karena salah satu competitive advantage dari Homeplus yang harus dipertahankan adalah “Cost Leadership”.

Dalam konteksnya sebagai perusahaan yang harus menerapkan Cost Leadership sebagai keunggulan kompetitifnya maka strategi perusahaan untuk mengembangkan bisnisnya dapat dijelaskan sebagai berikut:

 

  1. Economies of Scale: Perushaan harus meningkatkan kinerja penjualan untuk menaikan revenue, hal ini bisa dilakukan dengan cara:

–       Memperbanyak channel yang harus dipakai perusahaan untuk menjangkau pelanggannya. Dalam hal ini Homeplus harus bisa menambah jalur distribusi dan service point (store) yang akan mendekatkan Homeplus dengan pelanggan.

–       Meningkatkan revenue dari penjualan produk dengan cara melakukan promosi dan menambah katalog produk di virtual store. Menambah range produk yang ditawarkan sehingga bisa memenuhi seluruh kebutuhan pelanggannya.

  1. Cost Control: Perusahaan haru melakukan kontrak jangka panjang dengan partner dan suplier agar mendapatkan purchase power dan kestabilan harga dari suplier sementara untuk harga jual Homeplus bisa melakukan perubahan kapanpun untuk menaikan revenue ternasuk kebebasan untuk melakuka promo dan discount. Kontrak jangka panjang ini harus dipilih untuk produk dan barang tertentu yang memang punya fluktuasi yang tidak menentu. Efek secara langsung adalah kestabilan cost dan pengendalian biaya yang lebih baik.

 

  1. Process Innovation:

–       Homeplus harus melakukan innovasi baik dalam penyedian platform pelayanan maupun media yang bisa dijadikan sarana untuk menjangkau peanggan dan melakukan transaksi karena hal ini merupakanresources utama perusahaan.

–       Mengembangkan kemudahan dalam pembayaran karena saat ini berbelanja dengan sistem vitrual dianggap sangat beresiko. Tidak ada jaminan resiko ini yang membuat virtual store kurang diminati.

–       Delivery juga merupakan area harus di invasikan. Bisnis semacam ini masih terkendala dengan mekanisme pengiriman yang rumit dan membutuhkan waktu yang lama untuk sampai menerima barang.

 

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

 

4.1 Kesimpulan

Homeplus merupakan sebuah online shop yang terintegrasi oleh sistem informasi yang mumpuni. Homeplus dalam bisnisnya didukung oleh sistem yang memungkinkan efisiensi dan efektifitas yang tinggi.Selain itu dukungan dari Tesco juga membuat Homeplus dapat kompetitif.

Penggunaan QR Code dan berbagai teknologi lainnya sesuai dengan pangsa pasar dari Homeplus sehingga memiliki pengaruh yang positif dalam penggunaannya. Homeplus sendiri memang menargetkan kelas menengah yang sedang berkembang dimana pada kelas tersebut sudah memiliki kemampuan mumpuni dalam bertransaksi secara online. Homeplus merupakan contoh kasus yang unik dimana sistem informasi yang baik dapat menjadi sesuatu nilai tambah bagi perusahaan.Sistem informasi memiliki peranan penting dalam bisnis Homeplus.

Analisis dan strategi untuk menghadapi competitive force pada perusahaan Homeplus, yaitu:

a. Potential entrants

Bisnis dengan menggunakan QR code adalah bisnis dengan dengan menggunakan teknologi dan sistem informasi. Dikarenakan perusahaan kami bergerak dibidang distribusi pangan dan sudah memiliki ukuran tersendiri dalam produknya, maka untuk potensi ancaman dari pendatang baru akan berkurang. Karena tidak banyak toko ritel atau convenience store yang rela menginvestasikan uang mereka untuk teknologi QR code ini. Untuk kedepannya juga kami akan bekerja sama dengan beberapa convenience store demi kemudahan bertransaksi.Untuk membendung ancaman perdagangan dari pendatang baru, maka kami akan membuat jaringan bisnis yang lebih besar. Contohnya adalah kami mengambil konsep virtual shop dari Korea Selatan. Masyarakat Korea Selatan cukup memfoto QR code pada catalog atau banner yang terletak di stasiun-stasiun atau terminal dan mereka akan mendapatkan semacam notifikasi di handphone  mereka.

b. Suppliers

Tidak bisa dipungkiri bahwa ketergantungan kami akan supplier cukup besar. Untuk menjaga komoditas kami tetap dalam keadaan standar minimum perusahaan, maka kami akan banyak membutuhkan supplier. Perusahaan kami pun kurang memiliki kekuatan untuk tawar menawar dengan supplier karena ketergantungan kami cukup besar.Tanpa mereka, bisnis kami akan tersendat karena tidak adanya komoditi yang akan kami jual. Yang bisa kami lakukan adalah memperbanyak jumlah suppliers agar pada saat satu tidak bisa memenuhi kebutuhan kami, maka akan ada penggantinya.

