Profile photo of david47e

Chocolate War

Chocolate war?? masa coklat kok perang..

Tapi ini kenyataan, dalam bisnis selalu ada persaingan. Seperti PEPSI vs COCA COLA, Michellin vs Bridgestone dan masih banyak hal lainnya. Pada kuliah  Manajemen Pemasaran di  Master Program in Management, Graduate Program of Management and Business Bogor Agricultural University yang dibawakan oleh Prof Dr Ir Ujang Sumarwan, MSc , beliau memutarkan 1 video yang cukup menarik. Video tersebut menceritakan persaingan di industri coklat.

Di industri coklat sendiri juga ada persaingan yang legendaris antara …..


 

 

Pasti tau dong dua coklat itu.. Biasanya saya dapat coklat itu sebagai oleh-oleh jika ada yang pergi ke luar negeri seperti Singapura dan Amerika. Padahal kan coklat ada banyak merek dan jenis, tapi kenapa persaingan kedua pabrikan ini menjadi melegenda?.

Pada awalnya sejarah Milton Hershey Snavely mendirikan perusahaan cokelat pada tahun 1894. Produk yang dijual oleh perusahaan Hersley yaitu pada tahun 1907, Hersley memperkenalkan permen baru, kecil datar berbentuk potongan-potongan cokelat yang diberi nama Hershey Kiss,  kemudian produk berkembang terus yaitu adanya produk Snickers, Three musketeers. Dan produk yang sangat inovatif yaitu produk Desert Bar yang merupakan cokelat yang tidak meleleh pada suhu 140 derajat Farenheit dan dijadikan untuk konsumsi tentara amerika yang berperang. Sedangkan Mars awalnya menjual nugat dimana bahan baku cokelat tersebut berasal dari perusahaan Hershey. Namun semakin mapannya perusahaan Mars akhirnya Mars memutuskan hubungan kerjasama tersebut dan terus mengembangkan produk cokelatnya yaitu salah satu produknya yang sangat terkenal adalah M&M. Jelas kan kenapa mereka berkompetisi, hal ini disebabkan MARS berkembang dan memutuskan untuk memenuhi pasokannya sendiri. Hal tersebut membuat Hersey menjadi tidak suka dan akhirnya muncullah perang coklat ini.

 

Dari sisi ilmu pemasaran perang coklat ini menarik untuk ditelaah. Saya akan menggunakan metode paling dasar untuk menelaah persaingan 2 pabrikan coklat ini yaitu dengan analisis 4P.

Product : Produk yang diciptakan oleh kedua produsen coklat Hersey dan MARS mempunyai keunggulan masing yang membedakan kedua produk tersebut yang membuat hal ini menjadi daya saing. Produk coklat Hersey dapat bertahan di suhu yang tinggi sehingga tidak cepat meleleh. Sedangkan MARS melakukan diversifikasi produk dengan menciptakan M&M.

Price : Dengan penentapan harga yang murah, Hersey dapat menjangkau konsumen sehingga mendongkrak menjualan hal ini dikarenakan kapasitas pabrik yang besar sehingga harga produksi menjadi rendah. Hal yang sama juga dilakukan MARS, dengan menjual produknya dalam kemasan yang lebih kecil sehingga harganya lebih terjangkau.

Place : Dalam menyalurkan produk untuk sampai ke masyarakat kedua produsen coklat Harsey dan MARS menggunakan saluran distribusi tingkat satu yaitu direct channel sehingga produsen langsung menyalurkan produk langsung ke konsumen. Hal ini digunakan saluran distribusi tingkat 1 melihat dari karakteristik produk itu sendiri sehingga saluran yang lebih efektif dengan menyalurkan barang langsung pada konsumen.

Promotion : Promosi dalam dunia bisnis sangat diperlukan baik untuk sector barang atau jasa seperti yang dilakukan oleh MARS dengan membuat terobosan baru dengan membuat iklan animasi yang pada masanya belum ada yang menggunakan sehingga dengan iklan tersebut mendongkrak penjualan M&M . Sedangkan Hersey melakukan promosi dengan memposisikan dirinya sebagai merek coklat klasik yang telah terkenal kualitasnya.

 

Comments Off on Chocolate War

Profile photo of david47e

MARKETING CLASS OF E47

David Sutyanto

Marketing Class of E47  2015 Graduate Student of Master Program in Management

Graduate Program of Management and Business

Bogor Agricultural University

 

Marketing Management Class PMB 541

Lecturer

Prof Dr. IrUjangSumarwan, MSc

Dr. Mukhamad Najib, MM

www.ujangsumarwan.blog.mb.ipb.ac.id

sumarwan@mb.ipb.ac.id

 

Lecture Notes based on book by UjangSumarwan, AgusDjunaidi, Aviliani, H.C RoykeSinggih, JusupAgusSayino, Rico R. Budidarmo, SofyanRambe. 2009.Pemasaran Strategik :Strategis untuk Pertumbuhan Perusahaan dalam Penciptaan Nilai bagi Pemegang Saham (Strategic Marketing: Strategy for Corporate Growth in Creating Share Holder Value). Jakarta. Inti Prima.

 

Sumarwan, U., AchmadFachrodji., Adman Nursal., ArissetyantoNugroho., Erry Ricardo Nurzal., IgnAnungSetiadi., Suharyono., ZeffryAlamsyah. Cetakanke 2.2011. Pemasaran Strategik : Persfektif Value-Based Marketing dan Pengukuran Kinerja (Strategic Marketing: Value Based and Performance Measurement Perspectives). Bogor, IPB Press.

 

Class Notes on  10 March 2014 Lecture

Salah satu bentuk pemasaran baru saat ini adalah Co-Creation yang melibatkan konsumen dalam merancang produk. Bentuk pemasaran telah banyak diterapkan untuk misalnya Hanamasa Restaurant. Sebaliknya ini dengan bentuk pemasaran yang umum pada orang lain restoran yang konsumen dapat menikmati makanan tanpa dimasak. Keunggulan dari bentuk pemasaran adalah konsumen mendapatkan pengalaman.

Comments Off on MARKETING CLASS OF E47

Profile photo of david47e

PENILAIAN PENERAPAN SISTEM INFORMASI INSOURCING DAN OUTSOURCING

PENILAIAN PENERAPAN SISTEM INFORMASI

INSOURCING DAN OUTSOURCING

oleh:

David Nathanael Sutyanto.  P056131624.47E

 

Dosen Pengajar : Dr. Ir. Arif Imam Suroso, MSc

 

Program Studi Pascasarjana

Magister Manajemen Bisnis

Institut Pertanian Bogor

Januari, 2014

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar belakang

Saat ini di era globalisasi ini para pelaku usaha dituntut untuk dapat terus mampu beradaptasi dan berinvoasi dalam mengembangkan usahanya. Hal ini sangat diperlukan agar bisnis yang dijalankannya dapat terus bersaing atau bahkan menjadi pemimpin di kelasnya. Untuk itu, sebuah organisasi perusahaan harus mampu melakukan perbaikan dan perubahan yang terus menerus dalam segala hal seperti pengembangan organisasi, pengembangan sumber daya manusia, perencanaan bisnis dan lain sebagainya khususnya dalam pengembangan sistem informasi,  hal tersebut disebabkan oleh pada saat ini hampir semua bentuk dari kegiatan dalam perusahaan menggunakan teknologi sistem informasi, teknologi SI dapat membuat suatu sistem yang rumit menjadi lebih mudah, sehingga kinerja menjadi lebih efektif.

Sistem informasi sangat membantu perusahaan dalam mengolah dan menyimpan data. Serta membantu para pemangku kepentingan dalam pengambilan keputusan, seperti mengidentifikasi masalah peramalan bisnis. Sistem informasi manajemen adalah serangkaian subsistem informasi yang menyeluruh dn terkoordinasi secara terpadu yang mampu mentransformasikan data sehingga menjadi informasi. Teknologi yang semakin berkembang. Yang semakin hari semakin muncul teknologi baru menjadi suatu tantangan tersediri bagi sautu perusahaan untuk dapat mengadopsi sistem tersebut dalam kegiatan bisnisnya.

Dalam mengaplikasikan sistem informasi ke dalam perusahaan terdapat beberapa pendekatan yang bisa dilakukan. Diantaranya yaitu insourcing, dan outsourcing. Namun keterbatasan sumberdaya yang dimiliki oleh perusahaan atau organisasi untuk membangun dan mengelola sistem informasi dengan baik menyebabkan maraknya penggunaan jasa outsourcing atau pihak ketiga (vendor) untuk membangun dan mengelola sistem informasi dalam perusahaan. Perusahaan yang melakukan outsourcing mempunyai beberapa alasan diantarannya untuk penyederhanaan terhadap beban pekerjaan sehingga dapat fokus melakukan  aktivitas utama dari bisnisnya,  meningkatkan sumber daya dibagian operasional yang dapat meningkatkan produksi dan output serta memberikan dukungan tambahan kepada manajemen organisasi untuk meningkatkan efektivitas biaya melalui efisien secara keseluruhan operasi.

Pada makalah ini saya mencoba untuk membahas tentang alasan-alasan mengapa perusahaan melakukan outsourcing, bagaimana keuntungan dan kelemahan pengembangan sistem informasi secara outsourcing dibandingkan insourcing serta hal-hal apa yang harus diperhatikan dalam penerapan outsourcing.

 

1.2       Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan dari makalah ini adalah untuk mengetahui keuntungan dan kelemahan pengembangan sistem informasi secara outsourcing dibandingkan insourcing serta hal-hal apa yang harus diperhatikan dalam penerapan outsourcing.

 


 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1.  Sistem Informasi Manajemen

Menurut O’Brien (2005) sistem informasi merupakan kombinasi teratur dari orang-orang,hardware, software, jaringan komunikasi, dan sumber daya data yang mengumpulkan, mengubah, dan menyebarkan informasi dalam sebuah organisasi (O’Brien, 2005).

Sistem Informasi Manajemen merupakan sistem informasi yang menghasilkan hasil keluaran (output) dengan menggunakan masukan (input) dan berbagai proses yang diperlukan untuk memenuhi tujuan tertentu dalam suatu kegiatan manajemen.

 

Tujuan Umum Sistem Informasi Manajemen :

•        Menyediakan informasi yang dipergunakan di dalam perhitungan harga pokok jasa, produk,dan tujuan lain yang diinginkan manajemen.

•        Menyediakan informasi yang dipergunakan dalam perencanaan, pengendalian, pengevaluasian, dan perbaikan berkelanjutan.

•        Menyediakan informasi untuk pengambilan keputusan.

 

Ketiga tujuan tersebut menunjukkan bahwamanajer dan pengguna lainnya perlu memiliki akses ke informasi akuntansi manajemen dan mengetahui bagaimana cara menggunakannya. Informasi akuntansi manajemen dapat membantu mereka mengidentifikasi suatu masalah, menyelesaikan masalah, dan mengevaluasi kinerja (informasi akuntansi dibutuhkan dam dipergunakan dalam semua tahap manajemen, termasuk perencanaan, pengendalian dan pengambilan keputusan).


2.2 Keuntungan Penerapan Sistem Informasi

•           Meningkatkan efisiensi operasional

Investasi di dalam teknologi sistem informasi dapat menolong operasi perusahaan menjadi lebih efisien. Efisiensi operasional membuat perusahaan dapat menjalankan strategi keunggulan biaya (low-cost leadership). Dengan menanamkan investasi pada teknologi sistem informasi, perusahaan juga dapat menanamkan rintangan untuk memasuki industri tersebut (barriers to entry) dengan jalan meningkatkan besarnya investasi atau kerumitan teknologi yang diperlukan untuk memasuki persaingan pasar.

•           Memperkenalkan inovasi dalam bisnis

Penekanan utama dalam sistem informasi strategis adalah membangun biaya pertukaran (switching costs) ke dalam hubungan antara perusahaan dengan konsumen atau pemasoknya.

•           Membangun sumber-sumber informasi strategis

Teknologi sistem informasi memampukan perusahaan untuk membangun sumber informasi strategis sehingga mendapat kesempatan dalam keuntungan strategis. Hal ini berarti memperoleh perangkat keras dan perangkat lunak, mengembangkan jaringan telekomunikasi, menyewa spesialis sistem informasi, dan melatih end users.

 

2.3  Insourcing

Insourcing adalah perusahaan menfasilitasi karyawan untuk dipekerjakan di luar perusahaan berdasarkan kompetensi dan minat karyawan itu sendiri dengan tujuan mengoptimalkan karyawan dalam perusahaan. Insourcing juga dapat didefinisikan sebagai transfer pekerjaan dari satu perusahaan ke perusahaan lain yang terdapat di dalam negara yang sama. Kaitan antara IT dengan Insourcing adalah pendelegasian dari suatu pekerjaan ke pihak yang lebih ahli (spesialis TI) dalam bidang tersebut dalam suatu perusahaan.

 

 


2.4 Outsourcing

Menurut O’Brien dan Marakas (2010) dalam bukunya “Introduction to Information Systems”, istilah outsourcing dalam arti luas adalah pembelian sejumlah barang atau jasa yang semula dapat dipenuhi oleh internal perusahaan tetapi sekarang dengan memanfaatkan mitra perusahaan sebagai pihak ketiga. Dalam kaitannya dengan TI, outsorcing digunakan untuk menjangkau fungsi TI secara luas dengan mengontrak penyedia layangan eksternal.

Outsourcing TI juga dapat diterjemahkan dengan penyediaan tenaga ahli yang profesional di bidang TI untuk mendukung dan memberikan solusi guna meningkatkan kinerja perusahaan. Hal ini dikarenakan sering kali suatu perusahaan mengalami kesulitan untuk menyediakan tenaga TI yang berkompeten dalam mengatasi kendala-kendala TI maupun operasional kantor sehari-hari Jadi, outsourcing adalah pemberian sebagian pekerjaan yang tidak bersifat rutin (temporer) dan bukan inti perkerjaan di sebuah organisasi/perusahaan ke pihak lain atau pihak ketiga.

 


BAB III

PEMBAHASAN

 

 3.1 Implementasi Insourcing

Organisasi biasanya memilih untuk melakukan insourcing antara lain dalam rangka mengurangi biaya tenaga kerja dan pajak. Organisasi yang tidak puas dengan outsourcing kemudian memilih insourcing sebagai penggantinya. Beberapa organisasi merasa bahwa dengan insourcing mereka dapat memiliki dukungan pelanggan yang lebih baik dan control yang lebih baik atas pekerjaan mereka daripada dengan mengoutsourcingnya

Sedangkan menurut Zilmahram (2009) dalam Setiawati (2010), Insourcing dapat terjadi karena hal-hal sebagai berikut:

1. Kompetensi karyawan yang tidak optimal dimanfaatkan di dalam

perusahaan.

2. Terjadinya perubahan yang mengakibatkan beberapa kompetensi

tertentu tidak dibutuhkan lagi di dalam perusahaan.

3. Sebagai persiapan karyawan untuk menempuh karir baru di luar

perusahaan.

 

Beberapa keuntungan dari penggunaan Insourcing dalam pengimplementasian dan pengelolaan Sistem Informasi di sebuah perusahaan antara lain:

  1. Karyawan yang ditugaskan mengerti kebutuhan sistem dalam perusahaan karena pada umumnya sistem informasi yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan perusahaan
  2. Mudah untuk melakukan modifikasi atau penambahan feature dan pemelihaan terhadap sistem informasi karena proses pengembangannya dilakukan oleh karyawan perusahaan tersebut.
  3. Kendala terhadap aplikasi strategi dan pengambilan keputusan dalam pengembangan sistem informasi sepenuhnya berada di tangan perusahaan tersebut.
  4. Peningkatan kualitas SDM dimana karyawan mendapatkan kesempatan untuk belajar dan membangun sistem informasi perusahaan.
  5. Lebih mudah dalam melakukan pengawasan (security acsess) pada proses pengembangan sistem dan keamanan data lebih terjamin karena hanya melibatkan pihak perusahaan.
  6. Dalam pengembangannya membutuhkan biaya yang relatif lebih rendah karena hanya melibatkan pihak perusahaan.
  7. Sistem informasi yang dibutuhkan dapat segera direalisasikan dan dapat segera melakukan perbaikan untuk menyempurnakan sistem tersebut.
  8. Dalam jangka panjang akan meningkatkan keunggulan kompetitif perusahaan.

 

Beberapa kelemahan penggunaan insourcing dalam pengimplementasian dan pengelolaan Sistem Informasi di sebuah perusahaan antara lain:

  1. Pengembangan sistem informasi membutuhkan waktu yang relatif lama karena konsentrasi karyawan harus terbagi-bagi dengan pekerjaan rutin harian.
  2. Keterbatasan jumlah dan kemampuan SDM dalam perusahaan yang menguasai teknologi informasi.
  3. Resiko kegagalan penerapan Sistem Informasi menjadi tanggung jawab perusahaan sepenuhnya.
  4. Perubahan dalam teknologi informasi yang terjadi secara cepat belum tentu diikuti oleh cepatnya perusahaan dalam mengadaptasi perubahan tersebut sehingga bisa saja menyebabkan teknologi yang digunakan oleh perusahaan tidak up to date.
  5. Membutuhkan waktu dan biaya tambahan untuk melakukan pelatihan bagi operator dan programmer dalam pengembangan sistem informasi perusahaan.
  6. Perusahaan dalam jangka pendek belum bisa merasakan hasil dari pengembangan sistem informasi perusahaan.
  7. Kurangnya tenaga ahli (expert) di bidang sistem informasi dapat menyebabkan kesalahan persepsi dalam pengembangan sistem dan hal tersebut menjadi tanggung jawab perusahaan
  8. Pada umumnya penggunaan sumber daya sistem informasi dalam perusahaan belum optimal karena karyawan tidak memiliki spesialisasi (core competency) dalam bidang pengembangan sistem informasi.

 

3.2 Implementasi Outsourcing

Outsourcing sudah tidak dapat dihindari oleh suatu perusahaan karena beberapa manfaat yang didapatkang, seperti penghematan biaya pemeliharaan, perusahaan juga dapat fokus pada kegiatan utamanya (core business), dan akses pada sumber daya yang tidak dimiliki oleh perusahaan, Rahardjo (2006).

Alasan yang sama juga dikemukakan dalamwww.outsource2india.com dimana kebanyakan organisasi memilih outsourcing karena mendapatkan keuntungan dari biaya rendah (lower costs) dan layanan berkualitas tinggi (high-quality services). Selain itu, outsourcing juga dapat membantu organisasi dalam memanfaatkan penggunaan sumber daya, waktu dan infrastruktur mereka dengan lebih baik.

Outsourcing juga memungkinkan organisasi untuk mengakses modal intelektual, berfokus pada kompetensi inti, mempersingkat waktu siklus pengiriman dan mengurangi biaya secara signifikan. Dengan demikian, organisasi akan merasa outsourcing merupakan strategi bisnis yang efektif untuk membantu meningkatkan bisnis mereka.

Dalam outsourcing, outsourcer dan mitra outsourcing-nya memiliki hubungan yang lebih besar jika dibandingkan dengan hubungan antara pembeli dan penjual. Hal ini dikarenakan outsourcer mempercayakan informasi penting perusahaan kepada mitra outsourcing-nya. Salah satu kunci kesuksesan dari outsource adalah kesepakatan untuk membuat hubungan jangka panjang (long term relationship) tidak hanya pada proyek jangka dekat. Alasannya sangat sederhana, yaitu outsourcer harus memahami proses bisnis dari perusahaan. Perusahaan juga akan menjadi sedikit tergantung kepada outsourcer (Rahardjo, 2006).

Saat ini, outsourcing tidak lagi terbatas pada outsourcing layanan TI tetapi juga sudah merambah ke bidang jasa keuangan, jasa rekayasa, jasa kreatif, layanan entry data dan masih banyak lagi.

 

Beberapa keuntungan dari penggunaan outsourcing dalam pengimplementasian dan pengelolaan Sistem Informasi di sebuah perusahaan antara lain:

 

  • Biaya menjadi lebih murah karena perusahaan tidak perlu membangun sendiri fasilitas SI dan TI.
  • Memiliki akses ke jaringan para ahli dan profesional dalam bidang SI/TI.
  • Perusahaan dapat mengkonsentrasikan diri dalam menjalankan dan mengembangkan bisnis intinya, karena bisnis non-inti telah didelegasikan pengerjaannya melaluioutsourcing.
  • Dapat mengeksploitasiskill dan kepandaian dari perusahaanoutsource dalam mengembangkan produk yang diinginkan perusahaan.
  • Mempersingkat waktu proses karena beberapaoutsourcer dapat dipilih sekaligus untuk saling bekerja sama menyediakan layanan yang dibutuhkan perusahaan.
  • Fleksibel dalam merespon perubahan SI yang cepat sehingga perubahan arsitektur SI berikut sumberdayanya lebih mudah dilakukan karena perusahaanoutsource SI pasti memiliki pekerja TI yang kompeten dan memilikiskill yang tinggi, serta penerapan teknologi terbaru dapat menjadi competitive advantage bagi perusahaan outsource.
  • Meningkatkan fleksibilitas untuk melakukan atau tidak melakukan investasi

 

Beberapa kerugian dari penggunaan outsourcing dalam pengimplementasian dan pengelolaan Sistem Informasi di sebuah perusahaan antara lain:

 

  • Permasalahan pada moral karyawan, pada kasus yang sering terjadi, karyawan outsource yang dikirim ke perusahaan akan mengalami persoalan yang penangannya lebih sulit dibandingkan karyawan tetap.
  • Kurangnya kontrol perusahaan pengguna terhadap sistem informasi yang dikembangkan dan terkunci oleh penyedia outsourcing melalui perjanjian kontrak.
  • Ketergantungan dengan perusahaan lain yaitu perusahaan pengembang sistem informasi akan terbentuk.
  • Kurangnya perusahaan dalam mengerti teknik sistem informasi agar bisa dikembangkan atau diinovasi di masa mendatang, karena yang mengembangkan tekniknya adalah perusahaan outsource.
  • Jurang antara karyawan tetap dan karyawan outsource.
  • Perubahan dalam gaya manajemen.
  • Proses seleksi kerja yang berbeda.
  • Informasi-informasi yang berhubungan dengan perusahaan kadang diperlukan oleh pihak pengembang aplikasi, dan kadang informasi penting juga perlu diberikan, hal ini akan menjadi ancaman bagi perusahaan bila bertemu dengan pihak pengembang yang nakal

 

Faktor-faktor yang menentukan keberhasilan outsourcing yaitu :

  • Memahami maksud dan tujuan perusahaan.
  • Memiliki visi dan perencanaan strategis.
  • Memilih secara tepat service provider atau pemberi jasa.
  • Melakukan pengawasan dan pengelolaan terus menerus terhadap hubungan antarperusahaan dan pemberi jasa.
  • Memiliki kontrak yang cukup tersusun dgn baik.
  • Memelihara komunikasi yang baik dan terbuka dengan individu atau kelompok terkait.
  • Mendapatkan dukungan dan keikutsertaan manajemen.
  1. Memberikan perhatian secara berhati-hati pada persoalan yg menyangkut karyawan.

 

3.3 Contoh Kasus Penerapan Sistem Informasi Pada Perusahaan Sekuritas

Sebuah perusahaan sekuritas di Jakarta membutuhkan sebuah sistem informasi untuk mengolah data keuangan dan data transaksi harian. Sistem tersebut harus mampu melakukan jurnal secara akuntansi seluruh transaksi yang terjadi setiap hari dan membuat arus kas untuk setiap nasabah yang melakukan transaksi di hari tersebut.

Pada awalnya perusahan tersebut ingin membangun sistem secara insource, akan tetapi keterbatasan sumberdaya membuat hal tersebut sulit untuk direalisasikan. Hingga akhirnya perusahaan menunjuk vendor yang telah berpengalaman dalam mengolah data sekuritas.

 

 

Gambar : Fitur yang terdapat pada Security Administration System

 

Seluruh fitur tersebut dapat disesuaikan dengan kebutuhan dari perusahaan. Dalam hal ini perusahaan harus membayar biaya rutin pertiga bulan sebagai biaya perawatan dan pengembangan sistem. Akan tetapi perusahaan mendapatkan keuntungan berupa sistem yang handal dalam mencatat operasional harian.

 

BAB IV

KESIMPULAN

 

Dari pembahasan diatas terlihat bahwa keunggulan dan kelemahan insourcing dan outsourcing. Apakah lebih baik outsourcing atau insourcing harus kembali di telaah apakah kondisi perusahaan memungkinkan untuk insourcing atau tidak. Selain itu kajian akan keuntungan dan kerugian yang terima bila perusahaan memilih salah satu dari dua pendekatan tersebut. Kedua pendekatan memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing. Tidak bisa dikatakan mana yang lebih baik dan mana yang buruk, tapi kebijakan memilih pendekatan itu tergantung pada situasi perusahaan. Ada pula perusahaan yang tidak hanya menggunakan satu pendekatan, namun dua pendekatan sekaligus digunakan.

Akan tetapi Outsourcing menjadi salah satu solusi yang paling sering digunakan untuk mengembangkan suatu sistem informasi pada suatu perusahaan karena dengan outsourcing suatu perusahaan akan lebih fokus pada bisnis inti. Penggunaan outsourcing sebagai suatu solusi untuk implementasi sistem informasi.

 


 

DAFTAR PUSTAKA

 

O’Brien, James. 2005. Management Infromation System: Managing Information Technology in the Internetworked Enterprise. Fifth Edition. McGraw-Hill.

 

O’Brien JA, Marakas G. 2009. Management Information sistem. Ninth edition. Boston: Mc Graw Hill, Inc.

 

O’Brien, J. A. and G. M. Marakas. 2010. Introduction to Information Systems, fifteenth edition. The McGraw-Hill Companies, Inc.

 

Setiawati, Analisa . 2010 Pengembangan Sistem Informasi : Outsourcing VS Insourcing.  – http://ulyaanisatur.blogspot.com/2013/02/outsourcing-insourcing-dan-co-sourcing.html

 

http://id.scribd.com/doc/39417324/Membandingkan-an-Sistem-Informasi-Secara-Outsourcing-Dan-In-Sourcing

 

http://ferry1002.blog. binusian.org/?p=128.

 

http://rahard.wordpress.com/2006/ 02/25/kesulitan-outsourcing-di-indonesia/.

 

Comments Off on PENILAIAN PENERAPAN SISTEM INFORMASI INSOURCING DAN OUTSOURCING

Profile photo of david47e

TUGAS MAKALAH SIM SHUTTLE EXPRESS

TUGAS MAKALAH SIM

SHUTTLE EXPRESS

Kelompok Damar E 47

                    David N. Sutyanto                                                P056131624.47E

                    Dian Nurhadiatin                                                  P056131622.47E

                    Eri Septyawardani                                                P056131702.47E

                    Faldy Baskoro                                                       P056131712.47E

                    Tyas Tuti Rahayu                                                 P056131902.47E

                    Purwantoro                                                           P056131852.47E

                    Viga Fakoano                                                        P056131912.47E

 

Dosen : Dr. Ir. Arif Imam Suroso, MSc

 

PROGRAM PASCASARJANA MANAJEMEN DAN BISNIS

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2014

BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perkembangan sistem informasi telah membawa setiap orang dapat melaksanakan berbagai aktivitas dengan lebih mudah, akurat, berkualitas dan tepat waktu. Perkembangan sistem informasi manajemen saat ini menyebabkan terjadinya perubahan yang signifikan dalam pola pengambilan keputusan yang diambil oleh manajemen dalam suatu perusahaan baik pada tingkat operasional maupun tingkat manajerial. Setiap perusahaan dapat memanfaatkan jaringan teknologi informasi untuk menjalankan berbagai aktivitasnya secara elektronis atau berbasis sistem. Perkembangan ini telah menyebabkan perubahan peran dari para manajer dan pengambil keputusan, dimana mereka dituntut untuk selalu dapat memperoleh informasi yang paling akurat dan terkini yang dapat digunakan dalam proses pengambilan keputusan.

Selain itu dengan perkembangan informasi saat ini dapat memudahkan dalam berinovasi dan menemukan sesuatu yang baru. Terlebih sistem informasi dengan perkembangannya dapat pula menunjang keberhasilan suatu bisnis. Hal itu pula yang telah diterapkan oleh Shuttle Express. Salah satu perusahaan yang bergerak dibidang jasa transportasi di Amerika yang tumbuh berkembang dengan baik hingga menjadi salah satu perusahaan jasa transportasi terbesar. Dan hal itu dikarenakan oleh penerapan sistem informasi yang baik.

Pada makalah ini akan dibahas mengenai perkembangan penerapan sistem informasi yang diterapkan oleh Shuttle Express dari awal dibentuk hingga kini dan apa saja yang membuat Shuttle Express masih bertahan menjadi perusahaan jasa transportasi terbaik hingga kini.

 

1.2 Tujuan

Adapun tujuan dilakukannya penulisan paper ini adalah selain sebagai berikut :

1. Mengkaji keterkaitan antara sistem informasi dengan proses bisnis perusahaan

2. Mengkaji dan memahami peranan sistem informasi dalam meningkatkan suatu bisnis

3. Mengkaji dan memahami perangkat sistem informasi yang digunakan dalam pengembangan sistem informasi pada jasa layanan transportasi antar jemput di perusahaan Shuttle Express dalam bentuk Matrix Komponen Sistem Informasi

4. Membandingkan hasil pengembangan perangkat keras dan perangkat lunak sejak dimulai tahun 1990-an dengan keadaan teknologi sistem informasi Shuttle Express saat ini.

 

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1.      Sistem Informasi Manajemen

Sistem informasi manajemen adalah suatu kajian sistem informasi dalam bisnis dan manajemen. Hal ini yang mendesign spesifik kategori sistem informasi untuk keperluan manajemen dalam pengambilan keputusan. Sistem informasi manajemen memberikan informasi yang diperlukan oleh pihak manajemen mengenai performa suatu organisasi dalam kurun waktu tertentu dan informasi ini pula yang digunakan sebagai alat untuk memonitor dan mengkontrol bisnis, dan memprediksi performa di masa yang akan datang (Laudon & Laudon, 2009).

Pihak manajemen mendapatkan laporan performa dalam waktu mingguan, bulanan, dan tahunan. Meskipun beberapa sistem informasi manajemen memungkinkan para pihak manajemen untuk melihat performa dalam kurun waktu yang lebih spesifik dan detail seperti; harian, dan jam.

Berdasarkan (O’Brien & Marakas, 2007), Sistem Informasi Manajemen merupakan kombinasi dari manusia, hardware, software, jaringan komunikasi, dan sumber daya yang mengumpulkan data, mengubah, dan menyebarkan informasi dalam lingkup suatu organisasi. Tujuan SIM, yaitu:

  1. Menyediakan informasi yang dipergunakan di dalam perhitungan harga pokok jasa, produk, dan tujuan lain yang diinginkan manajemen.
  2. Menyediakan informasi yang dipergunakan dalam perencanaan, pengendalian, pengevaluasian, dan perbaikan berkelanjutan.
  3. Menyediakan informasi untuk pengambilan keputusan.

Ketiga tujuan tersebut menunjukkan bahwa manajer dan pengguna lainnya perlu memiliki akses ke informasi akuntansi manajemen dan mengetahui bagaimana cara menggunakannya. Informasi akuntansi manajemen dapat membantu mereka mengidentifikasi suatu masalah, menyelesaikan masalah, dan mengevaluasi kinerja (informasi akuntansi dibutuhkan dam dipergunakan dalam semua tahap manajemen, termasuk perencanaan, pengendalian dan pengambilan keputusan). Semua sistem Informasi memiliki tiga unsur atau kegiatan utama, yaitu (Ismail, 2004) :

  1. Menerima data sebagai masukan ( input)
  2. Memproses data dengan melakukan perhitungan, penggabungan unsur data, pemutakhiran perkiraan dan lain-lain.
  3. Memperoleh informasi sebagai keluaran (output).

 

Prinsip ini berlaku baik untuk sistem informasi manual, elektromekanis maupun komputer. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa sebuah sistem informasi dan memproses data, dan kemudian mengubahnya menjadi informasi. Menurut O’brien (2007) SIM merupakan kombinasi yang teratur antara people, hardware, software, communication network dan data resources (kelima unsur ini disebut komponen sistem informasi) yang mengumpulkan, merubah dan menyebarkan informasi dalam organisasi seperti pada gambar 2.1

Peranan SIM dalam Bisnis dan Industri

Terdapat 3 peran utama sistem informasi dalam bisnis yaitu :

  1. Mendukung proses bisnis dan operasional
  2. Mendukung pengambilan keputusan
  3. Mendukung strategi untuk keunggulan kompetitif

 

2.2.      Konsep Dasar Sistem Informasi Manajemen

Berdasarkan (Sutabri, 2012), Sistem informasi adalah suatu sistem didalam suatu organisasi yang mempertemukan kebutuhan pengolahan transaksi harian yang mendukung fungsi operasi organisasi yang bersifat manajerial dengan kegiatan strategi dari suatu organisasi untuk dapat menyediakan kepada pihak luar tertentu dengan laporan-laporan yang diperlukan.

Berikutnya, menurut (Sutarman, 2012), sistem informasi adalah ”Sistem dapat didefinisikan dengan mengumpulkan, memperoses, menyimpan, menganalisis, menyebarkan informasi untuk tujuan tertentu. Seperti sistem lainnya, sebuah sistem informasi terdiri atas input (data, instruksi) dan output (laporan, kalkulasi).

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa sistem informasi merupakan gabungan dari manusia, hardware, software, jaringan komunikasi dan datayang saling berinteraksi untuk menyimpan, mengumpulkan, memproses, dan mendistribusikan informasi untuk mendukung pengambilan keputusan dalam suatu organisasi.Siklus informasi ini dapat digambarkan sebagai berikut ;

Gambar 2.3  Siklus Informasi

 

Adapun fungsi-fungsi  informasi adalah sebagai berikut  :

  1. Untuk meningkatkan pengetahuan bagi si pemakai
  2. Untuk mengurangi ketidakpastian  dalam proses pengambilan keputusan  pemakai
  3. Menggambarkan  keadaan yang sebenarnya dari sesuatu hal.

2.3.      Komponen Sistem Informasi

Berdasarkan(Sutabri, 2012), sistem informasi terdiri dari komponen-komponen yang disebut blok bangunan (building block), dan blok kendali. Sebagi suatu sistem, keenam blok tersebut masing-masing saling berinteraksi satu dengan yang lain membentuk suatu kesatuan untuk mencapai sasaran.

  1. Komponen Input (Input Block)

Input mewakili data yang masuk ke dalam sistem informasi. Input yang dimaksud adalah metode dan media untuk menangkap data yang akan dimasukan, yang dapat berupa dokumen-dokumen dasar.

  1. Komponen Model (Model Block)

Blok ini terdiri dari kombinasi prosedur, logika dan model matematik yang akan memanipulasi data input dan data yang tersimpan di basis data dengan cara yang sudah tertentu untuk menghasilkan keluaran yang diinginkan.

  1. Komponen Output (Output Block)

Hasil dari sistem informasi adalah keluaran yang merupakan informasi yang berkualitas dan dokumentasi yang berguna untuk semua tingkatan manajemen serta semua pemakai sistem.

  1. Komponen Teknologi (Technology Block)

Teknologi merupakan tool box dalam sistem informasi. Teknologi digunakan untuk menerima input, menjalankan model, menyimpan dan mengakses data, menghasilkan dan mengirimkan keluaran dan membantu pengendalian sistem secara keseluruhan. Pada blok ini, teknologi terdiri dari 3 bagian utama, yaitu teknisi (humanware atau brainware), perangkat lunak (software) dan perangkat keras (hardware).

  1. Komponen hardware

Hardware berperan penting sebagai suatu media penyimpanan vital bagi sistem informasi. Yang berfungsi sebagai tempat untuk menampung  database atau lebih mudah dikatakan sebagai sumber data dan informasi untuk memperlancar dan mempermudah kerja dari sistem informasi.

  1. Komponen software

Software berfungsi sebagai tempat untuk mengolah,menghitung dan memanipulasi data yang diambil dari hardware untuk menciptakan suatu informasi.

  1. Komponen Basis Data (Database Block)

Basis data (database) merupakan kumpulan data yang saling berkaitan dan berhubungan satu sama lain, tersimpan di perangkat keras komputer dan menggunakan perangkat lunak untuk memanipulasinya. Data perlu disimpan dalam basis data untuk keperluan penyediaan informasi lebih lanjut. Data di dalam basis data perlu diorganisasikan sedemikian rupa supaya informasi yang dihasilkan lebih berkualitas. Organisasi basis data yang baik juga berguna untuk efisiensi kapasitas penyimpanannya. basis data diakses atai dimanipulasi menggunakan perangkat lunak paket yang disebut DBMS (Database Management System).

  1. Komponen Kontrol (Controls Block)

Banyak hal yang dapat merusak sistem informasi, seperti bencana alam, api, temperatur, air, debu, kecurangan-kecurangan, kegagalan-kegagalan sistem itu sendiri, ketidak efisienan, sabotase, dan lain sebagainya. Beberapa pengendalian perlu dirancang dan diterapkan untuk meyakinkan bahwa hal-hal yang dapat merusak sistem dapat dicegah ataupun bila terlanjur terjadi kesalahan-kesalahan dapat langsung cepat diatasi.

2.4.      Pemanfaatan SIM dalam Bisnis dan Industri

Aplikasi bisnis dari sistem informasi telah berkembang secara pesat dari tahun ke tahun seperti terlihat pada tabel di bawah :

 

 

Pengembangan solusi Information System untuk mengatasi problem bisnis merupakan kewajiban para profesional bisnis sekarang. Karena lingkungan bisnis terus berkembang, maka solusi bisnis di masa lalu mungkin perlu mengalami pengembangan sehingga tetap up-to-date. Pengembangan SI pada dasarnya melibatkan beberapa tahap yang berulang (siklus) yaitu :

 

Gambar 2.4 Tahap/Siklus Pengembangan Sistem Informasi

2.5.      Peranan Teknologi Informasi

Peranan teknologi informasi pada aktifitas manusia pada saat ini memang begitu besar. Teknologi informasi telah menjadi fasilitator utama bagi kegiatan-kegiatan bisnis, memberikan andil besar terhadap perubahan-perubahan yang mendasar pada struktur,operasi dan manajemen organisasi. Berkat teknologi ini berbagai kemudahan dapat dirasakan oleh manusia. Pengambilan uang melalui ATM (anjungan tunai mandiri), transaksi melalui internet yang dikenal dengan   E-Commerce atau perdagangan elektronik, transfer uang melalui E-Banking yang dapat dilakukan dirumah merupakan sejumlah contoh hasil penerapan teknologi informasi.

Secara garis besar dapat dikatakan bahwa :

  1. Teknologi informasi menggatikan peran manusia. Dalam hal ini, teknologi informasi melakukan otomasi terhadap suatu tugas atau proses.
  2. Teknologi memperkuat peran manusia, yakni dengan menyajikan suatu tugas atau proses.
  3. Teknologi informasi berperan dalam restrukturisasi terhadap peran manusia.

Dalam hal ini teknoplogi berperan dalam melakukan perubahan-perubahan terhadap sekumpulan tugas atau proses. Banyak perusahaan yang berani melakukan investasi yang sangat tinggi dibidang teknologi informasi. Alasan yang paling umum adalah adanya kebutuhan untuk mempertahankan dan meningkatkan posisi kompetitif,mengurangi biaya,meningkatkan fleksibilitas dan tanggapan.

Internet

Internet adalah jaringan komputer yang saling terhubung ke seluruh dunia tanpa mengenal batas teritorial, hukum dan budaya. Rosen (2000) mendefinisikan internet sebagai :

  1. Internet memberikan infrastruktur teknis agar dapat berhubungan secara online an memberikan kemudahan dalam mengakses world wide web.
  2. Internet memberikan kesempatan peluang bisnis sehingga mudah untuk mengakses informasi bagi usaha anda dan produk baik dari rumah maupun kantor.
  3. Internet merupakan suatu jaringan global yang terbentuk dari jaringan kecil, berhubungan dengan jutaan komputer di dunia dan terhubung dengan infrastruktur telekomunikasi.

Internet merupakan sebuah jaringan komputer yang terdiri dari berbagai macam ukuran jaringan komputer di seluruh dunia mulai dari sebuah PC, jaringan-jaringan lokal berskala kecil, jaringan-jaringan kelas menengah, hingga jaringan-jaringan utama yang menjadi tulang punggung internet, sehingga setiap pemakai dari setiap jaringan dapat saling mengakses semua service atau layanan yang disediakan oleh jaringan lainnya. Secara fisik dianalogikan sebagai jaring laba-laba (The Web) yang menyelimuti bola dunia dan terdiri dari titik-titik (node) yang saling berhubungan.

Node bisa berupa komputer, jaringan lokal atau peralatan komunikasi, sedangkan garis penghubung antar simpul disebut sebagai tulang punggung (backbone) yaitu media komunikasi terestrial (kabel, serat optik, microwave, radio link) maupun satelit. Node terdiri dari pusat informasi dan database, peralatan komputer dan perangkat interkoneksi jaringan serta peralatan yang dipakai pengguna untuk mencari, menempatkan dan atau bertukar informasi di Internet.Walaupun secara fisik Internet adalah interkoneksi antar jaringan komputer namun secara umum Internet harus dipandang sebagai sumber daya informasi. Isi Internet adalah informasi, dapat dibayangkan sebagai suatu database atau perpustakaan multimedia yang sangat besar dan lengkap. Bahkan Internet dipandang sebagai dunia dalam bentuk lain (maya) karena hampir seluruh aspek kehidupan di dunia nyata ada di Internet seperti bisnis, hiburan, olah raga, politik dan lain sebagainya.

TIPE JARINGAN

PENGGUNA UTAMA

AKSES

TIPE INFORMASI

Internet Setiap individu yg Memiliki akses ke internet Publik (tak terbatas) General, publik dan advertorial
Intranet Hanya karyawan yg Diberikan hak khusus Privat dan  terbatas Spesifik, korporat dan kepemilikan
Extranet Kelompok yg  diotorisasi dari perusahaan Privat dan mitra luar yg  terotorisasi

Informasi bersama dlm kelompok kolaborator dan terotorisasi

Tabel Karakterisik Internet, Intranet dan Extranet

 

Ada 3 komponen utama internet yakni; komputer, jaringan telpon dan modem. Dalam operasionalnya internet banyak menggunakan jaringan komunikasin yang biasa dikenal dengan jaringan telpon. Jaringan telpon biasanya diperuntukkan untuk berkomunikasi (voice communication) dan fax. Perkembangan selanjutnya metode transfer data banyak memanfaatkan fiberglass atau TV-Cable. Untuk dapat terkoneksi ke internet yang perlu dilakukan adalah mendaftarkan ke internet service provider (ISP) sebagai penyedia jasa layanan internet.

Ekstranet

Ekstranet adalah aplikasi jaringan, dimana perusahaan dapat menggunakan Internet untuk meningkatkan hubungan bisnis dengan partner, supplier dan customer. Dengan Ekstranet Internal system suatu perusahaan dapat diakses oleh partner, supplier dan customer.

Ekstranet banyak dipakai oleh perusahaan di banyak negara industri untuk mengumpulkan dan mendistrbusikan informasi yang penting ke semua negara dan seluruh dunia.

 

Teknologi Ekstranet

Aplikasi ekstranet berbasis open Internet standard seperti HTTP, TCP/IP,FTP, SMTP, HTML, MIME, X.500, X.509, SSL, etc. Aplikasi Extranet didesign untuk operasi di lingkungan komplek, menggunakan product dari berbagai bermacam vendor :

  1. Web browsers dan servers
  2. Secure file transfer servers
  3. Customer account management systems
  4. Remote administration tools
  5. Directory server
  6. Authetication systems
  7. Commerce system
  8. Distributed computing infrastruktures dan databases
  9. Messaging systems
  10. Firewalls and proxies
  11. Security scanners

 

Yang harus diperhatikan ketika mendesign dan implementasi sistem Extranet, seperti sistem dan informasi corporate yang harus disampaikan. Keamanan sangat penting, perusahaan partner hanya dapat mengakses sumber yang diijinkan oleh Extranet.

 

Intranet

Intranet (Internal Network) mulai didengung-dengungkan pada pertengahan tahun 1995 oleh beberapa penjual produk jaringan yang mengacu pada kebutuhan informasi dalam bentuk Web di dalam perusahaan. Intranet merupakan jaringan komputer dalam perusahaan yang menggunakan komunikasi data standar seperti dalam Internet. Artinya, semua fasilitas Internet dapat digunakan untuk kebutuhan dalam perusahaan (atau dalam suatu organisasi). Dengan kata lain, Intranet dapat dikatakan ber-internet dalam lingkungan yang terbatas.Antar Intranet dapat saling berkomunikasi satu dengan yang lainnya melalui sambungan Internet yang memberikan tulang punggung komunikasi jarak jauh. Akan tetapi sebetulnya sebuah Intranet tidak perlu sambungan luar ke Internet untuk berfungsi secara benar.

 

Secara umum, teknologi yang digunakan antara Internet dan Intranet adalah sama. Namun demikian terdapat perbedaan antara Internet dengan Intranet dilihat dari perspektif jangkauan  dan penggunaannya, yakni:

  1. Lingkup akses dan jangkauan.
  2. Cara teknologi yang digunakan untuk berkomunikasi.
  3. Tujuan dari terselenggaranya komunikasi.

Pada Internet, lingkupnya adalah global, komunikasi lewat saluran telekomunikasi publik, dan penggunanya bisa siapa saja tanpa membedakan posisi seseorang dalam kaitannya dengan isi informasi. Pada Intranet, cakupannya lebih terbatas, yakni di dalam organisasi; hubungannya antar kelompok kerja atau departemen di dalam perusahaan; penggunaannya oleh komunitas yang sudah ditentukan.

E-commerce

Ecommerce atau Electronic Commerce merupakan salah satu teknologi yang berkembang pesat dalam dunia per-internet-an. Kegiatan bisnis yang dijalankan (misalnya transaksi bisnis) secara elektronik melalui suatu jaringan (biasanya internet) dan komputer atau kegiatan jual – beli barang atau jasa (atau mentransfer uang) melalui jalur komunikasi digital. Penggunaann sistem E-Com dapat menguntungkan banyak pihak, baik pihak konsumen, maupun pihak produsen dan penjual (retailer). Di Indonesia, sistem Ecom kurang populer, karena banyak pengguna internet yang masih menyangsikan keamanan sistem ini, dan kurangnya pengetahuan mengenai apa itu E-Com yang sebenarnya.