c. Subtitutes

Perusahaan kami optimis bahwa teknologi virtual shop ini belum memiliki produk pengganti dengan market share yang besar. Saingan perusahaan kami adalah pasar tradisional dan tukang sayur keliling. Tapi sekali lagi, dikarenakan kami memiliki pangsa pasar yang khusus, maka tidak akan menjadi masalah.

d. Bargaining power of costumer

Konsep virtual shop tidak memungkinkan untuk konsumen tawar menawar harga dengan pembeli karena tidak ada interaksi langsung. Tapi itu tidak menjadi alasan bahwa konsumen tidak memiliki bargaining power yang kuat. Bargaining power konsumen pada kasus kami terletak saat konsumen ingin membeli produk kami dengan harga yang tidak kompetitif, maka konsumen akan beralih ke cara konvensional.Tapi dikarenakan kami tidak perlu membayar biaya-biaya selayaknya toko konvensional, seperti listrik, air telepon dan sewa gedung, maka harga yang kami jual pun tidak akan lebih mahal dari toko konvensional.

e. Intensity of competitive rivalry

Perusahaan kami menyatakan bahwa untuk indikator yang satu ini, kami memiliki satu keuntungan besar, yaitu belum adanya kompetisi berimbang di pasar kami. Bisa dikatakan kami adalah pelopor konsep virtual shop di Indonesia. Akan tetapi untuk menutup potensi persaingan, maka strategi kami adalah dengan bekerja sama dengan convenience store lain seperti yang sudah dijelaskan di atas.

 

4.2  Saran

Future development yang akan diterapkan oleh perusahaan kami, antara lain:

  1. Bekerja sama dengan convenience store lain untuk tetap menjaga stabilitas penjualan.
  2. Membangun banyak gudang penyimpanan agar cakupan bisnis perusahaan kami menjadi seluruh Indonesia atau bahkan mendunia.
  3. Mengembangkan sebaran jumlah catalog kami menjadi di gedung-gedung perkantoran.


DAFTAR PUSTAKA

 

A, Elizabeth. 2013. How QR Codes Helped Verizon’s Sales Increase 200%. http://www.instant.ly/blog/2013/01/how-qr-codes-helped-verizon%E2%80%99s-sales-increase-200/ [5 November 2013]

Ad Age Datacenter. 2013. Video Poster. http://adage.com/datacenter/videoposter2011/#26 [5 November 2013]

DIY Marketing. 2011. Using QR Codes to Trigger Retail Sales. http://diy-marketing.blogspot.com/2011/10/using-qr-codes-to-trigger-retail-sales.html [5 November 2013]

Eurostat. 2013. “Ecommerce contribution in Europe” (infographic). http://ecommercenews.eu/infographic-ecommerce-contribution-in-europe/[9 November 2013]

Julizvar. 1998. Analisis Tingkat Kepuasan Konsumen Terhadap Produk Anti Virus. [Thesis]. BINUS.

Liputan6.com. 2013. 6 Situs e-Commerce yang Mendominasi Pasar Online Indonesia. http://tekno.liputan6.com/read/672273/6-situs-e-commerce-yang-mendominasi-pasar-online-indonesia [9 November 2013]

Laudon. 1998. Analisis Sistem. Jakarta: Salemba Empat.

Maulana, Adhi. 2013. 6 Situs e-Commerce yang Mendominasi Pasar Online Indonesia. http://tekno.liputan6.com/read/672273/6-situs-e-commerce-yang-mendominasi-pasar-online-indonesia. [9 November 2013]

Onno W. Purbo, Aang Arif Wahyudi, 2001. Mengenal E-Commerce. Elex Komputindo, Jakarta.

Robert, E. Johnson.2005. E-Commerce. http://www.cimcor.com [9 November 2013]

Singh, R., & Bamoriya, H. 2013. QR Codes in Print Advertising: Elucidating Indian Vogue Using Content Analysis. India.

Tahat, Hisham. 2005. Factors Affecting E-Commerce Contract Law. University of Aberdeen.

QR Scanner. 2013. QR Codes in Retail. http://www.qrscanner.us/qr-retail.html [5 November 2013]

http://en.wikipedia.org/wiki/Homeplus diakses tanggal 25 Januari 2014

http://www.tesco.com/ diakses tanggal 25 Januari 2014

http://www.tescoplc.com/index.asp?pageid=312 diakses tanggal 25 Januari 2014

 

 

No Comments

Skip to toolbar