Dalam pembuatan toko di internet (cybershop), diperlukan software-software tertentu untuk mengatur inventarisasi barang dan proses transaksi jual beli barang. Software-software khusus untuk membuat sistem E-Com, seperti Intershop Online keluaran Intershop Communications, Merchant Server keluaran Microsoft Corp, dan Electronic Commerce Suite keluaran iCat. Software-software itu khusus dijual kepada pihak-pihak yang berniat membangun cybershop. Pada umumnya software-software untuk pembuatan E-Commerce ini menggunakan database untuk penyusunan katalog. Database yang digunakan biasanya adalah DB2, Oracle, atau SQL.

E-commerce mencakup semua aktivitas bisnis secara online untuk produk dan jasa, baik antara bisnis ke bisnis dan bisnis ke pelanggan di internet. Dalam Rosen 2000, E-commerce dapat terbagi menjadi dua, yaitu :

  1. Pembelanjaan (online shopping).

Adalah bidang dari informasi dan aktivitas yang dapat memberikan pelanggan informasi yang mereka butuhkan untuk berhubungan usaha dan membuat keputusan untuk membeli.

  1. Pembelian (online purchasing).

Adalah infrastruktur teknologi untuk pertukaran data dan pembelian produk di dalam internet. Infrastruktur ini memberikan kemudahan untuk membeli produk di dalam internet.

 

E-Banking

E-Banking atau electronic banking merupakan fitur produk perbankan yang dilakukan tanpa menggunakan pelayanan pegawai bank, namun melalui delivery channel transaksi elektronik perbankan. Contoh E-Banking antara lain SMS Banking, Internet Banking, ATM, smart card. E-Banking merupakan trend dunia perbankan, setiap bank mencoba mengalihkan pelayanan transaksi melalui counter teller di cabang ke E-Banking, sehingga biaya transaksi menjadi lebih murah.

 

Electronic Data Interchange (EDI)

Ada beberapa definisi EDI dari beberapa sumber, yaitu:

  1. EDI didefinisikan sebagai komunikasi atau transaksi elektronik diantara pemakai (user) melalui aplikasi software (http://www.3com.com).
  2. EDI didefinisikan sebagai inter organisasi (di dalam perusahaan, antar perusahaan dan perusahaan dengan pemerintah), pertukaran dokumentasi dari suatu komputer ke komputer lain (http://www.inxservice.com).
  3. EDI dapat pula didefinisikan sebagai perpindahan elektronik dari satu aplikasi komputer ke aplikasi komputer lainnya (http://www.clack.net).

 

Tujuan dari penerapan EDI adalah meningkatkan aliran dan manajemen informasi bisnis dengan mengurangi kesalahan dalam pemasukan data (data entry) dan juga mengurangi waktu pemrosesan dokumen (Wibowo, 1999). Terdapat 3 komponen dasar di dalam EDI yakni: protocol standard, software, dan sistem hardware. Aplikasi software menjalankan protocol standard dan hardware sebagai pengirim yang terdiri dari server dan komponen jaringan. EDI merupakan suatu cara baru dalam melakukan usaha, secara operasional EDI sama dengan kegiatan operasional sehari-hari (paper-based system). Sebagai contoh apabila perusahaan ingin mengirimkan dokumen usaha ke rekan usaha di Singapore, kegiatan yang dilakukan biasanya adalah:

  1. Membuat suatu dokumentasi usaha sesuai dengan format yang telah ditentukan
  2. Menterjemahkan dari bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris.
  3. Akhirnya, mengirimkan dokumentasi tersebut melalui kantor pos atau media pengiriman lain seperti fax.

Bila menggunakan EDI pengiriman dokumen atau berita dilakukan dengan 3 tahap yakni :

  1. Membuat suatu dokumentasi usaha sesuai dengan format yang telah ditentukan dengan EDI standart/protocol standard.
    1. Menterjemahkan dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris menggunakan EDI software.
    2. Mengirimkan dokumentasi menggunakan Value Added Networks (VANs).

VANs banyak memberikan nilai tambah (added value) dalam penggunaan EDI yakni:

  1. Kegunaan waktu (time utility)

Dengan adanya kotak surat server (mailbox) perusahaan tidak harus setiap waktu berhubungan dengan rekan usahanya karena dapat membuka berita di EDI setiap saat.

  1. Kegunaan penterjemahan (translation utility)

VANs menyediakan sarana penterjemahan standard pengiriman berita EDI sehingga perusahaan tidak perlu mengkhawatirkan kecocokan (compatibility) bahasa dengan rekan usahanya.

  1. Biaya murah (cheaper cost)

Penggunaan jaringan bersama (shared network) relative lebih murah dibandingkan memiliki jaringan EDI sendiri (leased EDI line).

  1. Mengirimkan berita satu untuk banyak (one to many)

Sebuah berita EDI dapat dikirimkan kepada banyak penerima dengan menggunakan VAN.

  1. Pertanggungan jawab (accountability)

VAN dapat melakukan pencatatan terhadap setiap berita yang dikirimkan.

  1. Keamanan (security)

VAN memberikan nilai tambah kepada EDI dengan meningkatkan masalah keamanan bagi komputer perusahaan terhadap dunia luar.

  1. Berhubungan antar sesame (interconnectability)

Bila rekan usaha baru juga menggunakan VAN, berita EDI dapat dipertukarkan atau dikirimkan sesame perusahaan yang menggunakan VANs.

 

BAB III. PEMBAHASAN

3.1.           Sejarah Shuttle Express

Shuttle Ekspres dibentuk oleh San Juan Airlines pada tahun  1979. Pada saat itu, San Juan Airlines adalah maskapai penerbangan komuter tertua di Amerika Serikat. Maskapai ini terhubung dengan wisatawan dari seluruh Puget Sound, Vancouver, dan Victoria ke Seattle-Tacoma dan bandara Portland dan ke dunia luar. Layanan penerbangan ini melahirkan ide untuk menciptakantransportasi darat (Van) dari pesawat terbang untuk menghubungkan masyarakat, rumah, dan bisnis dari wilayah Seattle-Tacoma-Everett untuk SeaTac Airport.

San Juan Airlines telah mendapatkan reputasi sebagai maskapai penerbangan komuter paling aman dan paling profesional di AS. Masyarakat percaya bahwa budaya aman dan profesional yang ditransfer dari maskapai penerbangan akan menciptakan sebuah perusahaan transportasi darat yang sukses. Tujuan langsung perusahaan adalah untuk membangun perusahaan baru di atas dasar yang sama keselamatan, layanan, dan kehandalan. Misi perusahaan adalah untuk memberikanrasa aman, peduli, terjangkau, dan akses yang baik di SeaTac bandara.

Konsep transportasi door to door mulai dijalankan oleh Shuttle Express. Shuttle Ekspres menyediakan pelayanan yang baik, peralatan bersih, driver berseragam, dan harga yang wajar. Yang paling penting, budaya yang diterapkan yaitu budaya mengemudi dengan aman, membuka pintu, membawa tas, dan merawat untuk para tamu dengan segala cara.

Sebagai perusahaan muda, shuttle menghadapi tantangan “profitabilitas”. Perusahaan Shuttle Express menjual San Juan Airlines ke Alaska Airlines, dan dari penjualan ini mampu untuk menanamkan lebih banyak uang ke dalam bisnis dengan harapan mencapai profit yang lebih baik.

Perusahaan terus menjalankan perampinganperusahaan dengan memegang standar yang tinggi untuk pelayanan publik dan mempertahankan tarif rendah. Perusahaan percaya budaya untuk merawat dan mempercayai orang, baik karyawan dan masyarakat dapat menjadi dasar keberhasilan Shuttle Express. Pada tahun 2010perusahaan telah melayani lebih dari 714.000 tamu. Hal ini diterjemahkan lebih dari satu juta rute perjalanan.

Sepanjang 22 tahun perusahaan telah menambah layanan baru. Awalnya, perusahaan hanyamelayani layanan hotel bandara. Pada tahun 1994 perusahaan memulai layanan Executive Town Car, yang sekarang termasuk armada limosin. Pada tahun 1999 perusahaan membeli bus pertama, perusahaan terus melayani konsumen dengan konsep aman, terjangkau, dan untuk memenuhi kebutuhan tamu dalam setiap perjalanan.

3.2.           Perkembangan Teknologi Informasi pada Jasa Transportasi

Keberhasilan dari pembangunan tidak terlepas dari peran aktif semua sektor terutama sektor transportasi. Luasnya wilayah jasa pelayanan angkutan yang harus dapat dijangkau, maka perlu dilakukan suatu penanganan khusus dalam meningkatkan kualitas pelayanan transportasi yang aman, selamat, mudah dijangkau, berdaya saing dan terintegrasi. Pengelolaan pelayanan transportasi  merupakan pekerjaan yang kompleks. Dalam penyelenggaraan transportasi, sangat perlu kecepatan informasi agar setiap permasalahan dapat diatasi secara cepat dan semaksimal mungkin. Kondisi tersebut perlu dan harus didukung dengan sistem teknologi informasi untuk transportasi yang handal, yang mampu saling mendukung dan terpadu dengan sistem–sistem lainnya. Dalam rangka mendukung pelaksanaan tugas di bidang transportasi, maka suatu sistem yang berbasis teknologi informasi yang terintegrasi ditingkat regional maupun nasional, merupakan suatu kebutuhan utama, mengingat tantangan tugas masa depan yang dituntut untuk mampu menyediakan pelayanan.

Transportasi dengan cepat, tepat, konsisten dan mudah selalu tersedia setiap saat (Timely Available) itulah yang kini menjadi tuntutan dari masyarakat. Pada tingkat operasional guna mengatasi permasalahan transportasi di tingkat lokal maka penerapan Program Aplikasi Pengendalian Lalu Lintas seperti ATCS/ITCS (Area Traffic Control System/Integrated Traffic Control System), ITS (Intelegent Transport System), sedangkan ditingkat regional dan nasional pengembangan Transportation Management Centre (TMC) merupakan salah satu solusi terbaik dari sistem teknologi informasi yang dapat dikembangkan.

3.3.           Pemanfaatan Sistem

  1. 1.       Quick Response

Sistem ini dapat membantu penerapan layanan cepat tanggap ( quick response) dari sebuah perusahaan maupun instansi dalam operasional pelayanan dengan menggunakan armada kendaraannya; antara lain dibutuhkan oleh:
a.Kepolisian,
b.Perusahaan Taksi,

c.Perusahaan Courier Service,

d.Operator Jalan Tol

2. Security

Sistem ini dapat membantu pengamanan armada kendaraan perusahaan dari pencurian, penggelapan, maupun perampokan angkutan barang; antara lain dibutuhkan oleh:

a.Perusahaan Cash Management,

b.Perusahaan Jasa Angkutan Barang dan Logistik,

c.Perusahaan Rental Mobil.

3. Decoy

Sistem ini dapat membantu pihak kepolisian dalam pelaksanaan tugas pengungkapan tindak kejahatan pencurian kendaraan bermotor, dengan metoda pengumpanan kendaraan yang dipasangi GPS Vehicle Tracker.

4. Fleet Management

Sistem ini dapat membantu pengelolaan armada kendaraan dari sebuah perusahaan antara lain dibutuhkan oleh: Perusahaan Jasa Angkutan Barang dan Logistik, Perusahaan Transportasi Publik, Perusahaan Courier Service
Karena analisis data informasi hasil pemantauan perjalanan kendaraan bermanfaat untuk digunakan dalam menunjang pengelolaan dan pengamanan armada kendaraan, seperti pengawasan pelaksanaan Standar Operasional Prosedur ( SOP) pemakaian kendaraan dan disiplin pengemudi, untuk membantu meningkatkan produktifitas dan efesiensi pemakaian kendaraan serta menurunkan biaya operasional armada kendaraan.

3.4.           Perkembangan Sistem Informasi pada Shuttle Express

 

Pengembangan bisnis Shuttle Express tidak lepas dari penggunaan Hardware dan Software .Software yang dapat dimiliki atau digunakan secara sah setelah “membeli” atau “membayar” lisensi pemakainnya. Sebagian besar software yang dipakai oleh perusahaan merupakan jenis software berbayar atau  berlisensi, seperti system operasi Windows, MS Office, ArcView, dll. Software jenis ini biasanya memiliki kemampuan terbaik dengan dukungan service dan pengembangan yang sangat bagus. Selain menggunakan software berbayar, perusahaan ini juga menggunakan software open source. Software OpenSource. Software ini dikembangkan secara bersama‐sama dan bersifat “terbuka” sehingga penggunaan dan pendistribusian dapat dilakukan secara bebas dan “sah” atau “legal” tanpa harus membayar atau gratis. Bahkan para pemakai diperbolehkan untuk merubah dan mengembangkan sendiri untuk selanjutnya didistribusikan lagi. Jenis lisensi ini dikenal dengan nama General Public Licence (GPL). Contoh software yang digunakan adalah software untuk pemesanan kendaraan.

Pada tahun 1993, apabila kita ingin menggunakan jasa angkutan dari Shuttle Express maka sistem pelayanannya masih manual. Pelanggan diharuskan mendaftar terlebih dahulu serta pembagian jadwal kendaraan operasional menggunakan sistem manual menggunakan kertas (paper based system) dan rute kendaraannya masih menggunakan peta yang ditempelkan di papan tulis. Selain itu apabila alamat pelanggan tidak ditemukan maka perusahaan terpaksa mencarikan kendaraan lain sebagai gantinya akibatnya perusahan mengeluarkan biaya tambahan.

Dengan berubahnya sistem Shuttle Express dari paper based system ke computer based system, perusahaan tidak lagi menggunakan sistem manual. Perusahaan melakukan pengembangan perangkat lunak yang dilengkapi  dengan jaringan telepon, 12 unit computer NEC 486 yang digunakan pada sistem reservasi (pemesanan) dan 4 unit computer NEC 486 untuk sistem pembagi (dispatch) yang dilengkapi dengan hardisk berkapasitas 1,2 GB, server Digital Equipment Alpha AXP dengan spesifikasi RAM 128 MB, lalu pengemudi dilengkapi dengan Pager yang berfungsi untuk menerima nomor reservasi penumpang yang akan dijemput sesuai tujuannya. Semua perintah dikendalikan dari computer dispatch yang diterima pengemudi dan terbaca di layar pager mereka.

Dengan masuknya sistem informasi ini, Shuttle Express mampu menangani reservasi hingga mencapai angka 695.000 lebih pesanan dengan rata-rata melayani penumpang sekitar 1.500 orang dari dan ke bandar udara setiap hari serta dapat mengefisienkan waktu perjalanan pada setiap rute yang seharusnya 8 jam menjadi 3 jam saja. Selain itu, juga terjadi pengefisienan tenaga kerja sebagai operator dispatcher dari 3 orang operator dispatcher setiap shit menjadi 2 orang pada shift pagi dan satu orang pada shift sore.

 

 

Tabel Matrix Komponen Shuttle Express Pada Tahun 1995

 

 

3.5 Perkembangan Shuttle Express Saat  Ini

 

Untuk meningkatkan performa dalam melakukan kegiatan operasional perusahaan dan menaikkan daya saing bisnis terhadap perusahaan sejenis yang bergerak di bidang jasa pengangkutan, perusahaan jasa pengangkutan Shuttle Express mulai menerapkan sistem informasi yang mengikuti perkembangan zaman. Kebutuhan akan teknologi informasi seperti perangkat keras (hardware) dan teknologi perangkat lunak (software) juga mengalami perubahan sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Salah satu teknologi perangkat lunak yang digunakan adalah website yang berguna sebagai media komunikasi antara perusahaan Shuttle Express dengan para pelanggannya.

3.5.1 Komponen Sistem Informasi Pada Tahun 2013

Perkembangan teknologi informasi (TI) yang sangat pesat saat ini seperti aplikasi sistem on-line lewat internet dan pemantauan posisi lokasi (Global Positioning System) merupakan anugerah bagi dunia usaha dan juga kegunaan individu atau perorangan. Shuttle Express juga memanfaatkan kemajuan teknlogi ini dalam pembangunan dan pengembangan sistem informasi yang telah dimilkinya. Pemanfaatan teknologi teknologi baru ini memungkinkan Shuttle Express untuk menambahkan layanan layanan atau service baru kepada para customer-nya, dan juga untuk memperbaiki sistem kontrol atau kendali terhadap operasional perusahaan, baik dalam pemantauan semua armada kendaraan di lapangan maupun untuk percepatan dan perbaikan dalam proses internal seperti sistem metode cara pembayaran, pencetakan tanda terima (kuintansi/receipt), percepatan reservasi maupun pembatalan, komunikasi yang lebih cepat para sopir dan lain-lain. Berbagai pengembangan terhadap perangkat keras maupun perangkat lunak yang dilakukan oleh Shuttle Express adalah sebagai berikut :

1. Melakukan upgrade pada perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software)

2. Pemanfaatan Teknologi GPS (Global Positioning System)

Keberadaan Global Positioning System (GPS) telah dimanfaatkan secara luas dalam bidang bisnis maupun untuk keperluan pribadi, dengan membawa penerima atau receiver GPS maka keberdaaan atau posisi seseorang atau benda lainnya baik diam maupun bergerak dengan mudah dapat diketahui. Keberadaan GPS sangat mendukung berbagai pelayanan yang dimiliki oleh Shuttle Express, yang saat ini meliputi :

a. Seattle sightseeing tours and charters

b. Share Ride and exclusive van service

c. Sedan-limo service/Town Car-limo service

d. Cruise transfers

e. Convention transfers

f. Wine tasting

 

3. Penggunaan jaringan GSM (Edge,3G, 4G) dan telephone cellular sebagai pengganti pager dan komunikasi GPS di mobil dengan server

4. Pemesanan online melalui internet

Pemesanan dapat dilakukan secara online melalui internet, selain melalui layanan telepon (24 jam), Shuttle Express mendorong agar para customer melakukan pemesanan secara online, karena akan lebih hemat waktu dan uang. Pemesanan online dengan mengakses situs atau website Shuttle Express pada situs resminya di www.shuttleexpress.

 

5. Pembayaran Online (online payment)

Untuk pembayaran selain dapat dilakukan dengan cash, local check, credit/debit card, traveller check, customer juga dapat melakukan pembayaran pada saat melaksanakan pemesanan online lewat internet melalui situs www.shuttle.express.com dengan memilih opsi credit card pada saat pemesanan. Untuk memperoleh print out kuintansi pembayaran data yang diperlukan adalah nomor pemesanan, dan salah satu informasi yang dipergunakan pada saat pemesanan seperti alamat e-mail atau nomor telepon.

 

 

6. Penggunaan Internet sebagai Media Komunikasi

Teknologi yang banyak digunakan perusahaan dalam memfasilitasi komunikasi dengan konsumennya adalah internet. Efisiensi bisnis ditingkatkan melalui kecepatan, kemampuan pemrosesan informasi dan konektivitas teknologi dimana internet menjadi bagian dalam meningkatkan komunikasi dan kerjasama (O’Brien, 2005). Di dunia bisnis, internet tidak hanya menjadi tempat pertukaran informasi melainkan alat untuk aplikasi strategi bisnis seperti pemasaran, pelayanan dan penjualan. Internet menjadi solusi praktis karena dianggap efektif dalam segi pembiayaan untuk mempublikasikan informasi, efisien dalam segi bisnis yang dapat digunakan setiap saat, dan dari segi biaya tergolong murah jika dibandingkan media iklan lainnya. Penggunaan internet sebagai media komunikasi ke pelanggan juga diterapkan oleh Shuttle Express. Berikut beberapa media komunikasi yang digunakan oleh Shuttle Express :

 

a. Web

 

b. Facebook

c. Twitter

 

d. Email

 

e. Youtube

 

 

Aktivitas SI

Sumber Daya Hardware dan Network

Sumber Daya Software

Sumber Daya Manusia

Sumber Daya Data

Produk

 Informasi

Mesin

Media

Program

Prosedur

Spesialis

Pengguna

Input

  • Workstation PC HP  Pavilion P6521L

 

 

  • Form Kertas
  • Jaringan LAN
    • Windows XP
    • ·  Program Reservasi
      • Data entry Procedures
 

~

  •   Pegawai     Reservasi
  • Pelanggan

 

  • Data Van
  • Data Sopir
  • Data Pelanggan
  • Data Lokasi
  • Data Trip
  • Data Reservasi

 

  • Data Entry Display

Processing

  •  Server intel xeon quad core E5620 box
  • Workstation PC HP Pavilion P6521L
  • Komunikasi
  • Jaringan Komunikasi
  • · Windows XP
  • · Program Reservasi
  • · Program Dispatch
    • ·  Transaksi Reservasi dari Dispatch

~

~

 
  • · Status Display

 

 

Output

  • Workstation PC HP  Pavilion P6521L
  • · Handphone
  • · Printer
  • · Kertas Bill
    • · Kertas Laporan
    • · Program Reservasi
    • · Program Dispatch
    • · Windows XP
      • · Penggunaan dan Distribusi Output

~

  • · Pegawai
  • · Pelanggan
  • · Manajer
 
  • Bill
    • · Konfirmasi Jadwal
    • · Jadwal Trip di Handphone
    • · Informasi di Layar

Storage

Mengetik Disc Drive Seagate 500Gb NS
  • · MS Office Access 2007
  • · Windows XP
    • · Prosedur Backup
    • · Supervisor
    • · Operator
    • · Pegawai
 

~

Control

  •   Server
  •   Pager
    •   Workstation PC NEC
    • · Kertas Dokumen
    • · laporan Pengendalian
    • · Program Monitoring
   Performance

  • · Program Monitoring   Keamanan
    • ·  Prosedur   Koreksi
    • · Supervisor
    • · Operator
    • · Pegawai
    • · Pelanggan
    • · Manajer

  • IDEM
  • Audio Signal

Matriks Sistem Informasi Shuttle Express Pada Saat Ini


BAB IV. PENUTUP

4.1 Kesimpulan

 

Dari hasil penjabaran tersebut maka dapat disimpulkan bahwa Shuttle Express adalah suatu perusahaan yang dapat memanfaatkan keunggulan sistem informasi untuk mensukseskan rantai bisnisnya. Kemudahan dan keuntungan tidak hanya dapat dirasakan oleh perusahaan tetapi juga semua masyarakat. Oleh karena itu pemanfaatan sistem informasi ini sangat berdampak yang signifikan bagi perusahaan, konsumen maupun stakeholder.

Selain itu sistem layanan yang digunakan oleh Shuttle Express adalah sistem layanan yang terpadu. Dari top level management hingga sopir memakai sistem informasi terpadu dan saling berintegrasi dalam berkomunikasi, sehingga database pelanggan yang dimiliki oleh perusahaan memudahkan pencarian pelanggan yang telah didaftarkan sebelumnya. Dengan sistem pengumpulan dan pengolahan database pelanggan yang terpadu, prosedur pemesanan layanan antar Shuttle Express semakin mudah. Inilah yang menjadi pendorong dalam perkembangan usaha Shuttle Express. Salah satu rahasia keberhasilan implementasi Sistem Informasi di ShuttleExpress adalah karena dilibatkannya karyawan dalam pembuatan dan penggelaran (development and deployment) Sistem Informasi (SI) yang tengah dirancang oleh ShuttleExpress. Hal tersebut berdampak bagi kemajuan perusahaan dalam meningkatkan usahanya sehingga dapat bersaing dengan kompetitor dalam bisnis yang sama terbukti dengan semakin eksis keberadaanya.

 

4.2 Saran

Agar tetap selalu berkemabang dan up to date maka beberapa saran berikut ini kami sampaikan yaitu :

 

a. Tetap dilakukan perbaikan mengenai update software untuk mengetahui perkembangan yang ada.

b. Lakukan security system agar tidak terjadi gangguan terhadap penggunaan software dan jalannya bisnis.

c. Lakukan perawatan berkala khususnya terhadap backup system sehingga perlindungan tetap ada bila terjadi kegagalan sistem.

d. Tetap lakukan analisis yang mendalam walaupun Decision Support System telah membantu perusahaan dalam mengambil keputusan.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Ismail, M. 2004. Konsep Sitem Informasi Manajemen. http://library.usu.ac.id       [Tanggal akses: 28 Januari 2014].

Laudon, K. C., & Laudon, J. P. (2009). Essentials of Management Information Systems. New Jersey: Pearson Prentice Hall.

O’Brien, James A. 2007. Pengantar Sistem Informasi, Perspektif Bisnis dan Manajerial.

Edisi 12. Terjemahan: Introduction to Information Systems, 12th Ed. Palupi W.

(editor), Dewi F. dan Deny A. K. (penerjemah). Salemba Empat. Jakarta.

Sutabri, Tata, Analisis Sistem Informasi, ANDI, 2012, Yogyakarta

Sutarman, 2012, Pengantar Teknologi Informasi. Jakarta: Bumi Aksara.

[Shuttle Express]. 2012. Shuttle Express dalam http://www.shuttleexpress.com

[Diakses pada 28Januari 2014]

Wikipedia. 2014. Sistem Informasi Manajemen. http://id.wikipedia.org [Tanggal akses: 28 Januari 2014].

http://en.wikipedia.org/wiki/Programmed_Data_Procesor

http://www.inxservice.com

http://shuttleexpress.com/about/default

Comments Off on TUGAS MAKALAH SIM SHUTTLE EXPRESS

Profile photo of david47e

PENGGUNAAN SISTEM INFORMASI PADA TESCO : HOMEPLUS

PENGGUNAAN SISTEM INFORMASI PADA
TESCO : HOMEPLUS

 

oleh:

                            1.David Nathanael S.                P056131624.47E

                            2. Dian Nurhadiatin                  P056131662.47E

                            3. Eri Septyawardani                P056131702.47E

                            4. Faldy Baskoro                       P056131712.47E

                            5. Purwantoro                           P056131852.47E

                            6. Tyastuti Rahayu                    P056131902.47E

                            7. Viga Fakoano                        P056131912.47E

 

Dosen Pengajar : Dr. Ir. Arif Imam Suroso, MSc

 

Program Studi Pascasarjana

Magister Manajemen Bisnis

Institut Pertanian Bogor

Januari, 2014


BAB I

 PENDAHULUAN

 

 

1.1 Latar Belakang

Pada saat ini, segala aspek kehidupan telah mampu berkembang dengan pesatnya, perkembangan tersebut beriringan pula dengan perkembangan masyarakat dari masyarakat yang tradisional ke masyarakat yang modern. Secara otomatis perkembangan tersebut menuntut masyarakat ke arah globalisasi. Kebutuhan manusia semakin meningkat, akan tetapi manusia dituntut untuk dapat memenuhi segala macam kebutuhannya dalam waktu yang cepat sehingga dapat mengefisienkan waktu yang dimilikinya. Salah satu alat yang dapat mempermudah kehidupan manusia adalah teknologi informasi dan komunikasi.

Teknologi informasi dan komunikasi saat ini telah berkembang pesat. Internet merupakan salah satu teknologi informasi dan komunikasi. Banyak hal baru yang timbul dari berkembangnya internet, salah satunya adalah pembelian atau penjualan barang atau jasa secara online. Berbelanja barang atau jasa secara online telah menjadi alternatif untuk memenuhi kebutuhan manusia yang ingin serba praktis dan cepat. Sedangkan bagi penjual media online memberikan keuntungan berupa kesempatan pemasaran menjadi lebih luas dan efisien.Penjualan secara online berkembang baik dari segi pelayanan, efektifitas, keamanan, dan juga popularitas. Pertimbangan dunia bisnis saat ini perusahaan menggunakan internet sebagai cara untuk menjangkau pelanggan secara global.

Menurut data yang diriliseMarketer pada Juni 2013, pertumbuhan nilai transaksi e-commerce di dunia 2 Milyar dollar Amerika. Pada tahun 2012 nilai transaksi sebesar $ 1,042.98 dan meningkat sebesar $ 1,221.29 pada tahun 2013. Bisnise-commerce merupakan model bisnis yang tidak memerlukan investasi besar baik di awal maupun operasionalnya.

E-commerce semakin berkembang dikarenakan berkembangnya teknologi informasi. Saat ini dengan konektivitas internet dan menjamurnya perangkat elektronik yang memiliki kemampuan untuk melakukan transaksi elektronik, maka melakukan online shop bukanlah sesuatu yang asing.

 

 

1.2 Tujuan

Tujuan penulisan makalah ini adalah:

1. Mengetahui sistem teknologi informasi yang digunakan dalam Perusahaan TESCO.

2.  Mengetahui competetive forces pada Homeplus& strategi penyelesaiannya.

 

1.3 Perumusan Masalah

1. Bagaimanakah sistem informasi yang digunakan pada Homeplus?

2. Bagaimana analisis SWOT, value change, dan strategi Homeplus?

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1 QR Code

QR Code (Quick Response Code), merupakan sebuah barcode 2 dimensi yang digunakan untuk menyimpan informasi di setiap item barang. Informasi yang terdapat didalam QR Code dapat menyimpan data seperti; huruf, angka, dan binari. Sistem ini telah banyak dipakai oleh perusahaan karena kemampuannya yang dapat menyimpan informasi 10 kali lebih banyak dari pada barcode standar, dan mudah digunakannya dalam kehidupan sehari–hari. Saat ini telah banyak berkembang dengan cepat mengenai penggunaan QR Code dalam periklanan di media, terutama telepon genggam. Seiring berkembangnya industri telekomunikasi dan telepon genggam, menjadi katalis bagi penggunaan QR Code. Para pengguna hanya mengunduh decoder QR code dan bisa mendapatkan informasi dengan cara memindai. Hal ini mempermudah tim marketing dalam hal mengimplementasikan sistem pengkodean data di periklanan, dan mendorong para konsumen untuk memindai iklan tersebut.

Berikutnya, ada beberapa karakteristik yang mendorong QR Code dapat dijadikan media iklan suatu barang.  QR Code dapat dengan mudah untuk dipindai dalam 360 derajat, sehingga memudahkan pihak produsen dan konsumen. Pihak konsumen diuntungkan dengan kenyamanan dalam penggunaan dan seiring dengan itu pihak produsen dapat keuntungan dari proporsi konversi (menaikan jumlah peluang ketika konsumen memindai suatu iklan, menjadi transaksi penjualan).

 

2.1.1    PenggunaanQR Code

QR Code dapat digunakan oleh semua sistem operasi perangkat telpon seperti; iOS, android, blackberry, dan windows phone. Berikutnya, perkembangan yang pesat dalam penggunaan QR Code dapat  dilihat dalam toko virtual dan kode pembayaran. Pada toko virtual, berdasarkan studi kasus, terdapat lebih dari 14 juta pengguna telpon genggam yang menggunakan pemindai QR Code. Hal ini menjadi alasan bagi retailer untuk mengadopsi sistem tersebut. Pada kode pembayaran, QR Code dapat digunakan untuk menyimpan informasi akun perbankan dan dapat digunakan untuk transaksi pembayaran (Singh and Bamoriya 2013).

 

2.2 E-commerce

Electronic Commerce atau biasa disebut dengan e-commerce, telah berkembang pesat dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir ini. E-commerce memudahkan produsen untuk memasarkan barang kepada pasar, karena menggunakan tehnologi internet (Tahat 2005). Hal ini memungkinkan bagi para produsen dan konsumen untuk melakukan transaksi tanpa harus bertemu secara fisik.  Menurut Laudon & Laudon (1998), e-commerce adalah suatu proses membeli dan menjual produk–produk secara elektronik oleh konsumen dan dari perusahaan ke perusahaan dengan komputer sebagai perantara transaksi bisnis.

Menurut David Baum (1999, pp. 36-34) yang diterjemahkan oleh Onno W. Purbo (2001), e-commerce merupakan satu set dinamis teknologi, aplikasi, dan proses bisnis yang menghubungkan perusahaan, konsumen, dan komunitas tertentu melalui transaksi elektronik dan perdagangan barang, pelayanan, dan informasi yang dilakukan secara elektronik. Sedangkan menurut Robert (2005), e-commerce merupakan suatu tindakan melakukan transaksi bisnis secara elektronik dengan menggunakan internet sebagai media komunikasi yang paling utama.

Pada website ECARM (The Society For Electronic Commerce And Rights Management) dijelaskan bahwa e-commerce secara umum menunjukkan seluruh bentuk transaksi yang berhubungan dengan aktifitas-aktifitas perdagangan, termasuk organisasi dan perorangan yang berdasarkan pada pemrosesan dan transmisi data dijital termasuk teks, suara, dan gambar-gambar visual.Perangkat yang diperlukan untuk mendukung e-commerce adalah komputer, telepon genggam, atau device yang dapat terhubung dengan World Wide Web.

Berdasarkan artikel Eurostat (2013), perkembangan e-commerce telah mendukung proses penjualan bagi produsen secara signifikan di negara berkembang dan negara maju. E-commerce mampu menaikan tingkat penjualan dari 20-30%. Hal ini membuktikan, bahwa e-commerce menjadi alat yang efektif dan efisien untuk menunjang proses transaksi bagi berbagai perusahaan. Terdapat 4 kelompok e-commerce, yaitu: Business to Business, Business to Consumer, Business to Government, dan Consumer to Consumer.

 

2.2.1    Business to Business

Business to Business adalah proses e-commerce antara perusahaan dengan perusahaan. Hal ini memungkinkan perusahaan untuk mendesain supply chain yang lebih efektif dan efisien, seringkali proses ini berkaitan dengan barang mentah yang akan diproduksi oleh suatu perusahaan. Sebagai contoh dari B2B adalah transaksi antara distributor dengan retailer.

 

2.2.2    Business to Consumer

Business to Consumer adalah proses e-commerce yang memfasilitasi konsumen untuk mengetahui produk produk yang dijual oleh pihak produsen berikut dengan informasi mengenai produk tersebut. Saat ini e-commerce B2C telah banyak digunakan oleh para pihak retailer untuk mendapatkan potensi market yang lebih besar.

 

2.2.3    Business to Government

Business to Government memiliki persamaan dengan B2B. Perbedaan dari B2B adalah pada business to government, para produsen memberikan informasi mengenai perusahaan tersebut berikut dengan informasi produk kepada pemerintah dari level pemerintah daerah sampai dengan pemerintah pusat.

 

2.2.4    Consumer to Consumer

Consumer to Consumer merupakan salah satu dari e-commerce yang memfasilitasi pihak konsumen dengan konsumen untuk terjadinya proses jual beli barang di internet. Domain pada salah satu internet hanya menjadi media tempat bertemunya para konsumen yang ingin menjual barang, sehingga konsumen dapat memilih suatu barang dari beberapa konsumen yang menjual. Cara ini telah banyak dilakukan oleh beberapa pihak, sebagai contoh yang paling tenar adalah Ebay.

 

2.2.5    Transaksi Pembayaran e-Commerce

Menurut Julizvar (1998), konsultan dari Hewlett Packard (HP) Indonesia untuk terciptanya sistem pembayaran via internet memang dibutuhkan kesepakatan berbagai pihak, terutama dari pihak lembaga keuangan, merchant dan konsumen. Pihak-pihak lainnya yang biasanya terlibat untuk mendukung sistem pembayaran internet adalah penyedia sertifikat digital, baik untuk Visa (misalnya VeriSign) maupun MasterCard (misalnya GTE) dan perusahaan pemroses transaksi kartu kredit.

Metode Three Party Payment System atau disebut juga verifikasi pihak ketiga, yaitu terdapat pihak ketiga yang berfungsi sebagai tempat atau gerbang pembayaran (payment gateway).Cara kerjanya yaitu cardholder memberikan informasi credit cardkepada pihak ketiga dan payment gateway akan melakukan otorisasi lalu mengirimkan hasil otorisasi berupa suatu kode kepada merchant, kemudian merchant akan mengirimkan barang kepada pembeli (cardholder). Salah satu contoh adalah menggunakan SET (Secure Electronic Transaction).

 


BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

3.1 Profil Perusahaan

Homeplus adalah perusahaan ritel yang berasal dari Korea. Homeplus adalah anak perusahaan dari Tesco, sebuah perusahaan ritel yang berasal dari Inggris. Homeplus adalah perusahaan ritel terbesar kedua setelah Grup Shingsegae.

 

3.2 Bisnis Perusahaan

       Homeplus beroperasi dengan mengambil konsep hypermart dan sistem belanja online. Dengan kata lain, Homeplus menyediakan berbagai kebutuhan masyarakat dengan sistem pengantaran kerumah. Jadi, konsumen tidak perlu membawa barang belanjaan secara fisik, tapi cukup memilih barang dan menunggu barang tersebut diantar ke tempat tujuan.

Homeplus menyediakan berbagai kebutuhan rumah tangga, seperti pakaian, elektronik dan barang-barang pendukung lainnya. Mereka juga menjual barang-barang seperti makanan cepat saji, tiket-tiket perjalanan wisata, obat-obatan atau bahkan buku-buku bacaan. Homeplus memang ingin membuat sebuah hypermart yang menyediakan berbagai kebutuhan dengan sistem online.

Pada tahun 2011, Homeplus membuka supermarket virtual yang pertama di dunia di Stasiun Seolleung dan jaringan kereta bawah tanah kota Seoul. Disebut virtual karena konsumen cukup memfoto QR code barang yang ingin dibeli yang tertera di dinding atau platforms ditempat yang disediakan. Konsumen cukup menunggu barang yang dibeli tadi dirumah dan akan diantar di hari yang sama.

 

3.3 Sistem Informasi Perusahaan

 

3.3.1    Stakeholder

Sebagai sebuah entitas, perusahaan ini melibatkan stakeholder yang turut mendukung jalannya bisnis ini. Keterlibatan stakeholder ini mulai dari produsen, pemasok sampai ke pelanggan. Secara singkat akan dijelaskan stakeholder yang terlibat seperti di bawah ini:

–    Produsen; sebagai pemasok langsung untuk produk-produk yang bisa secara langsung dapat di beli tanpa melalui distributor produk tersebut.

–    Suplier/distributor; sebagai pemasok untuk produk yang proses pembeliannya tidak bisa langsung ke produsen dan haarus melalui jaringan distribusi yang ditunjuk untuk menjual produknya dari produsen. Seperti diketahui,supplier dari bisnis ritel atau convenience store adalah berbagai perusahaan yang memproduksi atau mendistribusikan komoditas pertanian, seperti buah-buahan dan sayur-sayuran.

–    Perusahaan distribusi dan logistik; yang menjalankan supply chain. Stakeholder ini akan menjadi partner utama dalam menjalankan pengangkutan pasokan barang dan management suply chain sekaligus untuk malakukan pengiriman pesanan ke pelanggan.

–    Penyelenggara system komunikasi; stakeholder ini menyelenggarakan jasa telekomunikasi dan pertukaran informasi untuk melakukan transaksi bisnis virtual ini. Ada beberapa provider yang akan terlibat misalnya penyelenggara sistem komunikasi handheld (handphone) sebagai interface yang menghubungkan pelengan dengan perusahaan virtual shop online.

– Penyelenggara komunikasi digital(internet provider); berpartisipasi dalam penyelenggaraan bisnis ini mulai dari penerimaan order dari pelanggan, pembayaran online, pengelolaan pengadaan barang dan dan distribusi barang.

–    Bank; proses pembayaran online ini akan melibatkan bank sebagai pelaksana trasaksi keuangan sebagai komitmen setelah transaksi pembelian dilakukan. Bank juga akan perfungsi sebagai penjamin pemnbayaran ke suplier dan produsen.

–    Pelanggan; adalah target pasar yang akan membeli produk yang dipasarkan oleh perusahaan.Pelanggan dari sistem ini adalah individu. Kami khususkan lagi kustomer yang menjadi sasarannya adalah individu-individu yang sibuk, yang kurang memiliki waktu untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari.

 

3.3.2    Network

          Dalam menjalankan bisnisnya Homeplus yang mengemukanan sistem informasi sebagai infrastruktur utama mengunakan berbagai jenis layanan seperti dijelaskan dalam gambar berikut:

 

–       Intranet

Jaringan intranet digunakan untuk komunikasi antara main server dan gudang penyimpanan terdekat dengan pemesan atau kustomer. Ketika kustomer memesan barang, maka secara otomatis device kustomer akan mengirimkan specific customer number yang akan terbaca di main server sebagai data pesanan atau invoice. Main server akan menginfokan dan mengirimkan data pesanan kepada server di gudang yang terdekat dengan alamat pengiriman barang.

–       Extranet

Extranet dalam proses bisnis ini berguna untuk menghubungkan supplier dengan kustomer dan bank.Hubungan antara supplier dan toko ini dihubungkan oleh extranet yang berguna untuk melihat jumlah barang yang tersedia dalam setiap gudang. Dengan dukungan jaringan ini, maka kami sebagai pelaku bisnis tidak perlu memesan barang dengan menggunakan telpon lagi, tapi cukup order by web yang terintegrasi dengan supplier.Untuk kelancaran pembayaran, maka extranet ini berguna sebagai penghubung antar bank dan sistem informasi akuntansi kami. Dikarenakan sistem pembayarannya menggunakan sistem cashless, maka kustomer wajib memiliki minimal kartu debet dari bank yang bekerja sama dengan kami. Secara otomatis sistem akan mendebet tabungan kustomer dan akan mengkreditkan rekening perusahaan.

–       Internet

Internet dalam bisnis kami adalah jaringan utama yang menghubungkan antara perusahaan dengan kustomer. Tanpa internet, maka secara langsung perusahaan kami tidak akan memiliki kontak langsung dengan kustomer, yang artinya tidak akan ada penjualan.

 

 

Jaringan internet yang digunakan adalah jaringan seluler yang terhubung dengan mainserver kami. Kostumer menggunakan jaringan ini untuk memesan barang yang diinginkan dan internet akan secara langsung mengirimkan pesanan tersebut ke jaringan kami.

 

3.3.3    Teknologi

  1. Web

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, untuk jaringan pemesanan dalam bisnis Homeplus adalah dengan menggunakan jaringan selular. Konsumen cukup memfoto QC Code yang tertera dalam product catalog yang tersebar di tempat yang disediakan oleh Homeplus.

 

Kosumen akan memilih pesanan mereka dan akan memasukan daftar belanja mereka kedalam keranjang belanja secara virtual. Setelah melakukan verifikasi dan melakukan pembayaran secara debet tabungan atau menggunakan kartu kredit, maka secara otomatis pesanan tersebut akan terekam ke main server dan kemudian diteruskan kepada storage server yang kemudian akan diproses untuk dikirimkan kepada pemesan.

 

3.3.4        Benefit

  1. Core Company

Bagi Homeplus, tentunya sistem belanja QC code virtual shop ini sangat menguntungkan. Selain cara baru dalam berbelanja yang belum pernah ada sebelumnya di dunia, cara ini akan menghemat dari sisi pengeluaran tetap perusahaan. Maksudnya adalah dengan QC code virtual shop, Homeplus tidak perlu membangun toko disetiap pemukiman penduduk. Cukup dengan sistem pengantaran kerumah, kami sudah bisa melayani pelanggan. Tidak perlu lagi kami survei tempat untuk membangun toko, membayar tagihan-tagihan tetap bulanan, atau bahkan membangun toko itu sendiri.

Selain keuntungan dari segi fisik bangunan, sistem QC code virtual shop akan meningkatkan angka penjualan bagi perusahaan. Secara signifikan angka penjualan akan meningkat karena pelanggan bisa mengakses kegiatan jual beli dimana saja selama tersedia catalog dan perangkat handphone.

Bisnis e-commerce yang dikembangkan ini sesuai dengan target market yang di buat dan pengguna yang akan menjadi calon pembeli produk yang kita tawarkan. Dari analisa rantai nilai (value chain analysis) dapat di definisikan benefit yang akan diterima oleh perusahaan dengan menjalankan bisnis ini.

1. Revenue, dalam skala bisnis keuntungan dapat di ambil dari berbagai rantai yang terjadi selama bisnis ini berjalan. Tentu saja utamanya dalah pendapatan dari selisih harga jual dan harga beli yang terjadi pada semua transaksi yang ada.

2. Iklan, perusahaan ini menggunakan sistem virtual store dimana katalog produk yang di tawarkan dapat di display melalui beberapa metode.

Brochure: perusahaan menggunakan brosur yang sudah dilengkapi dengan barcode untuk trasaksi pembelian oleh user dengan menggunakan handphone.

– Pamflet dan poster yang di pasang di lokasi strategis dimana target customer berada. Dari pemasangan pamflet dan brosur ini perusahaan bisa menarik fee untuk promosi produk kepada produsen dari produk yang kita pasarkan.

3. Cost saving, dengan menggunakan teknologi informasi semua transaksi dengan pelanggan dapat dilakukan secara vitual dengan tidak mengunakan tenaga kerja sehingga bisa menghemat cost operasional perusahaan yang pada akhirnya akan meningkatkan keunggulan perusahaan dari sisi cost dan harga jual.

4. Ketepatan delivery, dengan menggunakan ERP yang dipadukan dengan suply chain untuk kepentingan logistik dan distribusi produk yang diperjualbelikan, paling tidak perusahaan bisa mendapatkan dua benefit;

– Jaminan akan adanya sistem delivery yang handal sehingga tingkat kepastian pengiriman barang ke pelanggan lebih dapat andalkan.

– Jaminan akan kepastian untuk mendapatkan barang dari suplier atau produser yang lebih terpercaya karena sudah ada sistem yang mengatur secara online atas semua produk yang di butukan.

5. Sistem pembayaran online memungkinkan perushaan nntuk menerima pembayaran saat transaksi dilakukan. Dengan bekerjasama dengan online banking juga memudahkan pelanggan untuk melakukan pembayaran dengan relatif mudah.

 

  1. 2.    Stakeholders

 

Seperti ditabulasikan pada Tabel 1, bahwa perkembangan kepemilikan mobile phonepada tahun 2015 akan mencapai 4,85 billion user. Itu artinya lebih dari setengah umat manusia di planet ini (67% dengan jumlah populasi sebersar 7,25 billion ditahun 2015) akan menggunakan handphone. Wilson Kerr, seorang pakar dalam urusan pembangunan situs dan e-commerce­ menyatakan bahwa m-commerce akan meledak dikemudian hari sehingga ada baiknya seluruh perusahaan yang bergerak dibidang e-commerce­ perlu menjadi perusahaan yang bergerak dibidang m-commerce (diy-marketing.blogspot.com). Hal ini akan sangat berkaitan dengan jumlah transaksi perbankan yang bekerja sama dengan persusahaan kami.

Bayangkan bila akan banyak orang, terutama wanita karir yang membawa handphone atau tab dan mereka bisa berbelanja distasiun kereta atau terminal tanpa harus menenteng keranjang atau kantong plastik. Mereka cukup memfoto QR code dari komoditi yang akan mereka beli dan menunggu dirumah. Jumlah transaksi perbankan mereka, terutama kartu kredit akan meningkat signifikan. Contoh nyata penerapan QR code dapat meningkatkan penjualan adalah pada perusahaan Verizon. Penjualan Verizon mengingkat 200% dalam jangka waktu satu minggu promosi. Bila diuangkan maka pendapatan Verizon bertambah US$ 35.000 untuk biaya promosi sekitar US$ 1000. Verizon menggunakan sarana social media seperti Facebook untuk promosi barangnya (www.instant.ly).

Benefit yang lain juga akan didapatkan oleh stakeholder tapi lebih banyak mereka menerima benefit atau manfaat dari penggunaan jasa yang merekan tawarkan ke perusahaan. Sebagai contoh Bank akan menerima lebih banyak aliran transaksi keuangan dalam proses pembayaran, perusahaan logistic dan suply chain akan menjalin bisnis dengan perusahaan dengan menjadi bagian dari sistem expedisi barang yang di perdagangkan. Perusahaan internet dan telekomunikasi akan menerima lebih banyak income dari penggunaan pelayanan mereka yang makin meningkat.

 

3.3.5    Strategi

  1. Analisiscompetitive force

 a. Potential entrants

Bisnis dengan menggunakan QR code adalah bisnis dengan dengan menggunakan teknologi dan sistem informasi. Dikarenakan Homeplus bergerak dibidang ritel dan sudah memiliki ukuran tersendiri dalam produknya, maka untuk potensi ancaman dari pendatang baru akan berkurang. Karena tidak banyak toko ritel atau convenience store yang rela menginvestasikan uang mereka untuk teknologi QR code ini.

b. Suppliers

Tidak bisa dipungkiri bahwa ketergantungan Homeplus akan supplier cukup besar. Untuk menjaga komoditas Homeplus tetap dalam keadaan standar minimum perusahaan, maka Homeplus akan banyak membutuhkan supplier. Homeplus pun kurang memiliki kekuatan untuk tawar menawar dengan supplier karena ketergantungannya cukup besar.

c. Subtitutes

Secara jelas terlihat bahwa Homeplus belum memiliki perusahaan pengganti atau pesaing yang sejenis. Karena umumnya perusahaan ritel masih mengandalkan toko fisik.

 

d. Bargaining power of costumer

Konsep virtual shop tidak memungkinkan untuk konsumen tawar menawar harga dengan pembeli karena tidak ada interaksi langsung. Tapi itu tidak menjadi alasan bahwa konsumen tidak memiliki bargaining power yang kuat. Bargaining power konsumen pada Homeplus terletak saat konsumen ingin membeli produknya dengan harga yang tidak kompetitif, maka konsumen akan beralih ke cara konvensional.

e. Intensity of competitive rivalry

Secara jelas terlihat bahwa Homeplus belum memiliki perusahaan pengganti atau pesaing yang sejenis. Karena umumnya perusahaan ritel masih mengandalkan toko fisik.

 

3.4 Analisa SWOT

a.    Kekuatan dan Peluang:

Bisnis perusahaan ini mampunyai keuntungan yang lebih baik dibandingkan dengan toko fisik yang perlu investasi dan pegawai yang harus di biayai dan akan membebani biaya penjualan produk secara keseluruhan. Sementara itu peluang muncul dengan sangat baik karena bertambahnya jumlah populasi penduduk dengan kategori tingkat ekonomi menengah yang sibuk dan melek teknologi. Dengan anaisa ini perusahaan akan mengembangan bisnisnya dengan membuka lebih banyak servise point/gudang untuk menjangkau lebih banyak pelanggan dan mempercepat pengiriman barang sampai pelanggan menjadi dalam hitungan jam saja.

 

b.    Kelemahan dan Peluang:

Belum dikenalnya sistem belanja ini oleh masyarakat luas sementara jumlah pelanggan potensial begitu banyak dan belum tersentuh, maka perusahaan harus melakukan pengenalan sistem belanja yang baru dan memperkenalkan mobile shoping dan virtual shop dari Homeplus ini sebagai satu paradigma berbelanja yang baru dan lebih efisien. Untuk itu perusahaan akan menganggarkan biaya untuk melakukan promosi baik melalui media jejaring sosial, web site, sms, pamflet/banner dan media masa.

 

c.    Kekuatan dan Ancaman:

Sebagai bisnis yang berbasis sistem informasi maka biaya penjualan (sales cost) akan lebih competitive dibandingkan dengan pasar swalayan. Akan tetapi jika pasar swalayan atau supermarket ini juga akan terjun menggunakan sistem yang sama dengan Homeplus untuk juga menjajakan produknya di dunia maya dengan sejenis virtual store mereka maka hal ini akan sangat mengancam keberlangsungan Homeplus. Oleh karena itu perusahaan akan melakukan pendekatan dengan perusahaan atau supermarket ini untuk menjalin kerjasama dengan melakukan internetwroking.

 

d.    Kelemahan dan Ancaman:

Ancaman akan masuknya pebisnis ritel besar ke model bisnis ini dengan kondisi sementara ini paradigma pelanggan belum berubah dari cara transaksi jual beli tradisional dan cara transaksi jual beli vitual untuk produk-produk kebutuhan pokok masih akan memberikan waktu bagi perusahaan untuk mengendalikan tingkat resiko dari kemungkinan tersebut. Akan tetapi, Homeplus harus tetap menjalankan strategi untuk mengajak bekerja sama para pemain retail yang ada sehingga saat paradigma model bisnis ini sudah diterima masyarakat Homeplus sudah siap dengan melakukan kerjasama dan mencegak ritel besar masuk ke model bisnis yang sama dengan Homeplus.

 

3.5    Analisa Strategik Perusahaan

Analisa perusahaan ini secara strategis dapat dijelaskan dalam bagan business model dibawah ini dimana Homeplus sudah menetapkan sebagai perusahaan yang bergerak di bidang e-commerce dengan menggandeng beberapa partner penting dalam bisnisnya.
Menurut Edward Dinu, betapa sangat dinamisnya e-commerce dewasa ini dibandingkan dengan tradisional commerce jelas terlihat dari competitive advantage yang dimiliki e-commerce: entry barrier yang sangat permisif, mudah di akses dengan investasi rendah untuk memulai bisnis ini, termasuk bisnis yang memiliki cash cycle relatif cepat dengan tingkat pengembalian modal yang baik meskipun dengan margin yang rendah.

Seperti terlihat dalam bisnis model Homeplus bahwa perusahaan ini menggunakan partner dalam menjalankan bisnisnya sehingga sacara keseluruhan cost yang  terjadi menjadi kecil, akan tetapi perusahaan ini juga tidak bisa menjual barangnya dengan harga yang sama dengan supermarket dan perusahaan ritel besar lainnya karena salah satu competitive advantage dari Homeplus yang harus dipertahankan adalah “Cost Leadership”.

Dalam konteksnya sebagai perusahaan yang harus menerapkan Cost Leadership sebagai keunggulan kompetitifnya maka strategi perusahaan untuk mengembangkan bisnisnya dapat dijelaskan sebagai berikut:

 

  1. Economies of Scale: Perushaan harus meningkatkan kinerja penjualan untuk menaikan revenue, hal ini bisa dilakukan dengan cara:

–       Memperbanyak channel yang harus dipakai perusahaan untuk menjangkau pelanggannya. Dalam hal ini Homeplus harus bisa menambah jalur distribusi dan service point (store) yang akan mendekatkan Homeplus dengan pelanggan.

–       Meningkatkan revenue dari penjualan produk dengan cara melakukan promosi dan menambah katalog produk di virtual store. Menambah range produk yang ditawarkan sehingga bisa memenuhi seluruh kebutuhan pelanggannya.

  1. Cost Control: Perusahaan haru melakukan kontrak jangka panjang dengan partner dan suplier agar mendapatkan purchase power dan kestabilan harga dari suplier sementara untuk harga jual Homeplus bisa melakukan perubahan kapanpun untuk menaikan revenue ternasuk kebebasan untuk melakuka promo dan discount. Kontrak jangka panjang ini harus dipilih untuk produk dan barang tertentu yang memang punya fluktuasi yang tidak menentu. Efek secara langsung adalah kestabilan cost dan pengendalian biaya yang lebih baik.

 

  1. Process Innovation:

–       Homeplus harus melakukan innovasi baik dalam penyedian platform pelayanan maupun media yang bisa dijadikan sarana untuk menjangkau peanggan dan melakukan transaksi karena hal ini merupakanresources utama perusahaan.

–       Mengembangkan kemudahan dalam pembayaran karena saat ini berbelanja dengan sistem vitrual dianggap sangat beresiko. Tidak ada jaminan resiko ini yang membuat virtual store kurang diminati.

–       Delivery juga merupakan area harus di invasikan. Bisnis semacam ini masih terkendala dengan mekanisme pengiriman yang rumit dan membutuhkan waktu yang lama untuk sampai menerima barang.

 

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

 

4.1 Kesimpulan

Homeplus merupakan sebuah online shop yang terintegrasi oleh sistem informasi yang mumpuni. Homeplus dalam bisnisnya didukung oleh sistem yang memungkinkan efisiensi dan efektifitas yang tinggi.Selain itu dukungan dari Tesco juga membuat Homeplus dapat kompetitif.

Penggunaan QR Code dan berbagai teknologi lainnya sesuai dengan pangsa pasar dari Homeplus sehingga memiliki pengaruh yang positif dalam penggunaannya. Homeplus sendiri memang menargetkan kelas menengah yang sedang berkembang dimana pada kelas tersebut sudah memiliki kemampuan mumpuni dalam bertransaksi secara online. Homeplus merupakan contoh kasus yang unik dimana sistem informasi yang baik dapat menjadi sesuatu nilai tambah bagi perusahaan.Sistem informasi memiliki peranan penting dalam bisnis Homeplus.

Analisis dan strategi untuk menghadapi competitive force pada perusahaan Homeplus, yaitu:

a. Potential entrants

Bisnis dengan menggunakan QR code adalah bisnis dengan dengan menggunakan teknologi dan sistem informasi. Dikarenakan perusahaan kami bergerak dibidang distribusi pangan dan sudah memiliki ukuran tersendiri dalam produknya, maka untuk potensi ancaman dari pendatang baru akan berkurang. Karena tidak banyak toko ritel atau convenience store yang rela menginvestasikan uang mereka untuk teknologi QR code ini. Untuk kedepannya juga kami akan bekerja sama dengan beberapa convenience store demi kemudahan bertransaksi.Untuk membendung ancaman perdagangan dari pendatang baru, maka kami akan membuat jaringan bisnis yang lebih besar. Contohnya adalah kami mengambil konsep virtual shop dari Korea Selatan. Masyarakat Korea Selatan cukup memfoto QR code pada catalog atau banner yang terletak di stasiun-stasiun atau terminal dan mereka akan mendapatkan semacam notifikasi di handphone  mereka.

b. Suppliers

Tidak bisa dipungkiri bahwa ketergantungan kami akan supplier cukup besar. Untuk menjaga komoditas kami tetap dalam keadaan standar minimum perusahaan, maka kami akan banyak membutuhkan supplier. Perusahaan kami pun kurang memiliki kekuatan untuk tawar menawar dengan supplier karena ketergantungan kami cukup besar.Tanpa mereka, bisnis kami akan tersendat karena tidak adanya komoditi yang akan kami jual. Yang bisa kami lakukan adalah memperbanyak jumlah suppliers agar pada saat satu tidak bisa memenuhi kebutuhan kami, maka akan ada penggantinya.

c. Subtitutes

Perusahaan kami optimis bahwa teknologi virtual shop ini belum memiliki produk pengganti dengan market share yang besar. Saingan perusahaan kami adalah pasar tradisional dan tukang sayur keliling. Tapi sekali lagi, dikarenakan kami memiliki pangsa pasar yang khusus, maka tidak akan menjadi masalah.

d. Bargaining power of costumer

Konsep virtual shop tidak memungkinkan untuk konsumen tawar menawar harga dengan pembeli karena tidak ada interaksi langsung. Tapi itu tidak menjadi alasan bahwa konsumen tidak memiliki bargaining power yang kuat. Bargaining power konsumen pada kasus kami terletak saat konsumen ingin membeli produk kami dengan harga yang tidak kompetitif, maka konsumen akan beralih ke cara konvensional.Tapi dikarenakan kami tidak perlu membayar biaya-biaya selayaknya toko konvensional, seperti listrik, air telepon dan sewa gedung, maka harga yang kami jual pun tidak akan lebih mahal dari toko konvensional.

e. Intensity of competitive rivalry

Perusahaan kami menyatakan bahwa untuk indikator yang satu ini, kami memiliki satu keuntungan besar, yaitu belum adanya kompetisi berimbang di pasar kami. Bisa dikatakan kami adalah pelopor konsep virtual shop di Indonesia. Akan tetapi untuk menutup potensi persaingan, maka strategi kami adalah dengan bekerja sama dengan convenience store lain seperti yang sudah dijelaskan di atas.

 

4.2  Saran

Future development yang akan diterapkan oleh perusahaan kami, antara lain:

  1. Bekerja sama dengan convenience store lain untuk tetap menjaga stabilitas penjualan.
  2. Membangun banyak gudang penyimpanan agar cakupan bisnis perusahaan kami menjadi seluruh Indonesia atau bahkan mendunia.
  3. Mengembangkan sebaran jumlah catalog kami menjadi di gedung-gedung perkantoran.


DAFTAR PUSTAKA

 

A, Elizabeth. 2013. How QR Codes Helped Verizon’s Sales Increase 200%. http://www.instant.ly/blog/2013/01/how-qr-codes-helped-verizon%E2%80%99s-sales-increase-200/ [5 November 2013]

Ad Age Datacenter. 2013. Video Poster. http://adage.com/datacenter/videoposter2011/#26 [5 November 2013]

DIY Marketing. 2011. Using QR Codes to Trigger Retail Sales. http://diy-marketing.blogspot.com/2011/10/using-qr-codes-to-trigger-retail-sales.html [5 November 2013]

Eurostat. 2013. “Ecommerce contribution in Europe” (infographic). http://ecommercenews.eu/infographic-ecommerce-contribution-in-europe/[9 November 2013]

Julizvar. 1998. Analisis Tingkat Kepuasan Konsumen Terhadap Produk Anti Virus. [Thesis]. BINUS.

Liputan6.com. 2013. 6 Situs e-Commerce yang Mendominasi Pasar Online Indonesia. http://tekno.liputan6.com/read/672273/6-situs-e-commerce-yang-mendominasi-pasar-online-indonesia [9 November 2013]

Laudon. 1998. Analisis Sistem. Jakarta: Salemba Empat.

Maulana, Adhi. 2013. 6 Situs e-Commerce yang Mendominasi Pasar Online Indonesia. http://tekno.liputan6.com/read/672273/6-situs-e-commerce-yang-mendominasi-pasar-online-indonesia. [9 November 2013]

Onno W. Purbo, Aang Arif Wahyudi, 2001. Mengenal E-Commerce. Elex Komputindo, Jakarta.

Robert, E. Johnson.2005. E-Commerce. http://www.cimcor.com [9 November 2013]

Singh, R., & Bamoriya, H. 2013. QR Codes in Print Advertising: Elucidating Indian Vogue Using Content Analysis. India.

Tahat, Hisham. 2005. Factors Affecting E-Commerce Contract Law. University of Aberdeen.

QR Scanner. 2013. QR Codes in Retail. http://www.qrscanner.us/qr-retail.html [5 November 2013]

http://en.wikipedia.org/wiki/Homeplus diakses tanggal 25 Januari 2014

http://www.tesco.com/ diakses tanggal 25 Januari 2014

http://www.tescoplc.com/index.asp?pageid=312 diakses tanggal 25 Januari 2014

 

 

Comments Off on PENGGUNAAN SISTEM INFORMASI PADA TESCO : HOMEPLUS

Profile photo of david47e

SISTEM PENGAMBILAN KEPUTUSAN UNTUK NVESTASI PADA PASAR MODAL

SISTEM PENGAMBILAN KEPUTUSAN UNTUK INVESTASI PADA PASAR MODAL

oleh:

David Nathanael S.                  P056131624.47E

                           

Dosen Pengajar : Dr. Ir. Agus Buono, M.Si.,M.Kom

 

Program Studi Pascasarjana

Magister Manajemen Bisnis

Institut Pertanian Bogor

Januari, 2014


LATAR BELAKANG

 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata investasi berarti penanaman uang atau modal di suatu perusahaan atau proyek untuk tujuan memperoleh keuntungan. Bertolak dari definisi tersebut, kita sebagai masyarakat awam bisa melakukan investasi, di antaranya dengan berinvestasi di pasar modal Indonesia.

Mendengar kata investasi di pasar modal, sebagian besar masyarakat Indonesia masih alergi. Ada yang menganggap hal itu adalah judi, riba, ataupun tipu-menipu. Stigma negatif dari masyarakat terhadap pasar modal Indonesia beberapa tahun terakhir ini berangsur-angsur mulai berkurang. Hal ini merupakan buah dari sosialisasi yang dilakukan oleh Bursa Efek Indonesia selaku otoritas penyelenggara kegiatan traksaksi pasar modal Indonesia dan Bapepam-LK selaku regulator pasar modal Indonesia terhadap masyarakat mengenai kemudahan, manfaat, dan pentingnya berinvestasi di pasar modal.

Pasar Modal Indonesia termasuk dalam kategori emerging market yang mempunyai potensi untuk berkembang lebih besar. Ironisnya masih minimnya jumlah investor di Indonesia yang hanya 0,5% dari total populasi membuat perkembangan pasar modal Indonesia menjadi tidak maksimal. Jika dibandingkan dengan Negara lain seperti Malaysia (15%) atau Singapura (30%) maka Indonesia jauh tertinggal. Adapun minimnya edukasi dan kurangnya pengetahuan akan cara berinvestasi yang baik menjadi salah satu hambatannya.

Kecilnya jumlah investor pasar modal Indonesia mengakibatkan aktivitas transaksi pasar modal yang didominasi oleh pemodal asing, sehingga investor Indonesia selama ini cenderung ikut arus terhadap pemodal asing yang cenderung memanipulasi arah pergerakan pasar. Oleh karena itu, pemerintah dalam hal ini Bursa Efek Indonesia dan Bapepam-LK rajin melakukan edukasi terhadap masyarakat serta melakukan roadshow ke berbagai daerah untuk mengenalkan potensi berinvestasi di pasar modal Indonesia. Jika masyarakat Indonesia sudah semakin banyak yang ‘bermain’ di pasar modal maka pasar modal Indonesia akan semakin mantap dan tidak mudah dipermainkan oleh pemodal asing.

Saat ini ada sekitar 491 saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Akan tetapi tidak seluruhnya merupakan saham yang memiliki kualitas yang baik. Kualitas saham yang baik ditentukan dari likuiditasnya dan kapitalisasi pasarnya.  Dari 491 saham yang terdaftar seharusnya dapat dilakukan penyaringan untuk mendapatkan saham-saham yang layak untuk investasi. Kriteria penyusunan dapat dilakukan dengan variable fundamental anaisis maupun variable teknikal analisis. Sehingga resiko investor terjebak ke dalam saham yang tidak memiliki kualitas mumpuni dapat di hindari.

 

Sistem Pendukung Keputusan

Sistem pendukung keputusan adalah bagian dari sistem informasi berbasis komputer (termasuk sistem berbasis pengetahuan (manajemen pengetahuan)) yang dipakai untuk mendukung pengambilan keputusan dalam suatu organisasi atau perusahaan. Dapat juga dikatakan sebagai sistem komputer yang mengolah data menjadi informasi untuk mengambil keputusan dari masalah semi-terstruktur yang spesifik.

Tahapan SPK:

  • Definisi masalah
  • Pengumpulan data atau elemen informasi yang relevan
  • pengolahan data menjadi informasi baik dalam bentuk laporan grafik maupun tulisan
  • menentukan alternatif-alternatif solusi (bisa dalam persentase)

 

Tujuan dari SPK:

  • Membantu menyelesaikan masalah semi-terstruktur
  • Mendukung manajer dalam mengambil keputusan
  • Meningkatkan efektifitas bukan efisiensi pengambilan keputusan

 


DOMAIN PERSOALAN

 

Pasar modal Indonesia saat ini tengah berkembang. Saat ini kapitalisasi pasar modal Indonesia telah mencapai Rp. 4.199,86 triliun. Sementara total transaksi harian telah mencapai Rp 6-7 triliun per hari. Akan tetapi saat ini transaksi yang terjadi sebagian besar dilakukan oleh investor asing. Sementara edukasi yang terus dilakukan sepertinya kurang menarik pada investor. Terlebih banyak calon investor yang memiliki latar belakang pendidikan bukan dari jurusan ekonomi. Hal ini membuat berbagai istilah pasar modal menjadi asing di telinga mereka.

Pasar modal Indonesia sendiri terbagi ke dalam 9  sektor. Yaitu  Agriculture yang terdiri dari 20 saham, Mining yang terdiri dari 39 saham, Basic Industry yang terdiri dari 60 saham, Miscellaneous Industry 41 saham, Consumer Goods 38 saham, Property 54 saham, Infrastruktur 47 saham, Finance 78 saham dan Trade & Investment 110 saham.

Tabel 1 : Pembagian sektor saham di Indonesia

 

Sebelum melakukan investasi selayaknya ada beberapa tahap analisa yang perlu dilakukan. Akan tetapi sering kali investor mengabaikan tahapan ini sehingga berakibat investasinya menjadi tidak maksimal.

Analisa fundamental adalah metode analisis yang didasarkan pada fundamental ekonomi suatu perusahaan. Teknis ini menitik beratkan pada rasio finansial dan kejadian – kejadian yang secara langsung maupun tidak langsung memengaruhi kinerja keuangan perusahaan. Sebagian pakar berpendapat teknik analisis fundamental lebih cocok untuk membuat keputusan dalam memilih saham perusahaan mana yang dibeli untuk jangka panjang. analisis fundamental dibagi dalam tiga tahapan analisa yaitu analisis ekonomi, analisis industri, dan analisis perusahaan.

Secara umum, analisa fundamental ini melibatkan banyak sekali variabel data yang harus dianalisa, dimana beberapa di antara variabel tersebut yang cukup penting untuk diperhatikan yaitu :

  • Pertumbuhan pendapatan (revenue growth)
  • Rasio laba terhadap saham yang beredar ( earning per share-EPS)
  • Rasio pertumbuhan EPS
  • Rasio harga saham terhadap laba perlembar saham (price earning ratio)
  • Rasio harga saham terhadap pertumbuhan laba perseroan ( price earning growth ratio)
  • Rasio harga saham terhadap penjualan (price/sales ratio)
  • Rasio harga saham terhadap nilai buku (price book value)
  • Rasio hutang perseroan ( debt ratio)
  • Margin pendapatan bersih (net profit margin)

 

 


Analisa Domain Persoalan

Salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan diatas adalah dengan pengembangan sistem berbasis teknologi dan sistem informasi, yaitu Sistem Pendukung Keputusan (SPK) yang dirancang untuk membantu para investor dalam hal pengambilan keputusan investasi sehingga tidak terjebak ke dalam investasi yang tidak memiliki dasar fundamental yang kuat.

Elemen SPK

  1. User

Investor

Divisi riset sekuritas dan aset manajemen.

  1. System

Aplikasi SPK terintegrasi dengan web yang dapat digunakan multi user serta dapat diatur fitur yang ditampilkan sesuai dengan penggunanya. Aplikasi SPK menggunakan perangkat keras berupa computer server, computer klien, perangkat komunikasi data seperti LAN Card, kabel data, switch untuk routing jaringan dll.

  1. Builder

Pembangunan sistem SPK berasal dari vendor dikarenakan lebih efisien dan efektif dalam pembuatan.

Berdasarkan analisa fundamental, data-data yang dibutuhkan antara lain laporan keuangan emiten setiap kuartal dan juga pergerakan harga saham emiten tersebut. Kemudian di hitung rasio-rasio yang umum digunakan untuk menilai saham. Berikut adalah criteria rasio-rasio yang akan digunakan.

  • Pertumbuhan pendapatan (revenue growth)

Pertumbuhan pendapatan jika diatas rata-rata industry sejenis maka dinilai cukup baik. Adapun rumus perhitungannya adalah persentase kenaikan pendapatan dari periode terakhir tahun ini dengan periode yang sama tahun lalu.

  • Rasio laba terhadap saham yang beredar ( earning per share-EPS)

Rasio ini didapatkan dari laba bersih dibagi dengan jumlah saham. Jika lebih besar dari rata-rata industry maka baik.

  • Rasio pertumbuhan EPS

Perhitungan rasio ini adalah persentase kenaikan laba bersih per saham dari periode terakhir tahun ini dengan periode yang sama tahun lalu. Jika diatas rata-rata industry maka baik.

  • Rasio harga saham terhadap laba perlembar saham (price earning ratio)

Rasio ini sangat umum digunakan dalam menilai suatu saham. Adapun perhitungannya dengan membagi harga saham terhadap laba bersih per saham. Price Earning Ratio yang lebih kecil dari rata-rata industry lebih baik.

  • Rasio harga saham terhadap nilai buku (price book value)

Rasio ini juga sangat sering digunakan sebagai indikator murah atau mahalnya suatu saham. Perhitungannya adalah dengan membagi harga saham dengan nilai buku perlembar saham berdasarkan posisi keuangan terakhir. Semakin rendah maka semakin murah saham tersebut.

 

Sedangkan untuk pembobotan masing-masing kriteria adalah seperti tabel berikut.

Tabel 2 : Pembobotan Untuk Masing-masing Kriteria

Rasio

Sumber data

Bobot nilai

Lebih besar dari rata-rata

Sama dengan rata-rata

Lebih kecil dari rata-rata

Revenue Growth Laporan keuangan 10 5 0
Earning per Share Laporan keuangan 10 5 0
Price Earning Ratio Harga saham dan perhitungan EPS 0 10 20
Price Book Value Harga saham dan Laporan keuangan 0 10 20

 

Tabel 3 : Hasil dari penilaian

Nilai Rekomendasi
41-60 Saham layak investasi
21-40 Saham dengan resiko tinggi
0-20 Tidak direkomendasikan investasi

 

Gambar 1 : Ilustrasi tampilan untuk program SPK penilaian saham.

 

Dari hasil pembuatan SPK untuk menentukan saham yang layak investasi dapat disimpulkan bahwa perhitungan dengan menggunakan analisa fundamental tersebut dapat memudahkan investor sebagai langkah awal dalam investasi. Karena SPK tersebut membantu untuk menghindarkan investor dalam membeli saham dengan fundamental yang tidak baik. Sehingga investor dapat lebih mudah memilih saham dengan fundamental baik untuk investasi. Hal ini sangat menghemat waktu dan tenaga bagi investor karena tidak perlu menelaah seluruh saham di Bursa Efek Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

 

Indonesia Stock Exchange Research Division. 2014. IDX Monthly Statistics December 2013 Volume 22 No. 12. Jakarta : Bursa Efek Indonesia

Sutyanto, David. 2013. Daulat Pasar Modal Dengan Mendongkrak Investor Lokal, Majalah Pialang Edisi 16 Desember 2013. Jakarta : PT Satu Merah Putih

Wikipedia, http://id.wikipedia.org/wiki/Analisis_fundamental diakses tanggal 19 Januari 2014

Wikipedia, http://id.wikipedia.org/wiki/Sistem_pendukung_keputusan diakses tanggal 19 Januari 2014

 

 

Comments Off on SISTEM PENGAMBILAN KEPUTUSAN UNTUK NVESTASI PADA PASAR MODAL

Profile photo of david47e

INTERNETWORKING PADA PT. DASH

INTERNETWORKING PADA PT. DASH

 

oleh:

 1.David Nathanael S.       P056131624.47E

2. Dian Nurhadiatin        P056131662.47E

3. Eri Septyawardani      P056131702.47E

4. Faldy Baskoro              P056131712.47E

 5. Purwantoro                  P056131852.47E

 6. Tyastuti Rahayu          P056131902.47E

7. Viga Fakoano               P056131912.47E

 

 

Dosen Mata Ajaran : Prof. Dr. Ir. Kudang Boro Seminar, M.Sc

 

Program Studi Pascasarjana

Magister Manajemen Bisnis

Institut Pertanian Bogor

November, 2013


BAB I

 PENDAHULUAN

 

 

1.1 Latar Belakang

Pada saat ini, segala aspek kehidupan telah mampu berkembang dengan pesatnya, perkembangan tersebut beriringan pula dengan perkembangan masyarakat dari masyarakat yang tradisional ke masyarakat yang modern. Secara otomatis perkembangan tersebut menuntut masyarakat ke arah globalisasi. Kebutuhan manusia semakin meningkat, akan tetapi manusia dituntut untuk dapat memenuhi segala macam kebutuhannya dalam waktu yang cepat sehingga dapat mengefisienkan waktu yang dimilikinya. Salah satu alat yang dapat mempermudah kehidupan manusia adalah teknologi informasi dan komunikasi.

Teknologi informasi dan komunikasi saat ini telah berkembang pesat. Internet merupakan salah satu teknologi informasi dan komunikasi. Banyak hal baru yang timbul dari berkembangnya internet, salah satunya adalah pembelian atau penjualan barang atau jasa secara online. Berbelanja barang atau jasa secara online telah menjadi alternatif untuk memenuhi kebutuhan manusia yang ingin serba praktis dan cepat. Sedangkan bagi penjual media online memberikan keuntungan berupa kesempatan pemasaran menjadi lebih luas dan efisien.Penjualan secara online berkembang baik dari segi pelayanan, efektifitas, keamanan, dan juga popularitas. Pertimbangan dunia bisnis saat ini perusahaan menggunakan internet sebagai cara untuk menjangkau pelanggan secara global.

Menurut data yang diliris biro riset Frost & Sullivan dalam Liputan6.com, ekosistem toko atau bisnis online atau yang lebih populer dengan nama e-commercedi Indonesia memiliki rata-rata pertumbuhan sebesar 17 persen per tahun. Pesatnya pertumbuhan pasar e-commerce di Indonesia didukung oleh antusiasme terhadap platform media sosial. Bisnis e-commerce merupakan model bisnis yang tidak memerlukan investasi besar baik di awal maupun operasionalnya. Hal inilah yang mendorong munculnya berbagai toko online baru yang hadir untuk bersaing di industri pasar Indonesia.

 

1.2 Tujuan

Tujuan penulisan makalah ini adalah:

1.  Mengetahui sistem teknologi informasi yang digunakan dalam DASH (Damar Shop).

2. Mengetahui competetive forces pada DASH (Damar Shop) & strategi penyelesaiannya.

 

1.3 Perumusan Masalah

1. Apakah DASH (Damar Shop)?

2. Bagaimanakah sistem informasi yang digunakan pada DASH (Damar Shop)?

3. Bagaimana analisis SWOT, value change, dan strategi DASH (Damar Shop)?

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1 QR Code

QR Code (Quick Response Code), merupakan sebuah barcode 2 dimensi yang digunakan untuk menyimpan informasi di setiap item barang. Informasi yang terdapat didalam QR Code dapat menyimpan data seperti; huruf, angka, dan binari. Sistem ini telah banyak dipakai oleh perusahaan karena kemampuannya yang dapat menyimpan informasi 10 kali lebih banyak dari pada barcode standar, dan mudah digunakannya dalam kehidupan sehari–hari. Saat ini telah banyak berkembang dengan cepat mengenai penggunaan QR Code dalam periklanan di media, terutama telepon genggam. Seiring berkembangnya industri telekomunikasi dan telepon genggam, menjadi katalis bagi penggunaan QR Code. Para pengguna hanya mengunduh decoder QR code dan bisa mendapatkan informasi dengan cara memindai. Hal ini mempermudah tim marketing dalam hal mengimplementasikan sistem pengkodean data di periklanan, dan mendorong para konsumen untuk memindai iklan tersebut.

Berikutnya, ada beberapa karakteristik yang mendorong QR Code dapat dijadikan media iklan suatu barang.  QR Code dapat dengan mudah untuk dipindai dalam 360 derajat, sehingga memudahkan pihak produsen dan konsumen. Pihak konsumen diuntungkan dengan kenyamanan dalam penggunaan dan seiring dengan itu pihak produsen dapat keuntungan dari proporsi konversi (menaikan jumlah peluang ketika konsumen memindai suatu iklan, menjadi transaksi penjualan).

 

2.1.1 Penggunaan

QR Code dapat digunakan oleh semua sistem operasi perangkat telfon seperti; iOS, android, blackberry, dan windows phone. Berikutnya, perkembangan yang pesat dalam penggunaan QR Code dapat  dilihat dalam toko virtual dan kode pembayaran. Pada toko virtual, berdasarkan studi kasus, terdapat lebih dari 14 juta pengguna telfon genggam yang menggunakan pemindai QR Code. Hal ini menjadi alasan bagi retailer untuk mengadopsi sistem tersebut. Pada kode pembayaran, QR Code dapat digunakan untuk menyimpan informasi akun perbankan dan dapat digunakan untuk transaksi pembayaran (Singh and Bamoriya 2013).

 

2.2 E-commerce

Electronic Commerce atau biasa disebut dengan e-commerce, telah berkembang pesat dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir ini. E-commerce memudahkan produsen untuk memasarkan barang kepada pasar, karena menggunakan tehnologi internet (Tahat 2005). Hal ini memungkinkan bagi para produsen dan konsumen untuk melakukan transaksi tanpa harus bertemu secara fisik.  Menurut Laudon & Laudon (1998), e-commerce adalah suatu proses membeli dan menjual produk–produk secara elektronik oleh konsumen dan dari perusahaan ke perusahaan dengan komputer sebagai perantara transaksi bisnis.

Menurut David Baum (1999, pp. 36-34) yang diterjemahkan oleh Onno W. Purbo (2001), e-commerce merupakan satu set dinamis teknologi, aplikasi, dan proses bisnis yang menghubungkan perusahaan, konsumen, dan komunitas tertentu melalui transaksi elektronik dan perdagangan barang, pelayanan, dan informasi yang dilakukan secara elektronik. Sedangkan menurut Robert (2005), e-commerce merupakan suatu tindakan melakukan transaksi bisnis secara elektronik dengan menggunakan internet sebagai media komunikasi yang paling utama.

Pada website ECARM (The Society For Electronic Commerce And Rights Management) dijelaskan bahwa e-commerce secara umum menunjukkan seluruh bentuk transaksi yang berhubungan dengan aktifitas-aktifitas perdagangan, termasuk organisasi dan perorangan yang berdasarkan pada pemrosesan dan transmisi data dijital termasuk teks, suara, dan gambar-gambar visual.Perangkat yang diperlukan untuk mendukung e-commerce adalah komputer, telepon genggam, atau device yang dapat terhubung dengan World Wide Web.

Berdasarkan artikel Eurostat (2013), perkembangan e-commerce telah mendukung proses penjualan bagi produsen secara signifikan di negara berkembang dan negara maju. E-commerce mampu menaikan tingkat penjualan dari 20-30%. Hal ini membuktikan, bahwa e-commerce menjadi alat yang efektif dan efisien untuk menunjang proses transaksi bagi berbagai perusahaan. Terdapat 4 kelompok e-commerce, yaitu: Business to Business, Business to Consumer, Business to Government, dan Consumer to Consumer.

 

2.2.1 Business to Business

Business to Business adalah proses e-commerce antara perusahaan dengan perusahaan. Hal ini memungkinkan perusahaan untuk mendesain supply chain yang lebih efektif dan efisien, seringkali proses ini berkaitan dengan barang mentah yang akan diproduksi oleh suatu perusahaan. Sebagai contoh dari B2B adalah transaksi antara distributor dengan retailer.

 

2.2.2 Business to Consumer

Business to Consumer adalah proses e-commerce yang memfasilitasi konsumen untuk mengetahui produk produk yang dijual oleh pihak produsen berikut dengan informasi mengenai produk tersebut. Saat ini e-commerce B2C telah banyak digunakan oleh para pihak retailer untuk mendapatkan potensi market yang lebih besar.

 

2.2.3 Business to Government

Business to Government memiliki persamaan dengan B2B. Perbedaan dari B2B adalah pada business to government, para produsen memberikan informasi mengenai perusahaan tersebut berikut dengan informasi produk kepada pemerintah dari level pemerintah daerah sampai dengan pemerintah pusat.

 

2.2.4 Consumer to Consumer

Consumer to Consumer merupakan salah satu dari e-commerce yang memfasilitasi pihak konsumen dengan konsumen untuk terjadinya proses jual beli barang di internet. Domain pada salah satu internet hanya menjadi media tempat bertemunya para konsumen yang ingin menjual barang, sehingga konsumen dapat memilih suatu barang dari beberapa konsumen yang menjual. Cara ini telah banyak dilakukan oleh beberapa pihak, sebagai contoh yang paling tenar adalah Ebay.

 

2.2.5 Transaksi Pembayaran e-Commerce

Menurut Julizvar (1998), konsultan dari Hewlett Packard (HP) Indonesia untuk terciptanya sistem pembayaran via internet memang dibutuhkan kesepakatan berbagai pihak, terutama dari pihak lembaga keuangan, merchant dan konsumen. Pihak-pihak lainnya yang biasanya terlibat untuk mendukung sistem pembayaran internet adalah penyedia sertifikat digital, baik untuk Visa (misalnya VeriSign) maupun MasterCard (misalnya GTE) dan perusahaan pemroses transaksi kartu kredit.

Metode Three Party Payment System atau disebut juga verifikasi pihak ketiga, yaitu terdapat pihak ketiga yang berfungsi sebagai tempat atau gerbang pembayaran (payment gateway).Cara kerjanya yaitu cardholder memberikan informasi credit cardkepada pihak ketiga dan payment gateway akan melakukan otorisasi lalu mengirimkan hasil otorisasi berupa suatu kode kepada merchant, kemudian merchant akan mengirimkan barang kepada pembeli (cardholder). Salah satu contoh adalah menggunakan SET (Secure Electronic Transaction).

 


BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

3.1 Profil Perusahaan

PT.Damar Enterprise (Perseroan) merupakan perseroan terbatas yang berstatus perusahaan tertutup (closely-held company) yang bergerak dalam bidang perdagangan retail berdomisili di Jakarta, dan memiliki produk dengan merek “DASH” (Damar Shop) dan “DART” (Damar Retail Shop). Pada saat ini, PT. Damar Enterprise (Perseroan) memfokuskan diri dalam memasarkan produk kebutuhan pokok secara online melalui media elektronik dan sistem infromasi terpadu.Selain itu,PT. Damar Enterprise (Perseroan) juga memiliki toko fisik yang berfungsi ganda sebagai gudang dan sarana belanja bagi masyarakat sekitar.Perusahaan ini didirikan pada tahun 2012 dengan visi dan misi untuk menjadi penyedia bahan kebutuhan pokok sektor retail secara online terkemuka.Perusahaan ini beroperasi dengan sistem online shop yang terintegrasi dengan berbagai sistem operasi seperti android, iOS, windows 8, blackberry maupun sistem informasi sederhana dengan menggunakan teknologi web base. Selain itu untuk mendukung penyaluran barang perusahaan juga memiliki toko fisik yang diyakini akan menjadi nilai tambah.

Saat ini perusahaan mencangkup area pemasaran di Bodetabek dengan toko pusat berada di Bogor dan dua toko fisik yang menjadi pusat penyaluran barang yang terdapat di Tangerang dan Bekasi. Sistem online akan didukung dengan keberadaan toko fisik untuk pengaluran barang ke konsumen.

 

3.2 Bisnis Perusahaan

Perusahaan hingga saat ini menjual bahan kebutuhan pokok yang saat ini fokus pada pemesanan secara online. Perusahaan berencana untuk mengembangkan ke produklain seperti fashion, elektronik dan lainnya setelah dikenal dan dipercaya masyarakat banyak.Keunggulan perusahaan ini adalah model bisnisnya yang unik.Perusahaan mengandalkan online shop yang didukung dengan sistem e-commerce. Adapun alasan kenapa perusahaan memilih e-commerceadalah :

1. Biaya operasional yang cenderung rendah karena tidak harus melakukan investasi ke toko fisik.

2. Segmen pasar yang berbeda dengan yang sudah ada.Saat ini barang kebutuhan pokok cenderung di pasarkan secara tradisional.

3. Area pemasaran yang luas dan langsung mencapai konsumen sasaran.

Selain itu, perusahaan juga menargetkan pangsa pasar yang tersegmentasi. Adapun target konsumen DASH adalah konsumen kelas menengah yang tidak memiliki waktu untuk berbelanja. Studi Bank Dunia menyebutkan, kelas menengah Indonesia tahun 2012 adalah 56,5 persen dari 237 juta penduduk. Pada tahun 2003 jumlah kelas menengah di Indonesia adalah 81 juta jiwa dan kini menjadi 134 juta jiwa atau tumbuh 65 persen selama sembilan tahun. Hasil survei Litbang Kompas yang dilakukan Maret-April lalu di enam kota besar (Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Surabaya, Medan, dan Makassar) juga menunjukkan kisaran jumlah yang sama. Kelas menengah berjumlah 50,3 persen dan kelas menengah atas 3,6 persen, sisanya merupakan kelas atas (1 persen), bawah (39,6 persen), dan sangat bawah atau kelas yang betul-betul miskin (5,6 persen). Hal tersebut menunjukkan bahwa dominasi jumlah kelas menengah merupakan tingkat yang terbesar di Indonesia.

Kelas menengah yang terbentuk saat ini merupakan perpaduan berbagai unsur.Sebagian merupakan kelas menengah yang lahir dari kalangan menengah, sebagian merupakan kelompok yang baru naik kelas dari bawah menjadi menengah dan dalam jumlah lebih sedikit adalah mereka yang diturunkan oleh orangtua kelas atas atau menengah atas. Meski sedikit, pengaruh mereka signifikan menularkan gaya hidup kelas atas kepada kelas menengah.Kelas menengah juga merupakan perpaduan antara mereka yang mengalami langsung dampak krisis ekonomi dan mereka yang ketika krisis terjadi belum memiliki tanggung jawab pekerjaan karena masih berusia 0-17 tahun.Kelompok muda pra krisis inilah, terutama yang kini menempati posisi sebagai warga kelas menengah atas yang saat ini menjadi kelompok paling antusias membeli barang mewah. Hanya sekitar 2 persen dari kelompok muda kaya itu yang tidak memiliki gadget pintar (smartphone) sekelas Blackberry, iPhone, atau Samsung Galaxy, selebihnya memiliki satu, dua, atau tiga ponsel cerdas dan mahal ini.

Jadi saat ini pangsa pasar untuk kelas menengah yang dapat bertransaksi dengan online shop sangat besar.Karena hampir seluruh kelas menengah memiliki fasilitas gadget dan koneksi elektronik yang memungkinkan untuk bertransaksi secara elektronik.Akan tetapi, kami melihat banyaknya online shop yang ada di Indonesia saat ini.Oleh karena, itu kamu memutuskan untuk lebih melakukan segmentasi dengan memfokuskan diri ke masyarakat kelas menengah yang saat ini tidak memiliki waktu untuk berbelanja. Dalam hal ini adalah para pekerja di Bodetabek yang sehari-sehari menghabiskan waktu hampir lebih dari 14 jam di luar rumah. Saat ini terdapat lebih dari 5,4 juta penglaju yang setiap hari pergi dan pulang ke Jakarta. Dapat dibayangkan jika setiap orang bekerja sekitar 10 jam sehari, kemudian menghabiskan waktu untuk pulang pergi selama 4 jam setiap hari. Tentu mereka tidak memiliki waktu untuk pergi berbelanja setiap hari ke pasar.

Saat ini dengan besarnya tuntutan hidup membuat setiap orang harus bisa memanfaatkan waktu dan uang seefisien mungkin.Pilihan bagi para penglaju yang lebih praktis adalah dengan makan di luar, namun hal ini tidak efisien dalam hal ekonomi.Solusi cerdas yang DASH tawarkan adalah dengan mengantarkan barang pesanan konsumen langsung ke rumah sehingga konsumen tidak perlu menghabiskan waktu untuk pergi ke pasar.

 

 

 

Gambar 1 : Segmen Pasar DASH

 

 

Keuntungan dengan berbelanja di Damar Shop adalah :

1. Menghemat waktu untuk berbelanja ke toko fisik.

2. Menghemat biaya untuk makan sehari-hari karena tidak perlu makan di restoran setiap hari.

3. Mengantisipasi dari kemungkinan untuk mengkonsumsi makanan yang tidak sehat, higienis.

4. Menjaga kehalalan makanan yang kita konsumsi.Saat ini masih banyak tempat makan dan restoran yang belum teruji kehalalannya dan belum memiliki sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).

5. Kualitas dari produk Damar Shop adalah baik karena menggunakan produk organik dan berasal dari supplier yang memiliki kredibilitas yang baik.

Cara bertransaksi di DASH sangat mudah dan efisien. Karena target kami adalah kelas menengah yang sudah tentu memiliki fasilitas gadget dan teknologi yang memungkinkan untuk melakukan transaksi secara online. Andaikan seorang perempuan karir yang telah berkeluarga tinggal di Bogor dan bekerja di SCBD Sudirman Jakarta. Perempuan ini harus berangkat jam 7 pagi untuk dapat mencapai tempat kerja jam 9 pagi. Kemudian dia baru pulang jam 6 sore dan tiba di rumah pukul 8 malam. Sebenarnya dia memiliki waktu untuk memasak karena rata-rata orang tidur pukul 10 dan 11 malam.Akan tetapi karena waktunya sudah habis untuk perjalanan dan bekerja dia tidak memiliki kesempatan untuk berbelanja.

DASH dengan sistem katalog online memungkinan dia tetap berbelanja sehingga dia dapat tetap memasak dan menyajikan hidangan yang halal dan bergizi untuk keluarganya.Dia hanya perlu saat perjalanan pergi membuka aplikasi DASH di gadget miliknya sepanjang perjalanan.Kemudian dia memilih produk-produk yang dia butuhkan untuk memasak nanti malam. Jika dia telah memilih, pembayaran akan dilakukan secara online dengan otorisasi dari Visa dan Mastercard. Jadi dia tidak perlu repot-repot pergi ke bank untuk transfer dana untuk membayar pesanannya. Kemudian barang yang dia pesan akan DASH antarkan pada sore hari atau malam hari saat dia pulang ke rumah. Sebuah efisiensi waktu dan ekonomi yang menarik.

DASH juga menawarkan sistem paket untuk memudahkan para ibu berbelanja. Terkadang untuk membuat suatu menu popular seperti sup ayam, sayur asam hingga sambal balado menjadi permasalahan sendiri karena kita tidak mengetahui bahan-bahan yang dibutuhkan dan takaran yang tepat. Semisal untuk membuat sup ayam hanya dibutuhkan 1 butir kentang besar, dalam berbelanja online kita diharuskan untuk membeli minimal 1 ons. Akan tetapi, DASH menawarkan solusi yang dapat menjadi terobosan dalam berbelanja secara online yaitu dengan menyediakan paket–paket yang memudahkan dalam berbelanja.

Contoh Untuk Membuat Sayur Asam.

Bahan bahan :

–          2 buah jagung manis, di potong potong besar

–          2 sendok makan kacang tanah

–          75 gr kacang panjang, dipotong kira kira 3cm

–          1 buah labu siam, dikupas dan potong seperti dadu

–          2 sendok makan buah melinjo

–          daun melinjo 15 lembar ( secukupnya)

–          3-4 buah cabe ijo besar besar, dipotong potong kira kira 2cm

–          3 cm lengkuas, dimemarkan dulu

–          2 lembar daun salam

–          4 sendok makan air asam

–          1,5 liter air

 

Bumbu yang dihaluskan untuk resep sayur :

–          3 siung bawang putih

–          6 siung bawang merah

–          1 sendok teh terasi bakar

–          3 cabe merah

–          garam secukupnya

–          gula merah sisir, 1 sendok makan

Jika di lihat dari menu diatas, untuk memasak sayur asam dibutuhkan 2 sendok kacang tanah.DASH memberikan solusi dengan menyediakan paket yang berisi bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat.Jadi konsumen dapat membeli beragam paket masakan yang sudah disediakan dan hanya tinggal meraciknya di rumah. Selain itu DASH juga memberikan bonus cara meracik setiap resep paket yang dibeli. Metode seperti ini juga menjamin kesegaran setiap bahan yang akan diolah karena DASH dalam setiap paket selalu menggunakan bahan yang segar.

Untuk memancing minat beli konsumen, DASH juga melakukan inovasi dalam bidang pemasaran. DASH akan melakukan e-marketing dan marketing dengan menggunakan pamflet-pamlet dan brosur. Dalam hal ini DASH akan menyebarkan dan memasang iklan di berbagai moda transportasi missal yang digunakan oleh para komuter.

Ada hal yang unik dalam sistem pemasaran DASH. DASH akan bekerja sama dengan beberapa operator bis dan kereta untuk dapat menempelkan poster interaktif. Dalam hal ini pada poster promosi DASH ada QR Code yang jika di scan akan terhubung dan memberikan promo. Hal ini diyakini akan menjadi sesuatu yang menarik untuk para calon konsumer. Selain itu keunggulan dari DASH adalah dukungan penuh dari DART. DART (Damar Retail Shop) merupakan toko fisik yang saat ini berada di 3 lokasi yang strategis yaitu di Bogor, Tangerang dan Bekasi. DART sendiri merupakan toko yang menjual kebutuhan pokok dengan kualitas dan harga yang kompetitif.  DART Bogor merupakan pusat dari distribusi barang yang dipasarkan oleh Damar Retail Shop. Jadi alur distribusi barang yang dikelola oleh Damar Shop baik secara online maupun fisik adalah seperti ini.

Gambar 2 : Alur Distribusi Barang

 

Jangkauan pemasaran DASH karena dibantu dengan posisi DART yang strategis menjadi semakin luas.DASH dapat menjangkau area kantong-kantong komuter seperti Tangerang, BSD, Bekasi, Cibubur, Cikarang, Depok, Cibinong dan Bogor.

 

3.3 Sistem Informasi Perseroan

 3.3.1 Stake Holder

Sebagai sebuah entitas, perusahaan ini melibatkan stake holder yang turut mendukung jalannya bisnis ini. Keterlibatan stakeholder ini mulai dari produsen, pemasok sampai ke pelanggan. Secara singkat akan dijelaskan stakeholder yang terlibat seperti di bawah ini:

–    Produsen; sebagai pemasok langsung untuk produk-produk yang bisa secara langsung dapat di beli tanpa melalui distributor produk tersebut.

–    Suplier/distributor; sebagai pemasok untuk produk yang proses pembeliannya tidak bisa langsung ke produsen dan haarus melalui jaaringan distribusi yang ditunjuk untuk menjual produknya dari produsen.Seperti diketahui,supplier dari bisnis ritel atau convenience store adalah berbagai perusahaan yang memproduksi atau mendistribusikan komoditas pertanian, seperti buah-buahan dan sayur-sayuran.

–    Perusahaan distribusi dan logistik; yang menjalankan supply chain. Stake holder ini akan menjadi parter utama dalam menjalankan pengangkutan pasokan barang dan management suply chain sekaligus untuk malakukan pengiriman pesanan ke pelanggan.

–    Penyelenggara system komunikasi; stake holder ini menyelenggarakan jasa telekomunikasi dan pertukaran informasi untuk melakukan transaksi bisnis virtual ini. Ada beberapa provider yang akan terlibat misalnya penyelenggara sistem komunikasi hanheld (handphobe) sebagai interface yang menghubungkan pelengan dengan perusahaan virtual shop online.

–  Penyelenggara komunikasi digital(internetprovider); berpartisipasi dalam penyelenggaraan bisnis ini mulai dari penerimaan order dari pelanggan, pembayaran online, pengelolaan pengadaan barang dan dan distribusi barang.

–    Bank; proses pembayaran online ini akan melibatkan bank sebagai pelaksana trasaksi keuangan sebagai komitment setelah transaksi pembelian dilakukan. Bank juga akan perfungsi sebagai penjamin pemnbayaran ke suplier dan produsen.

–    Pelanggan; adalah target pasar yang akan membeli produk yang dipasarkan oleh perusahaan.Pelanggan dari sistem ini adalah individu. Kami khususkan lagi kustomer yang menjadi sasarannya adalah individu-individu yang sibuk, yang kurang memiliki waktu untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari.

 

3.3.2 Network

            Dalam menjalankan bisnisnya DASH yang mengemukanan sistim informasi sebagai infrastruktur utama mengunakan berbagai jenis layanan seperti dijelaskan dalam gambar berikut:

Gambar   : Jaringan komunikasinSistem Informasi DASH

–          Intranet

Jaringan intranet digunakan untuk komunikasi antara main server dan gudang penyimpanan terdekat dengan pemesan atau kustomer. Ketika kustomer memesan barang, maka secara otomatis device kustomer akan mengirimkan specific customer number yang akan terbaca di main server sebagai data pesanan atau invoice. Main server akan menginfokan dan mengirimkan data pesanan kepada server di gudang yang terdekat dengan alamat pengiriman barang.

–          Extranet

Extranet dalam proses bisnis ini berguna untuk menghubungkan supplier dengan kustomer dan bank.

Hubungan antara supplier dan toko ini dihubungkan oleh extranet yang berguna untuk melihat jumlah barang yang tersedia dalam setiap gudang. Dengan dukungan jaringan ini, maka kami sebagai pelaku bisnis tidak perlu memesan barang dengan menggunakan telpon lagi, tapi cukup order by web yang terintegrasi dengan supplier.

Untuk kelancaran pembayaran, maka extranet ini berguna sebagai penghubung antar bank dan sistem informasi akuntansi kami. Dikarenakan sistem pembayarannya menggunakan sistem cashless, maka kustomer wajib memiliki minimal kartu debet dari bank yang bekerja sama dengan kami. Secara otomatis sistem akan mendebet tabungan kustomer dan akan mengkreditkan rekening perusahaan.

–          Internet

Internet dalam bisnis kami adalah jaringan utama yang menghubungkan antara perusahaan dengan kustomer. Tanpa internet, maka secara langsung perusahaan kami tidak akan memiliki kontak langsung dengan kustomer, yang artinya tidak akan ada penjualan.

 

Jaringan internet yang digunakan adalah jaringan seluler yang terhubung dengan mainserver kami. Kostumer menggunakan jaringan ini untuk memesan barang yang diinginkan dan internet akan secara langsung mengirimkan pesanan tersebut ke jaringan kami.

 

3.3.3 Technology

  1. Web

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, untuk jaringan pemesanan dalam bisnis kami adalah dengan menggunakan jaringan selular. Kostumer cukup memfoto QC Code yang tertera dalam product catalog yang tersebar di Jabodetabek.

Seperti yang pada gambar 4, kostumer akan memilih pesanan mereka dan akan memasukan daftar belanja mereka kedalam keranjang belanja secara virtual. Setelah melakukan verifikasi dan melakukan pembayaran secara debet tabungan atau menggunakan kartu kredit, maka secara otomatis pesanan tersebut akan terekam ke main server dan kemudian diteruskan kepada storage server yang kemudian akan diproses untuk dikirimkan kepada pemesan.

  1. Short Message Service (SMS)

Selain web sebagai sarana utama dalam bertransaksi jual beli, kami akan secara berkala mengirimkan short message service (SMS) kepada para pelanggan. Isi SMS ini berupa promosi-promosi barang atau program-program berhadiah yang ada di toko kami. Namun pelanggan tidak bisa memesan barang melalui SMS, pemesanan dan pembelian barang hanya bisa dilakukan dengan memfoto QRcode.

 

3.3.4        Benefit

 

  1. 1.    Core Company

Bagi perusahaan kami, tentunya sistem belanja QC code virtual shop ini sangat menguntungkan. Selain cara baru dalam berbelanja yang belum pernah ada sebelumnya di Indonesia, cara ini akan menghemat dari sisi pengeluaran tetap perusahaan. Maksudnya adalah dengan QC code virtual shop, kami tidak perlu membangun toko disetiap pemukiman penduduk. Cukup dengan sistem pengantaran kerumah, kami sudah bisa melayani pelanggan. Tidak perlu lagi kami survey tempat untuk membangun toko, membayar tagihan-tagihan tetap bulanan, atau bahkan membangun toko itu sendiri.

Selain keuntungan dari segi fisik bangunan, sistem QC code virtual shop akan meningkatkan angka penjualan bagi perusahaan. Secara signifikan angka penjualan akan meningkat karena pelanggan bisa mengakses kegiatan jual beli dimana saja selama tersedia catalog dan perangkat handphone.

Bisnis e-commerce yang dikembangkan ini sesuai dengan target market yang di buat dan pengguna yang akan menjadi calon pembeli produk yang kita tawarkan. Dari analisa rantai nilai (Value Chain analysis) dapat di definisikan benefit yang akan diterima oleh perusahaan dengan menjalankan bisnis ini.

1. Revenue, dalam skala bisnis keuntungan dapat di ambil dari berbagai rantai yang terjadi selama bisnis ini berjalan. Tentu saja utamanya dalah pendapatan dari selisih harga jual dan harga beli yang terjadi pada semua transaksi yang ada.

2. Iklan, perusahaan ini menggunakan sistem virtual store dimana katalog produk yang di tawarkan dapat di display melalui beberapa metode.

– Brochure: perusahaan menggunakan brosur yang sudah dilengkapi dengan barcode untuk trasaksi pembelian oleh user dengan menggunakan hand phone.

– Pamflet dan poster yang di pasang di lokasi strategis dimana target customer berada. Dari pemasangan pamflet dan brosur ini perusahaan bisa menarik fee untuk promosi produk kepada produsen dari produk yang kita pasarkan.

3. Cost saving, dengan menggunakan teknologi informasi semua transaksi denan pelanggan dapat dilakukan secara vitual dengan tidak mengunakan tenaga kerja sehingga bisa menghemat cost operasional perusahaan yang pada akhirnya akan meningkatkan keunggulan perusahaan dari sisi cost dan harga jual.

4. Ketepatan delivery, dengan menggunakan ERP yang di padukan dengan suply chain untuk kepentingan logistik dan distribusi produk yang diperjual belikan, paling tidak perusahaan bisa mendapatkan dua benefit;

– Jaminan akan adanya sistem delivery yang handal sehingga tingkat kepastian pengiriman barang ke pelanggan lebih dapat andalkan.

– Jaminan akan kepastian untuk mendapatkan barang dari suplier atau produser yang lebih terpercaya karena sudah ada sistem yang mengatur secara online atas semua produk yang di butukan.

5. Sistem pembayaran online memungkinkan perushaan nntuk menerima pembayaran saat transaksi dilakukan. Dengan bekerjasama dengan online banking juga memudahkan pelanggan untuk melakukan pembayaran dengan relatif mudah.

 

 

  1. 2.    Stakeholders

Seperti ditabulasikan pada gambar 9, bahwa perkembangan kepemilikan mobile phone pada tahun 2015 akan mencapai 4.85 billion user. Itu artinya lebih dari setengah umat manusia di planet ini (67% dengan jumlah populasi sebersar 7.25 billion ditahun 2015) akan menggunakan handphone. Wilson Kerr, seorang pakar dalam urusan pembangunan situs dan e-commerce­ menyatakan bahwa m-commerce akan meledak dikemudian hari sehingga ada baiknya seluruh perusahaan yang bergerak dibidang e-commerce­ perlu menjadi perusahaan yang bergerak dibidang m-commerce (diy-marketing.blogspot.com). Hal ini akan sangat berkaitan dengan jumlah transaksi perbankan yang bekerja sama dengan persusahaan kami.

Bayangkan bila akan banyak orang, terutama wanita karir yang membawa handphone atau tab dan mereka bisa berbelanja distasiun kereta atau terminal tanpa harus menenteng keranjang atau kantong plastik. Mereka cukup memfoto QR code dari komoditi yang akan mereka beli dan menunggu dirumah. Jumlah transaksi perbankan mereka, terutama kartu kredit akan meningkat signifikan. Contoh nyata penerapan QR code dapat meningkatkan penjualan adalah pada perusahaan Verizon. Penjualan Verizon mengingkat 200% dalam jangka waktu satu minggu promosi. Bila diuangkan maka pendapatan Verizon bertambah US$ 35,000 untuk biaya promosi sekitar US$ 1000. Verizon menggunakan sarana social media seperti Facebook untuk promosi barangnya (www.instant.ly).

Benefit yang lain juga akan didapatkan oleh stakeholder tapi lebih banyak mereka menerima benefit atau manfaat dari penggunaan jasa yang merekan tawarkan ke perusahaan. Sebagai contoh Bank akan menerima lebih banyak lairan transaksi keuangan dalam proses pembayaran, perusahaan logistic dan suply chain akan menjalin bisnis dengan perusahaan dengan menjadi bagian dari sistem expedisi barang yang di perdagangkan. Perusahaan internet dan telekomunikasi akan menerima lebih banyak income dari penggunaan pelayanan mereka yang makin meningkat.

 

 

3.3.5. Strategic

 

  1. 1.        Analisis competitive force

 

Gambar 11 : Porter five forces diagram

Sumber: www.google.com

Potential Entrants

Bisnis dengan menggunakan QR code adalah bisnis dengan dengan menggunakan teknologi dan sistem informasi. Dikarenakan perusahaan kami bergerak dibidang distribusi pangan dan sudah memiliki ukuran tersendiri dalam produknya, maka untuk potensi ancaman dari pendatang baru akan berkurang. Karena tidak banyak toko ritel atau convenience store yang rela menginvestasikan uang mereka untuk teknologi QR code ini. Untuk kedepannya juga kami akan bekerja sama dengan beberapa convenience store demi kemudahan bertransaksi.

 

Suppliers

Tidak bisa dipungkiri bahwa ketergantungan kami akan supplier cukup besar. Untuk menjaga komoditas kami tetap dalam keadaan standar minimum perusahaan, maka kami akan banyak membutuhkan supplier. Perusahaan kami pun kurang memiliki kekuatan untuk tawar menawar dengan supplier karena ketergantungan kami cukup besar.

 

Subtitutes

Perusahaan kami optimis bahwa teknologi virtual shop ini belum memiliki produk pengganti dengan market share yang besar. Saingan perusahaan kami adalah pasar tradisional dan tukang sayur keliling. Tapi sekali lagi, dikarenakan kami memiliki pangsa pasar yang khusus, maka tidak akan menjadi masalah.

 

Bargaining power of costumer

Konsep virtual shop tidak memungkinkan untuk konsumen tawar menawar harga dengan pembeli karena tidak ada interaksi langsung. Tapi itu tidak menjadi alasan bahwa konsumen tidak memiliki bargaining power yang kuat. Bargaining power konsumen pada kasus kami terletak saat konsumen ingin membeli produk kami dengan harga yang tidak kompetitif, maka konsumen akan beralih ke cara konvensional.

 

Intensity Of competitive rivalry

Perusahaan kami menyatakan bahwa untuk indikator yang satu ini, kami memiliki satu keuntungan besar, yaitu belum adanya kompetisi berimbang di pasar kami. Bisa dikatakan kami adalah pelopor konsep virtual shop di Indonesia

 

  1. 2.    Strategi mengatasi competitive force

Potential Entrants

Untuk membendung ancaman perdagangan dari pendatang baru, maka kami akan membuat jaringan bisnis yang lebih besar. Contohnya adalah kami mengambil konsep virtual shop dari Korea Selatan. Masyarakat Korea Selatan cukup memfoto QR code pada catalog atau banner yang terletak di stasiun-stasiun atau terminal dan mereka akan mendapatkan semacam notifikasi di handphone  mereka.

 

Suppliers

Tidak banyak cara untuk perusahaan kami melakukan tawar menawar dengan suppliers. Karena suppliers adalah rantai utama kami dalam menjalankan bisnis. Tanpa mereka, bisnis kami akan tersendat karena tidak adanya komoditi yang akan kami jual. Yang bisa kami lakukan adalah memperbanyak jumlah suppliers agar pada saat satu tidak bisa memenuhi kebutuhan kami, maka akan ada penggantinya.

 

Subtitutes

Dikarenakan kami memiliki pangsa pasar tersendiri dan memiliki tempat berjualan sendiri, maka untuk barang pengganti bagi perusahaan kami tidak akan menjadi masalah yang besar. Karena saingan perusahaan kami adalah pasar tradisional dan tukang sayur keliling. Tapi sekali lagi, dikarenakan kami memiliki pangsa pasar yang khusus, maka tidak akan menjadi masalah.

 

Bargaining power of costumer

Secara jelas kami menyatakan bahwa kekuatan tawar menawar konsumen secara konvensional hampir tidak ada. Bargaining power of costumer dimiliki saat konsumen merasa barang yang kami jual harganya tidak kompetitif, maka konsumen akan beralih ke cara konvensional. Tapi dikarenakan kami tidak perlu membayar biaya-biaya selayaknya toko konvensional, seperti listrik, air telepon dan sewa gedung, maka harga yang kami jual pun tidak akan lebih mahal dari toko konvensional.

 

Intensity Of competitive rivalry

Dikarenakan perusahaan kami adalah pelopor dari virtual shop, maka kompetisi dengan pesaing secara langsung tidak akan terjadi. Akan tetapi untuk menutup potensi persaingan, maka strategi kami adalah dengan bekerja sama dengan convenience store lain seperti yang sudah dijelaskan diatas.

 

3.4 Analisa SWOT

Gambar 12 :  Analisis SWOT Damar Shop

 

 

Kekuatan dan Peluang: Bisnis perusahaan ini mampunyai kompetitiveness yang lebih baik dibandingkan dengan toko fisik yang perlu investasi dan pegawai yang harus di biayai dan akan membebani biaya penjualan produk secara keseluruhan. Sementara itu peluang muncul dengan sangat baik karena bertambahnya jumlah populasi penduduk dengan kategori tingkat ekonomi menengah yang sibuk dan melek teknologi. Dengan anaisa ini perusahaan akan mengembangan bisnisnya dengan membuka lebih banyak servise point/gudang untuk menjangkau lebih banyak pelanggan dan mempercepat pengiriman barang sampai pelanggan menjadi dalam hitungan jam saja.

 

Kelemahan dan Peluang: Belum dikenalnya sistem belanja ini oelh masyarakat luas sementara jumlah pelanggan potensial begitu banyak dan belum tersentuh, maka perusahaan harus melakukan pengenalan sistem belanja yang baru dan memperkenalkan mobile shoping dan virtual shop dari DASH ini sebagai satu paradigma berbelanja yang baru dan lebih efisien. Untuk itu perusahaan akan menganggarkan biaya untuk melakukan promosi baik melalui media jejaring sosila, web site, sms, pamfle/baner dan media masa.

 

Kekuatan dan Ancaman: Sebagai bisnis yang berbasis sistem informasi maka biaya penjualan (sales cost) akan lebih competitive dibandingkan dengan pasar swalayan. Akan tetapi jika pasar swalayan atau supermarket ini juga akan terjun menggunakan sistem yang sama dengan DASH untuk juga menjajakan produknya di dunia maya dengan sejenis virtual store mereka maka hal ini akan sangat mengancam keberlangsungan DASH. Oleh karena itu perusahaan akan melakukan pendekatan dengan perusahaan atau supermarket ini untuk menjalin kerjasama dengan melakukan internetwroking.

 

Kelemahan dan Ancaman: Ancaman akan masuknya pebisnis ritel besar ke model bisnis ini dengan kondisi sementara ini paradigma pelanggan belum berubah dari cara transaksi jual beli tradisional dan cara transaksi jual beli vitual untuk produk-produk kebutuhan pokok masih akan memberikan waktu bagi perusahaan untuk mengendalikan tingkat resiko dari kemungkinan tersebut. Akan tetapi DASH harus tetap menjalankan strategi untuk mengajak bekerja sama para pemain retail yang ada sehingga saat paradigma model bisnis ini sudah diterima masyarakat DASH sudah siap dengan melakukan kerjasama dan mencegak ritel besar masuk ke model bisnis yang sama dengan DASH.

 

 

3.5  Analisa Strategik Perseroan

 

Analisa perusahaan ini secara strategis dapat dijelaskan dalam bagan Business Model dibawah ini dimana DASH sudah menetapkan sebagai perusahaan yang bergerak di bidang e-commerce dengan menggandeng beberapa partner penting dalam bisnisnya.

 

Menurut Edward Dinu, betapa sangat dinamisnya e-commerce dewasa ini dibandingkan dengan tradisional commerce jelas terlihat dari competitive advantage yang dimiliki e-comerce: entry barrier yang sangat permisif, mudah di akses dengan investasi rendah untuk memulai bisnis ini, termasuk bisnis yang memiliki cash cycle relatif cepat dengan tingkat pengembalian modal yang baik meskipun dengan margin yang rendah.

 

Seperti terlihat dalam bisnis model DASH bahwa perusahaan ini menggunakan ‘partner dalam menjalankan bisnisnya sehingga scara keseluruhan cost yang  terjadi menjadi kecil, akan tetapi perusahaan ini juga tidak bisa menjual barangnya dengan harga yang sama dengan supermarket dan perusahaan ritel bear lainnya karena salah satu Competitive Advantage dari DASH yang harus di pertahankan adalah “Cost Leadership”.

Dalam konteksnya sebagai perusahaan yang harus menerapkan Cost Leadership sebagai keunggulan kompetitifnya maka strategy perusahaan untuk mengembangkan bisnisnya dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Economies of Scale: Perushaan harus meningkatkan kinerja penjualan untuk menaikan revenue, hal ini bisa dilakukan dengan cara:

–       Memperbanyak channel yang harus dipakai perusahaan untuk menjangkau pelanggannya. Dalam hal ini DASH harus bisa menambah jalur distribusi dan service point (store) yang akan mendekatkan DASH dengan pelanggan.

–       Meningkatkan revenue dari penjualan produk dengan cara melakukan promosi dan menambah katalog produk di virtual store. Menambah range produk yang di tawarkan sehingga bisa memenuhi seluruh kebutuhan pelanggannya.

  1. Cost Control: Perusahaan haru melakukan kontrak jangka panjang dengan partner dan suplier agar mendapatkan purchase power dan kestabilan harga dari suplier sementara untuk harga jual DASH bisa melakukan perubahan kapanpun untuk menaikan revenue ternasuk kebebasan untuk melakuka promo dan discount. Kontrak jangka panjang ini harus dipilih untuk produk dan barang tertentu yang memang punya fluktuasi yang tidak menentu. Efek secara langsung adalah kestabilan cost dan pengendalian biaya yang lebih baik.
  2. Process Innovation:

–       DASH harus melakukan innovasi baik dalam penyedian platform pelayanan maupun media yang bisa dijadikan saranya untuk menjangkau peanggan dan melakukan transaksi karena hal ini merupaka resources utama perusahaan.

–       Mengembangkan kemudahan dalam pembayaran karena saat ini berbelanja dengan sistem vitrual dianggap sangat beresiko. Tidak ada jaminan resiko ini yang membuat virtual stor kurang diminati.

–       Delivery juga merupakan area harus di invasikan. Bisnis semacam ini masih terkendala dengan mekanisme pengiriman yang njelimet dan membutuhkan waktu yang lama untuk sampai menerima barang.

 

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

 

4.1 Kesimpulan

 

Damar Shop merupakan sebuah online shop yang terintegrasi oleh system informasi yang mumpuni. Damar Shop dalam bisnisnya didukung oleh system yang memungkinkan efisiensi dan efektifitas yang tinggi. Selain itu dukungan dari Damar Retail Shop juga membuat Damar Shop dapat kompetitif.

Penggunaan QR Code dan berbagai teknologi lainnya sesuai dengan pangsa pasar dari Damar Shop sehingga memiliki pengaruh yang positif dalam penggunaannya. DASH sendiri memang menargetkan kelas menengah yang sedang berkembang dimana pada kelas tersebut sudah memiliki kemampuan mumpuni dalam bertransaksi secara online. Damar Shop merupakan contoh kasus yang unik dimana system informasi yang baik dapat menjadi seuatu nilai tambah bagi perseroan. Sistem informasi memiliki peranan penting dalam bisnis Damar Shop.

4.2 Future Development

Future development yang akan diterapkan oleh perusahaan kami, antara lain:

  1. Bekerja sama dengan convenience store lain untuk tetap menjaga stabilitas penjualan.
  2. Membangun banyak gudang penyimpanan agar cakupan bisnis perusahaan kami menjadi seluruh Indonesia atau bahkan mendunia.
  3. Mengembangkan jumlah catalog kami menjadi di gedung-gedung perkantoran.


DAFTAR PUSTAKA

 

Eurostat. 2013.“Ecommerce contribution in Europe” (infographic). http://ecommercenews.eu/infographic-ecommerce-contribution-in-europe/[9 November 2013]

Laudon. 1998. Analisis Sistem. Jakarta: Salemba Empat.

Maulana, Adhi. 2013. 6 Situs e-Commerce yang Mendominasi Pasar Online Indonesia. http://tekno.liputan6.com/read/672273/6-situs-e-commerce-yang-mendominasi-pasar-online-indonesia. [9 November 2013]

 

Onno W. Purbo, Aang Arif Wahyudi, 2001. “Mengenal E-Commerce”, Elex Komputindo, Jakarta.

 

Robert E. Johnson, III (http://www.cimcor.com)

Singh, R., & Bamoriya, H. 2013. QR Codes in Print Advertising: Elucidating Indian Vogue Using Content Analysis. India.

Tahat, Hisham. 2005. Factors Affecting E-Commerce Contract Law. University of Aberdeen.

 

http://adage.com/datacenter/videoposter2011/#26 (5 November 2013)

http://diy-marketing.blogspot.com/2011/10/using-qr-codes-to-trigger-retail-sales.html (5 November 2013)

http://www.qrscanner.us/qr-retail.html (5 November 2013)

http://www.instant.ly/blog/2013/01/how-qr-codes-helped-verizon%E2%80%99s-sales-increase-200/ (5 November 2013)

 

 

Comments Off on INTERNETWORKING PADA PT. DASH

Profile photo of david47e

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBERHASILAN DAN KEGAGALAN PENERAPAN SISTEM INFORMASI

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBERHASILAN DAN KEGAGALAN PENERAPAN SISTEM INFORMASI

Oleh:

David Sutyanto

P056131642.47E

Dosen Mata Ajaran : Dr. Ir. Arif Imam Suroso, MSc

Program Studi Pascasarjana

Magister Manajemen Bisnis

Institut Pertanian Bogor

Desember, 2013

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar belakang

Saat ini di era globalisasi ini para pelaku usaha dituntut untuk dapat terus mampu beradaptasi dan berinvoasi dalam mengembangkan usahanya. Hal ini sangat diperlukan agar bisnis yang dijalankannya dapat terus bersaing atau bahkan menjadi pemimpin di kelasnya. Untuk itu, sebuah organisasi perusahaan harus mampu melakukan perbaikan dan perubahan yang terus menerus dalam segala hal seperti pengembangan organisasi, pengembangan sumber daya manusia, perencanaan bisnis dan lain sebagainya khususnya dalam pengembangan sistem informasi,  hal tersebut disebabkan oleh pada saat ini hampir semua bentuk dari kegiatan dalam perusahaan menggunakan teknologi sistem informasi, teknologi SI dapat membuat suatu sistem yang rumit menjadi lebih mudah, sehingga kinerja menjadi lebih efektif.

Sistem informasi sangat membantu perusahaan dalam mengolah dan menyimpan data. Serta membantu para pemangku kepentingan dalam pengambilan keputusan, seperti mengidentifikasi masalah peramalan bisnis. Sistem informasi manajemen adalah serangkaian subsistem informasi yang menyeluruh dn terkoordinasi secara terpadu yang mampu mentransformasikan data sehingga menjadi informasi. Teknologi yang semakin berkembang. Yang semakin hari semakin muncul teknologi baru menjadi suatu tantangan tersediri bagi sautu perusahaan untuk dapat mengadopsi sistem tersebut dalam kegiatan bisnisnya.

Teknologi sistem  informasi berperan sebagai alat bantu untuk memudahkan pengelolaan suatu sumber daya yang dimiliki oleh suatu organisasi. Faktor manusia akan sangat menentukan kebaikan dan kegunaan teknologi tersebut. Untuk itu, pengembangan sistem informasi membutuhkan suatu teknik dan perencanaan yang baik agar sistem yang dikembangkan tersebut dapat berjalan dan berfungsi secara efektif dan efisien serta tidak mengalami kegagalan. Terdapat beberapa faktor penentu kegagalan dan keberhasilan dari implementasi sistem informasi di suatu perusahaan (O’Brien, 2005).

 

 

1.2       Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan dari makalah ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang menjadi kunci keberhasilan dan kegagalan dalam pembangunan dan penerapan sistem informasi di suatu perusahaan. Tujuan lain yaitu sebagai salah satu tugas dari mata kuliah Sistem Informasi Manajemen. Program Pascasarjana Magister Manajemen Bisnis IPB.

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1.  Sistem Informasi Manajemen

Menurut O’Brien (2005) sistem informasi merupakan kombinasi teratur dari orang-orang,hardware, software, jaringan komunikasi, dan sumber daya data yang mengumpulkan, mengubah, dan menyebarkan informasi dalam sebuah organisasi (O’Brien, 2005).

Sistem Informasi Manajemen merupakan sistem informasi yang menghasilkan hasil keluaran (output) dengan menggunakan masukan (input) dan berbagai proses yang diperlukan untuk memenuhi tujuan tertentu dalam suatu kegiatan manajemen.

Tujuan Umum Sistem Informasi Manajemen :

•           Menyediakan informasi yang dipergunakan di dalam perhitungan harga pokok jasa, produk,dan tujuan lain yang diinginkan manajemen.

•          Menyediakan informasi yang dipergunakan dalam perencanaan, pengendalian, pengevaluasian, dan perbaikan berkelanjutan.

•           Menyediakan informasi untuk pengambilan keputusan.

Ketiga tujuan tersebut menunjukkan bahwamanajer dan pengguna lainnya perlu memiliki akses ke informasi akuntansi manajemen dan mengetahui bagaimana cara menggunakannya. Informasi akuntansi manajemen dapat membantu mereka mengidentifikasi suatu masalah, menyelesaikan masalah, dan mengevaluasi kinerja (informasi akuntansi dibutuhkan dam dipergunakan dalam semua tahap manajemen, termasuk perencanaan, pengendalian dan pengambilan keputusan).

 

2. 2 Teknologi Informasi

Teknologi informasi (TI) adalah teknologi elektronik untuk akuisis, pengolahan, penyimpanan, produksi dan distribusi informasi (Gunton, 1994 dalam Seminar, 2012). Dalam teknologi informasi melibatkan sistem komputer dan sistem telekomunikasi yang saling berhubungan. Peranan TI dalam organisasi sangat penting. Menurut beberapa pakar TI, Suka atau tidak suka, cepat atau lambat TI akan berpengaruh terhadap bisnis yang kita jalankan; Perusahaan yang tidak mengubah jalan pikirannya terkait TI tidak dapatre-engineer; Pelajaran dari seekor Ulan bahwa biasanya Ulat hijau lebih cepat tumbuh menjadi ulat dewasa (perubahan secara kuantitatif) daripada tumbuh berkembang secara kualitatif menjadi kupu-kupu (O,’Brien, 2005; Hammer; Albrech  dalam Seminar, 2012)

Menurut O’Brien (2005), bisnis dapat mengatasi berbagai ancaman tekanan kompetitif, dengan mengimplementasikan lima strategi kompetitif dasar penggunaan teknologi informasi, yaitu:

1.         Strategi kepemimpinan dalam biaya, dimana perusahaan menjadi produsen produk dan jasa yang berbiaya rendah dalam industri.

2.         Strategi diferensiasi, dimana perusahaan mengembangkan berbagai cara untuk melakukan diferensiasi produk dan jasa perusahaan dari para pesaingnya atau mengurangi keunggulan diferensiasi para pesaingnya.

3.         Strategi Inovasi, dimana perusahaan menemukan berbagai cara baru untuk melakukan bisnis.

4.         Strategi pertumbuhan, dimana perusahaan secara signifikan memperluas kemampuan perusahaan untuk memproduksi barang dan jasa, memperluas ke pasar global, melakukan diversifikasi produk dan jasa baru, atau berintegrasi ke dalam produk dan jasa yang berhubungan.

5.         Strategi persekutuan, dimana perusahaan membuat hubungan dan persekutuan bisnis baru dengan para pelanggan, pemasok, pesaing, konsultan, dan perusahaan-perusahaan lainnya

 

2.3 Keuntungan Penerapan Sistem Informasi

•           Meningkatkan efisiensi operasional

Investasi di dalam teknologi sistem informasi dapat menolong operasi perusahaan menjadi lebih efisien. Efisiensi operasional membuat perusahaan dapat menjalankan strategi keunggulan biaya (low-cost leadership). Dengan menanamkan investasi pada teknologi sistem informasi, perusahaan juga dapat menanamkan rintangan untuk memasuki industri tersebut (barriers to entry) dengan jalan meningkatkan besarnya investasi atau kerumitan teknologi yang diperlukan untuk memasuki persaingan pasar.

•           Memperkenalkan inovasi dalam bisnis

Penekanan utama dalam sistem informasi strategis adalah membangun biaya pertukaran (switching costs) ke dalam hubungan antara perusahaan dengan konsumen atau pemasoknya.

•           Membangun sumber-sumber informasi strategis

Teknologi sistem informasi memampukan perusahaan untuk membangun sumber informasi strategis sehingga mendapat kesempatan dalam keuntungan strategis. Hal ini berarti memperoleh perangkat keras dan perangkat lunak, mengembangkan jaringan telekomunikasi, menyewa spesialis sistem informasi, dan melatih end users.

 

BAB III

PEMBAHASAN

 

 3.1 Faktor-Faktor Kegagalan Dalam Pembangunan dan Penerapan Sistem Informasi

 

Di dalam buku O’Brien  dan Marakas (2009) terdapat beberapa faktor yang dapat menyebabkan sukses atau tidaknya suatu organisasi/perusahaan dalam menerapkan sistem informasi. Faktor-faktor yang menyebabkan suatu perusahaan gagal dalam menerapan sistem informasi ialah:

  • Kurangnya dukungan manajemen eksekutif dan input dari end-user
  • Pernyataan kebutuhan dan spesifikasi yang tidak lengkap dan selalu berubah-ubah
  • inkompetensi secara teknologi

 

Berikut uraian dari poin-poin diatas:

a. Kurangnya tidaknya dukungan dari pihak eksekutif atau manajemen

Semua keputusan pada suatu perusahaan berada pada pihak manajemen, jika pihak manajemen memberikan dukungan penuh pada suatu proyek sistem informasi maka hal tersebut akan memberikan dampak positif pada pengguna dan staf pelayanan teknis informasi. Dukungan tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk penghargaan terhadap waktu dan tenaga yang telah dicurahkan pada proyek tersebut, dukungan bahwa proyek akan menerima cukup dana, serta berbagai perubahan organisasi yang diperlukan. Jika pihak manajeman kurang memberikan dukungan, maka dapat mengakibatkan penerapan sistem informasi perusahaan menjadi sia-sia, karena akan menyebabkan banyak hambatan dalam prosesnya. Dengan adanya sistem informasi akan menyebabkan perubahan pada pengorganisasian pada perusahaan tersebut, jika penerapan sistem informasi tidak mendapatkan dukungan penuh, akan menyebabkan ketidakpastian dan ancaman bagi posisi dan peran para pegawainya, hal ini pun akan dapat menyebabkan kegagalan dalam penerapan sistem informasi. Oleh karna itu dukungan penuh dari pihak manajemen sangat lah penting dalam menentukan keberhasilan sistem informasi dalam perusahaan.

.

b. Keterlibatan atau input dari end user

Sikap positif dari pengguna terhadap sistem informasi akan sangat mendukung berhasil atau tidaknya penerapan sistem informasi. Sikap positif dalam bentuk dukungan dan kompetensi dari user, serta hubungan yang baik antara user dengan teknisi merupakan faktor sikap yang menguntungkan dan sangat penting bagi berhasilnya penerapan sistem informasi. Sikap positif menentukan tindakan, dan akan berkaitan dengan tingkat penggunaan yang tinggi serta kepuasan terhadap sistem tersebut.

Melibatakan pengguna dalam desain dan operasi sistem informasi adalah salah satu alternatif yang tepat untuk mendukung keberhasilan sistem informasi pada perusahaan, hal tersebut dikarnakan penguna akan memiliki kempatan untuk dapat mendisain sistem tersebut sesuai dengan kebutuhannya dan memiliki lebih banyak kesempata untuk mengontrol hasilnya, sehingga dengan demikian pada penerapanya akan lebih memudahkan penguna.

Adanya kesenjangan komunikasi antara pengguna dan perancang sistem informasi terjadi karena pengguna dan spesialis sistem informasi cenderung memiliki perbedaan dalam latar belakang, kepentingan dan prioritas. Inilah yang sering dikatakan sebagai kesenjangan komunikasi antara pengguna dan desainer, hal ini juga dapat menjadi salah satu faktor penyebab kegagalan penerapan sistem informasi.

 

c.  Perencanaan Memadai

Perencanaan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam berbagai aspek, oleh karna ini perencanaan yang memadai merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan berhasil atau tidaknya penerapan sistem informasi. Jika suatu pengembangan dan penerapan sistem informasi tidak didukung dengan perencanaan yang memadai, maka dapat menyebabkan tidak terpenuhinya  keinginan dan kepentingan berbagai pihak di perusahaan. Tanpa adanya perancanaan yang memadai penerapan sistem informasi dapat menjadi hal yang sia-sia. Pada kenyataannya sebagian besar penyedia jasa teknologi informasi kurang sensitif  terhadap manajemen perusahaan, tetapi hanya fokus pada tools yang akan dikembangkan. Kelemahan inilah yang mengharuskan perusahaan untuk mengidentifikasi secara jelas kebutuhan dan spesifikasi sistem informasi yang akan diterapkan berikut manfaatnya terhadap perusahaan. Kemauan perusahaan dalam merancang penerapan sistem informasi berdasarkan sumberdaya yang dimiliki diyakini dapat meningkatkan keunggulan kompetitif perusahaan.

 

d. Inkompetensi secara Teknologi

Kesuksesan pengembangan sistem informasi tidak hanya bergantung pada penggunaan alat atau teknologinya saja, tetapi juga manusia  sebagai perancang dan penggunanya. Bodnar dan Hopwood (1995) dalam Murdaningsih (2009) berpendapat bahwa perubahan dari sistem manual ke sistem komputerisasi tidak hanya menyangkut perubahan teknologi tetapi juga perubahan perilaku dan organisasional. Sekitar 30% kegagalan pengembangan sistem informasi baru diakibatkan kurangnya perhatian pada aspek organisasional. Oleh karena itu, pengembangan sistem informasi memerlukan suatu perencanaan dan implementasi yang hati-hati, untuk menghindari adanya penolakan terhadap sistem yang dikembangkan.

Sistem informasi harus dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan pengguna. Kompleksitas sistem bukanlah merupakan jaminan perbaikan kinerja, bahkan menjadi hambatan jika tidak didukung oleh kesiapan sumber daya manusia dalam tahapan implementasinya. Hal ini sering terjadi terutama pada perusahaan yang pengetahuan teknologi informasinya rendah. Jika pengembangan sistem informasi diserahkan pada orang-orang yang kurang berkompeten dibidangnya maka akan berakibat fatal bagi perusahaan ketika sistem tersebut telah diterapkan.Pengembangan sistem informasi sebagai salah satu sarana pencapaian tujuan perusahaan, sehingga keduanya harus relevan, serta perlu disiapkan dengan baik dan matang. Selain itu, perusahaan harus memiliki harapan yang nyata, yaitu yang ingin dicapai dan berusaha dalam meraihnya, sehingga efektivitas dari pengembangan atau penerapan sistem informasi dapat terjadi.

 

3.2 Faktor-Faktor Keberhasilan Dalam Pembangunan dan Penerapan Sistem Informasi

 

Faktor-faktor  yang menyebabkan suatu orgnisasi sukses dalam menerapkan sistem informasi  ialah:

  • Adanya dukungan dari manajemen eksekutif
  • Keterlibatan end user
  • Penggunaan kebutuhan perusahaan yang jelas
  • Perencanaan yang matang
  • Harapan perusahaan yang nyata

 

Perlu diperhatikan hal-hal apa saja yang mendukung keberhasilan pembangunan dan penerapan suatu sistem informasi itu sendiri. Keberhasilan penerapan sebuah sistem informasi sangat bergantung pada sistem apakah yang dibangun oleh perusahaan, apakah sistem ini mampu mengadaptasi kebutuhan perusahaan, mudah digunakan dan mampu menyajikan segala jenis informasi yang diperlukan. Berikut beberapa faktor yang dapat digunakan untuk mengukur keberhasilan sistem informasi :

1.         Sistem tersebut tingkat penggunaannya relatif tinggi

Dengan penggunaan yang tinggi, artinya sistem informasi yang dibangun memiliki manfaat yang sesuai dengan kebutuhan para user (dalam hal ini pegawai perusahaan) sehingga mereka menggunakan sistem ini secara sering.

2.Kepuasan para pengguna terhadap sistem

Dengan semakin meningkatnya kepuasan para user terhadap sistem yang dibangun, maka hal itu mengindikasikan bahwa sistem tersebut telah sesuai dengan kebutuhan pengguna dan merupakan indikasi keberhasilan dari sistem. Karena tidak mungkin sistem yang ada dianggap berhasil jika dalam implementasinya banyak terjadi keluhan dari para penggunanya.

3. Sikap yang menguntungkan para pengguna terhadap sistem informasi & staff dari sistem informasi

Jika para pengguna memiliki sikap yang positif terhadap sistem yang ada, maka hal tersebut merupakan indikasi keberhasilan yang kuat. Karena tidak mungkin para pengguna memiliki sifat yang positif jika sistem yang ada tidak memberi dampak yang positif serta sesuai dengan yang dibutuhkan.

 

BAB IV

KESIMPULAN

4.1 Kesimpulan

Dalam implementasi system informasi perusahaan atau organisasi harus memperhatikan beberapa faktor yang menyebabkan kesuksesan dan kegagalan penerapan atau implementasi sistem informasi. Beberapa faktor tersebut ialah: keterlibatan pengguna, dukungan manajemen eksekutif, kejelasan pernyataan kebutuhan, perencanaan, inkompetisi secara teknologi, dan harapan yang nyata serta faktor-faktor lainnya.

 

4.1  Saran

Implementasi sistem informasi perusahaan atau organisasi sebaiknya sesuai dengan kebutuhan. Jika tidak sesuai dengan kebutuhan maka akan terjadi ketidakefesienan dan ketidakefektifan informasi, yang akan menyababkan kerugian perusahaan. Agar tidak terjadi hal seperti itu, maka sebaiknya perusahaan atau organisasi melakukan perencanaan sebaik-baiknya.

 

Daftar Pustaka

E. Gani, Kemal. 2003. Investasi Rp Trilunan Itu Masih Bisa Diselamatkan. SWA 02/XIX/23 Januari – 5 Februari 2003

O’Brien, James. 2005. Management Infromation System: Managing Information Technology in the Internetworked Enterprise. Fifth Edition. McGraw-Hill.

O’Brien JA, Marakas G. 2009. Management Information sistem. Ninth edition. Boston: Mc Graw Hill, Inc.

Sugiarsono, Joko. 2003. Potret Kebingungan Investasi TI. SWA 02/XIX/23 Januari – 5 Februari 2003

 

Comments Off on FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBERHASILAN DAN KEGAGALAN PENERAPAN SISTEM INFORMASI

Profile photo of david47e

Hello world!

Welcome to Blog Mahasiswa. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging! Url your blog Blog Mahasiswa

1 Comment

Skip to toolbar